Share

Muktamar Internasional Fikih Peradaban, Ada Tiga Persoalan yang Akan Dibahas

Tim Okezone, Okezone · Rabu 25 Januari 2023 20:20 WIB
https: img.okezone.com content 2023 01 25 337 2753058 muktamar-internasional-fikih-peradaban-ada-tiga-persoalan-yang-akan-dibahas-cc0kOr3LZx.JPG Panitia Pelaksana Muktamar Internasional Fikih Peradaban, Ahmad Syarif Munawi (foto: dok istimewa)

JAKARTA - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akan menggelar Muktamar Internasional Fikih Peradaban di Surabaya, Jawa Timur pada Senin 6 Februari 2023.

Kegiatan tersebut merupakan puncak dari rangkaian Halaqah Fikih Peradaban, yang digelar secara serial di berbagai wilayah di Indonesia sejak Agustus 2022 hingga pertengahan Januari 2023 lalu.

Panitia Pelaksana Muktamar Internasional Fikih Peradaban, Ahmad Syarif Munawi mengatakan, kegiatan ini akan membahas mengenai pentingnya melahirkan sebuah terobosan fikih yang baru, di tengah realitas saat ini yang serba baru.

“Ini mau menegaskan kepada dunia Internasional tentang pentingnya melahirkan fikih alternatif baru beserta usul fikihnya,” kata Syarif, Rabu (25/1/2023).

 BACA JUGA:Porseni NU 2023 Sukses Digelar, Rais Aam PBNU: Terus Jaga dan Perkuat Ukhuwah

Setidaknya, kata dia, ada tiga pembahasan yang akan dibicarakan dalam forum tersebut. Pertama, para ulama akan membahas pandangan filih baru terkait relasi hukum fikih dengan bentuk negara bangsa modern.

“Ini kelanjutan dari beberapa hal yang sudah diputuskan pada periode sebelumnya. Seperti Munas tahun 2019 di Banjar yang membahas istilah kafir agar tidak digunakan dalam kehidupan berbangsa negara, dan melahirkan istilah fiqih baru, yaitu "muwathin", warga negara. Bukan lagi identitas berdasarkan sentimen keagamaan, terlepas dari apapun agamanya,” terangnya.

Pembahasan pertama ini termasuk juga mengenai reformulasi pandangan hukum fikih terkait hasil konsep negara bangsa modern. Misalnya, Pancasila yang disahkan sebagai ideologi dan dasar negara.

 BACA JUGA:Kecam Pembakaran Alquran di Swedia, Ketua PBNU: Tindakan Brutal!

“Negara bangsa adalah bentuk baru yang harus dicarikan legalitas hukum keagamannya dalam fikih baru,” kata Wakil Sekretaris Jenderal PBNU itu.

Follow Berita Okezone di Google News

Kedua, pola hubungan Muslim dan non-Muslim. Dahulu, narasi yang muncul adalah perihal permusuhan dan persinggungan. Pandangan terhadap hubungan sosial keduanya ini perlu direkontekstualisasi agar bisa hidup bersama dalam satu peradaban besar dunia.

“Ini kita mencari jalan agar kita sama-sama, tidak lagi ada narasi-narasi yang sifatnya mengarah pada kebencian terhadap orang-orang yang berbeda dengan kita,” ucapnya.

Ketiga, hal yang akan dibahas adalah Piagam PBB yang dijadikan sebagai rujukan otoritatif dan sesuai dengan syariat Islam. Sebagaimana diketahui, Piagam PBB menjadi salah satu kunci kesepakatan yang dapat menghentikan Perang Dunia II.

“PBB itu organisasi besar. Apakah keputusan dan produk-produk hukum yang dikeluarkannya bisa jadi acuan yang sah rujukan hukum syariat Islam ? Ini yang nanti akan dibicarakan oleh para ulama yang hadir,” pungkasnya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini