Share

JPU Sebut Putri Candrawathi Selingkuh dengan Brigadir J, Pengacara: Tuduhan Tanpa Bukti Meyakinkan

Ari Sandita Murti, MNC Portal · Rabu 25 Januari 2023 16:17 WIB
https: img.okezone.com content 2023 01 25 337 2752867 jpu-sebut-putri-candrawathi-selingkuh-dengan-brigadir-j-pengacara-tuduhan-tanpa-bukti-meyakinkan-ykJVv5pzuy.jpg Putri Candrawathi (Foto: MPI)

JAKARTA - Dalam pledoinya, tim pengacara Putri Candrawathi membantah sejumlah tuduhan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam tuntutannya, khususnya berkaitan perselingkuhan kliennya dengan Brigadir J.

Pengacara Putri, Febri Diansyah mengatakan bahwa pihaknya perlu menyampaikan tuduhan JPU tanpa didasari bukti yang meyakinkan dan tidak berkesesuaian dengan fakta-fakta persidangan dan keterangan saksi. Sehingga menghasilkan kerugian bagi perempuan yang berhadapan dengan hukum baik secara fisik, maupun psikis Putri Candrawathi.

"Sungguh menyakitkan bagi seorang perempuan sekaligus seorang Ibu yang memiliki 4 orang anak, ketika ia menjadi korban kekerasan seksual tapi justru dituduhkan sebagai pelaku perselingkuhan tanpa bukti meyakinkan dengan pelaku," ujarnya di persidangan, Rabu (25/1/2023).

"Dituduh menjadi dalang pembunuhan dengan hanya menggunakan bukti-bukti yang rapuh, asumtif, dan manipulasi berbagai fakta-fakta persidangan atas peristiwa-peristiwa tertentu," imbuhnya.

Baca juga: Tak Dipercaya Jadi Korban Pelecehan, Putri Candrawathi: Saya Dituding Perempuan Tua yang Mengada-ada

Tim kuasa hukum Putri Candrawathi telah membaca surat tuntutan setebal 599 halaman dari JPU yang telah dibacakan pada sidang sebelumnya. Kata Febri, pada prinsipnya tuntutan itu memiliki konstruksi besar yang rapuh dalam menguraikan tuntutan.

Baca juga: Tangis Putri Candrawathi Pecah Beri Pesan ke Anak: Sabar dan Maafkan Bila Ada yang Cerca Kalian

"Padahal, peristiwa kekerasan seksual benar terjadi dan didukung oleh empat jenis alat bukti yang sah dan saling berkesesuaian, yaitu alat bukti keterangan terdakwa, keterangan ahli, surat, dan keterangan saksi," jelasnya.

Follow Berita Okezone di Google News

Kedua, kata dia, jaksa tetap memaksakan penggunaan hasil poligraf yang menunjukkan kliennya tidak berkata sebenarnya saat menjawab pertanyaan, apakah Anda berselingkuh. Padahal, pelaksanaan tes poligraf melanggar PERKAP Nomor 10 Tahun 2009 sehingga jika sebuah alat bukti diperoleh secara tidak sah, maka bukti yang dihasilkan juga tidak valid dan tidak sah secara hukum.

"Ketiga, Penuntut Umum membangun asumsi seolah-olah perencanaan pembunuhan sudah terjadi sejak dari Magelang," paparnya.

Padahal, bebernya, Bharada E atau Richard Eliezer yang merupakan eksekutor dalam pembunuhan ini secara tegas menyatakan di persidangan tanggal 13 Desember 2022, ia tidak pernah mendapatkan perintah ataupun arahan dari Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi untuk membunuh atau menghabisi korban, Brigadir J atau Nofriansyah Josua Hutabarat.

Menurut dia, tidak ada satu pun saksi atau bukti yang sah pun yang menunjukkan perencanaan pembunuhan sudah terjadi sejak dari Magelang.

"Semua tuduhan tersebut dibangun Penuntut Umum dengan asumsi-asumsi tanpa bukti," ungkapnya.

Keempat, jaksa menuduh untuk menutupi kejadian yang sebenarnya, kemudian kliennya menyusun rencana menghabisi korban Nofriansyah Yosua Hutabarat mulai dari Magelang, yang pada pokoknya. Adapun tuduhan Jaksa itu dibantah pengacara Putri dengan memberikan penjelasan pada pledoinya tersebut.

"Bantahan terhadap tuduhan-tuduhan Penuntut Umum di atas hanyalah bagian-bagian pokok dari begitu banyaknya tuduhan lain yang disampaikan Penuntut Umum dalam surat tuntutannya yang juga dibangun berdasarkan asumsi," kata Febri.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini