Share

Dahsyatnya Serangan Umum Surakarta, Hancurkan Kantong-Kantong Militer Belanda di Solo

Tim Okezone, Okezone · Kamis 02 Maret 2023 05:29 WIB
https: img.okezone.com content 2023 03 01 337 2773434 dahsyatnya-serangan-umum-surakarta-hancurkan-kantong-kantong-militer-belanda-di-solo-UPhL9El2ZU.jpg Ilustrasi/ Doc: Okezone

JAKARTA - Desingan peluru masih menghantui berbagai tempat di wilayah Indonesia sebelum 11 Agustus 1949. Baku tembak antara tentara republik dengan pihak belanda masih sering terjadi sebelum tanggal tersebut.

Ketika Yogyakarta sudah dikuasai republik sebagai dampak dari Serangan Oemoem 1 Maret (1949) dan penyerahan Ibu Kota dari Belanda pada bulan Juli, tak jauh dari Yogya masih terjadi bentrokan.

 BACA JUGA:Linda: Saya Istri Sirinya Teddy Minahasa!

Khusus di Surakarta (kini Solo), bahkan terjadi adu kekuatan yang dikatakan tak kalah dahsyat dari serangan umum di Yogyakarta.

Ya, sejumlah area Surakarta banjir darah dan “panas” akibat berkobar pertempuran dahsyat selama empat hari sejak 7-10 Agustus 1949. Menggeloranya kombatan pelajar pimpinan Mayor Achmadi untuk menggencarkan serangan pada 7 Agustus pagi, merupakan serangan balasan terhadap Belanda atas penyerangan markas Gubernur Militer Kolonel Gatot Soebroto.

 BACA JUGA:Pemandangan Langka, Aurora Borealis Terlihat di Seluruh Langit Inggris

Ketika Mayor Achmadi ingin mengecek keadaan Kolonel Gatot yang dikabarkan sakit di Desa Balong, dekat lereng Gunung Lawu, dia menemukan markas sang kolonel sudah luluh lantak akibat serangan Belanda.

Namun setidaknya Kolonel Gatot dan pasukannya sudah keluar dari Desa Balong ketika serangan Belanda itu terjadi.

Seperti disadur dari buku ‘Doorstot naar Djokja: Pertikaian Pemimpin Sipil-Militer’, Belanda di bawah Letnan van Heek menggelar operasi besar dengan kode “Steenwijk”. Targetnya adalah Desa Balong yang diketahui jadi pusat gerilya, markas Kolonel Gatot dan juga tempat persembunyian pemancar radio republik.

Follow Berita Okezone di Google News

Tak ayal untuk melampiaskan revans, Mayor Achmadi yang membawahi Detasemen Tentara Pelajar (TP) Brigade XVII dan Sub Wehrkreise (SWK) 106 Ardjuna, mengampar rapat rencana penyerangan di Wonosido.

Pada saat yang sama, Presiden Soekarno menyiarkan perintah gencatan senjata. Namun lantaran kesulitan komunikasi, Mayor Achmadi tak pernah mendengar ada seruan itu.

Tanggal 7 Agustus 1949 di pagi hari dipilih Mayor Achmadi dan Surat Perintah Siasat No.1/8.Swk/A-3/Ps-49 dikeluarkan untuk menggencarkan serangan bersama sekira 2000 pasukan pelajar serta satuan dari luar Kota Surakarta.

Serangan dilancarkan Rayon Soemarto, Rayon Soehendro, Rayon Prakosa, serta Rayon Abdoel Latief yang membawahi tentara pelajar SA/CSA (Sturm Abteilung/Corps Sukarela) pimpinan Moektio, menyerang Kota Surakarta dari berbagai penjuru.

Tidak hanya sehari, pertempuran terus berlangsung hingga tanggal 8 dan 9 Agustus dengan target, mencapai posisi strategis sebelum perintah penghentian tembak-menembak dari Panglima Besar Jenderal Soedirman ditaati pada 10 Agustus 1949.

Masalah terkait komunikasi juga ternyata jadi kendala antara Mayor Achmadi dengan atasannya, Overste (Letnan Kolonel) Ignatius Slamet Rijadi. Komandan Wehrkreise III dan Brigade V/Panembahan Senopati yang bermarkas di Boyolali. Pasalnya, Slamet Rijadi juga mencanangkan serangan ke tempat yang sama – Kota Surakarta pada 10 Agustus.

Di sisi lain, Belanda yang mulai terdesak tak bisa mendapatkan kekuatan bantuan dari Semarang. Pasukan baret hijau Depot Speciale Troepen (DST) tak bisa diterjunkan dari pesawat angkut Dakota, lantaran ditembaki ketika hendak mendarat di Landasan Udara Panasan (sekarang Bandara Adisoemarmo).

Pasukan Brigade V yang dikomando Slamet Rijadi ikut beraksi sejak pukul 06.00 pagi, 10 Agustus 1949 yang disebutnya sebagai serangan “Afscheidsaanval” atau serangan perpisahan, sebelum mematuhi seruan penghentian tembak-menembak pada 10 Agustus pukul 24.00.

Hasil dari perlawanan dahsyat terhadap Belanda ini sangat menguntungkan pihak republik dengan dikuasainya sebagian besar Kota Solo.

Hingga kini, peristiwa itu selalu dikenal dengan “Pertempuran Empat Hari Surakarta” atau “Serangan Umum Surakarta”. Tanggal 10 Agustus di mana pecah pertempuran terakhir dengan Belanda sebelum pengakuan kedaulatan Desember 1947 itu, kini juga diperingati sebagai Hari Veteran.

1
2
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis Okezone.com tidak terlibat dalam materi konten ini.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini