Share

Profil Letjen (Purn) Azwar Anas, Insinyur yang Banting Setir Jadi Tentara

Tim Okezone, Okezone · Minggu 05 Maret 2023 13:24 WIB
https: img.okezone.com content 2023 03 05 337 2775667 profil-letjen-purn-azwar-anas-insinyur-yang-banting-setir-jadi-tentara-EvBBi93BIG.jpg Letjen TNI (Purn) Azwar Anas. (Foto: P2K Stekom)

JAKARTA - Letjen TNI (Purn) Ir. H. Azwar Anas meninggal dunia pada hari ini, Minggu (5/3/2023) pukul 11.45 WIB. Tokoh yang bergelar Datuak Rajo Sulaiman itu meninggal dunia di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta.

Mengutip p2k.stekom, Azwar Anas¬†pernah menjabat sebagai Menteri Perhubungan Indonesia¬†pada Kabinet Pembangunan V (1988‚Äď1993) dan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat pada Kabinet Pembangunan VI (1993‚Äď1998) era Presiden Soeharto.

Sebelumnya ia menjabat sebagai¬†Gubernur Sumatra Barat¬†selama dua periode (1977‚Äď1987).

Azwar Anas lahir pada 2 Agustus 1931 di Padang yang ketika itu merupakan bagian dari Keresidenan Sumatra Barat, Hindia Belanda. Azwar adalah anak ketiga dari pasangan Anas Malik Sutan Masabumi dan Rakena Anas.

Baca juga:  Menteri Era Soeharto Letjen TNI (Purn) Azwar Anas Meninggal Dunia

Ayahnya masih memiki garis keturunan dengan Raja Pagaruyung terakhir, yakni Sutan Bagagarsyah, bekerja sebagai kepala perbengkelan kereta api di Simpang Haru, Padang. Sementara ibunya yang hanya tamatan SD berasal dari Koto Sani, Solok.

Azwar ejak kecil dibesarkan dalam keluarga yang taat melaksanakan ajaran Islam dengan didikan ayah yang berwatak keras tetapi disiplin dan didampingi ibu yang senantiasa mengayomi dan memberikan nasihat akan pentingnya agama dan tanggung jawab

Azwar menghabiskan masa kecilnya bersama keluarganya di¬†Mato Aie¬†dalam sebuah rumah yang dibangun di pinggang bukit di tepi Jalan Raya Padang‚ÄďTeluk Bayur.

Dia bersama kakak dan adiknya tidak dimasukkan ke sekolah-sekolah Belanda, melainkan dimasukkan ke HIS Adabiyah School, sebuah sekolah agama yang didirikan oleh Abdullah Ahmad pada tahun 1909.

Azwar meneruskan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi yakni masuk ke sekolah bentukan Jepang yang disebut Chu Gakko.

Pada masa awal kemerdekaan RI, Azwar dan keluarganya pindah ke Bukittinggi. Di sana, dia dimasukkan ke SMP Negeri 1 Bukittinggi, tetapi kemudian pindah ke SMP Negeri 3 Bukittinggi. Setelah tamat, ia masuk ke SMA Negeri 1 Bukittinggi.

Keluarganya sempat pindah ke Barulak, Tanah Datar, kemudian setelah gencatan senjata diberlakukan di Sumatra Barat pada 19 Agustus 1948, keluarganya kembali pindah ke Padang.

Azwar lalu bersekolah di SMA Permindo (kini SMA Negeri 1 Padang) sampai tamat pada tahun 1951. Setelahnya Azwar merantau ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikannya.

Sesampai di Jakarta, pada awalnya ia hanya bekerja sebagai petugas kebersihan di Balai Penyelidikan Kimia di Bogor. Kemudian dalam tahun-tahun berikutnya, ia menjadi asisten seorang insinyur bernama Ir. Dufont setelah membantunya membangun sebuah laboratorium di Burangrang, Bandung.

Sambil bekerja, Azwar juga memperoleh beasiswa dari Departemen Perindustrian saat itu untuk mengikuti pendidikan kimia di Fakultas Teknik Universitas Indonesia di Bandung, yang kini menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB).

Awalnya Azwar berencana menjadi dosen tetap di almamaternya. Namun pada 1959 Anas bersama ratusan sarjana diperintahkan mengikuti wajib militer oleh pemerintah menyusul diberlakukannya status keadaan bahaya darurat perang. Ia menjalani latihan pendidikan militer di Sekolah Perwira Cadangan (Sepacad) di Bogor selama enam bulan hingga 1960.

Ia lulus dan dilantik Presiden Soekarno sebagai letnan satu dalam upacara militer di Bogor. Para lulusan diberi dua pilihan yaitu aktif masuk militer atau kembali ke pekerjaan semula. Azwar memilih untuk bergabung dengan militer.

Azwar ditempatkan di Pabrik Alat Peralatan Angkatan Darat (Pabal AD) sebagai Kepala Dinas A. Setahun setelahnya, Pabal AD berganti nama menjadi Pusat Industri Angkatan Darat (Pindad). Jabatan Azwar berganti nama menjadi Kepala Bagian 5 Dinas Laboratorium Pindad.

Follow Berita Okezone di Google News

Pada 1962, Azwar naik pangkat menjadi kapten dan lima tahun selanjutnya ia berpangkat mayor corps peralatan (CPL).

Pada 1964, Azwar dipromosikan menjadi Asisten Umum Operasi Karya Pindad. Pada tahun itu, Pindad mengirimnya untuk mengikuti Kursus Peroketan Pindad. Ia terlibat dalam eksperimen pembuatan roket Achmad Yani 1 dan 2 yang diluncurkan dari Pameungpeuk, Garut.

Kemudian, ia mengikuti serangkaian kursus calon perwira menengah yaitu Kursus Latihan Perwira (Suslapa) Angkatan Darat di Cimahi dari 1967 hingga 1968, Upgrading Staf Kekaryaan Daerah (Skarda) C pada 1971, dan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) dari 1971 hingga 1973.

Pada 1967, Mayor Azwar Anas diangkat sebagai Direktur PT. Purna Sadhana Pindad, anak perusahaan Pindad dalam bidang industri sipil.

Pada 11 Juli 1970, Azwar memimpin pameran alat-alat pertanian produksi Pindad di Gedung Bina Graha, Jakarta. Presiden Soeharto sangat antusias dengan pameran tersebut.

1
2
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis Okezone.com tidak terlibat dalam materi konten ini.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini