Share

Bacakan Pleidoi Putri Candrawathi, Pengacara Ungkap Peristiwa Pemerkosaan Brigadir J Hilang dalam Tuntutan

Ari Sandita Murti, MNC Portal · Rabu 25 Januari 2023 16:45 WIB
https: img.okezone.com content 2023 01 25 337 2752893 bacakan-pleidoi-putri-candrawathi-pengacara-ungkap-peristiwa-pemerkosaan-brigadir-j-hilang-dalam-tuntutan-MhBC5KcW7J.jpg Putri Candrawathi (Foto: MPI)

JAKARTA - Tim pengacara Putri Candrawathi membacakan pleidoinya dalam sidang di PN Jaksel, Rabu (25/1/2023). Dalam pleidoi itu, tim kuasa hukum menyesalkan peristiwa kekerasan seksual yang dialami Putri Candrawathi yang hilang dalam tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU),

"Perkenankan kami menguraikan beberapa hal, poin-poin pokok yang hilang dari dakwaan dan tuntutan Penuntut Umum. Padahal, peristiwa-peristiwa tersebut didukung alat bukti yang saling bersesuaian satu dengan lainnya," ujar pengacara Putri, Febri Diansyah di persidangan, Rabu (25/1/2023).

Adapun peristiwa yang hilang dalam tuntutan Jaksa, pertama terdakwa seorang perempuan yang berperan sebagai ibu dari 4 anak dan istri dari Ferdy Sambo, keluarga terdakwa hidup berdampingan dengan ajudan dan ART dengan suasana kekeluargaan kental. Kedua, tidak hanya sekedar kepada ajudan dan ART, bentuk perhatian juga diberikan kepada keluarga ajudan dan ART yang bekerja dengan Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi.

Baca juga: JPU Sebut Putri Candrawathi Selingkuh dengan Brigadir J, Pengacara: Tuduhan Tanpa Bukti Meyakinkan

Ketiga, bermula ketika terdakwa menjalani peran sebagai seorang ibu, yang tidak melewatkan momen penting untuk mengantarkan anak ketiganya melanjutkan pendidikan di SMA Taruna Nusantara Magelang. Saat itu terdakwa berangkat dari Jakarta menuju Magelang bersama korban, saksi Richard Eliezer Pudihang Lumiu, saksi Susi dan anak ketiga terdakwa pada 2 Juli 2022.

Baca juga: Tak Dipercaya Jadi Korban Pelecehan, Putri Candrawathi: Saya Dituding Perempuan Tua yang Mengada-ada

Keempat, hari berlalu, pada 7 Juli 2022 dini hari, sebagai bentuk rasa syukur atas hari jadi pernikahan Ferdy Sambo dan terdakwa yang ke-22, Ferdy Sambo menyiapkan kejutan kepada isterinya, yaitu terdakwa, dibantu korban dan saksi Daden Miftahul Haq.

Meskipun tidak ada keempat anak terdakwa, dengan kehadiran ajudan termasuk korban dan ART yang dengan tulus dianggap sebagai anak-anak oleh Ferdy Sambo dan terdakwa.

Follow Berita Okezone di Google News

"Atas berbagai kesaksian yang dihadirkan di persidangan terdakwa tidak memberikan perbedaan kebahagiaan, baik dengan keluarga kandung maupun dengan ajudan beserta ART, hal tersebut dipandang sama bahagianya," tutur Febri.

Kelima, kondisi fisik terdakwa yang tidak sehat membuat terdakwa beristirahat di kamar terdakwa, lantai 2 kediaman Magelang. Saat terdakwa beristirahat, tanpa seizin terdakwa, korban Brigadir J dengan lancang masuk ke kamar terdakwa dan melakukan pemerkosaan kepada terdakwa.

"Terdakwa menangis dan tidak kuasa untuk melawan, bantingan oleh korban kepada terdakwa tidak bisa diabaikan, dan ancaman akan membunuh apabila melapor saudara Ferdy Sambo terlontar dari mulut korban. Terdakwa tidak pernah mengira jika rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman dan paling nyaman bagi terdakwa, justru menjadi pelataran bagi Nofriyansah Josua Hutabarat untuk melampiaskan hasrat seksualnya, dengan melakukan pemerkosaan terhadap terdakwa," jelas Febri.

Keenam, perbuatan keji, amoral, dan tidak manusiawi tersebut terpaksa berakhir ketika terdengar langkah kaki tangga yang terletak di samping kamar terdakwa. Korban panik lalu dengan akalnya, korban berusaha memanipulasi kejadian kekerasan seksual tersebut dengan memaksa membangkitkan terdakwa keluar dari kamar untuk menghadang orang naik menuju lantai 2 kediaman Magelang.

"Tidak dapat berteriak, upaya yang dapat dilakukan terdakwa dengan menjatuhkan keranjang tumpukan pakaian plastik yang berada di depan kamar terdakwa dan menendangkan kakinya ke pintu kasa dengan harapan ada seseorang yang dapat mendengarnya," paparnya.

Namun, lanjut Febri, usaha tersebut tidak membuahkan hasil, tidak ada yang dapat mendengar sumber suara tersebut. Korban selanjutnya bergegas turun, dengan posisi terdakwa duduk tergeletak pada keranjang tumpukan pakaian.

Ketujuh, kedatangan saksi Susi yang tak kuasa melihat terdakwa dalam kondisi tidak berdaya, membuat saksi Susi meminta pertolongan kepada saksi Kuat Ma’Ruf untuk membantu memapah terdakwa kembali masuk ke kamar Terdakwa. Setelah itu, saksi Kuat Ma’Ruf meninggalkan Terdakwa dan saksi Susi di kamar Terdakwa.

"Tak lama berselang, gema keributan antara Korban dan saksi Kuat Ma’Ruf mengisi keheningan kediaman Magelang," kata Febri.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini