Share

Isi Lengkap Nota Pembelaan Putri Candrawathi: Saya Ingin Memeluk Putra-Putri Kami

Khafid Mardiyansyah, Okezone · Rabu 25 Januari 2023 13:35 WIB
https: img.okezone.com content 2023 01 25 337 2752710 isi-lengkap-nota-pembelaan-putri-candrawathi-saya-ingin-memeluk-putra-putri-kami-jT2KY2ngDS.jpg

JAKARTA - Terdakwa dugaan kasus pembunuhan Brigadir J, Putri Candrawathi, kembali menjalani sidang lanjutannya pada hari ini, Rabu (25/1/2023), yang beragendakan pembacaan pleidoi. Dalam persidangan, Putri pun terisak saat menceritakan, dia telah mengalami kekerasan seksual oleh Brigadir J.

Berikut isi lengkap pleidoi Putri Candrawathi:

Majelis Hakim Yang Mulia,

Para Jaksa Penuntut Umum dan Para Penasehat Hukum yang Saya Hormati, serta seluruh masyarakat yang Saya muliakan..

Sekalipun dalam kejatuhan yang sangat dalam saat ini, Saya tetap bersyukur. Tuhan memberikan kekuatan luar biasa hingga saya mampu menghadapi semua ini dan sekarang bisa membacakan di depan Majelis Hakim yang mulia dan masyarakat yang menyaksikan persidangan ini. Membacakan sebuah surat, sebuah nota pembelaan pribadi. Semoga, pembelaan ini dapat didengar secara utuh dan dipertimbangkan dengan jernih sebelum terlalu jauh menghakimi Saya atas segala tuduhan kesalahan yang tidak pernah Saya lakukan.

Dari balik jeruji ini di rumah tahanan Kejaksaan Agung, dengan tertatih-tatih mengumpulkan energi yang tersisa, Saya tuliskan sebuah surat untuk siapapun yang mau membaca dan mendengarnya dengan hati. Sebuah Nota Pembelaan dari seorang perempuan yang disakiti dan dihujam jutaan tuduhan, stigma, fitnah atas apa yang tidak pernah dilakukan. Sebuah Nota Pembelaan seorang Ibu yang dipisahkan paksa dari anak-anaknya hanya dengan dasar tuduhan yang rapuh dan mengada-ada.

Huruf demi huruf dan setiap kata yang saya tuangkan di sini mengalir membawa ingatan pada orang- orang tersayang di luar sana. Khususnya Anak-anak di rumah dan di sekolah, suami yang telah seratusan hari berpisah sejak ditahan di Mako Brimob, hingga orang tua dan seluruh sahabat yang juga ikut merasakan derita yang Kami alami.

Namun, lebih dari itu, coretan pena di lembar-lembar kertas putih ini berulang kali saya rasakan seperti irisan luka yang disobek paksa kembali dan seperti pisau yang disayatkan lagi pada perih yang belum pernah sembuh hingga saat ini. Berkali-kali. Yaitu, ketika Saya harus menjelaskan apa yang terjadi pada sore hari di rumah Kami di Magelang, 7 Juli 2022 lalu. Saya mengalami kekerasan seksual. Saya dianiaya orang yang sebelumnya selalu Kami perlakukan dengan sangat baik. Orang yang Kami anggap keluarga. Kejadian sangat pahit yang justru terjadi di hari pernikahan Kami yang ke-22. Di sisi lain, jutaan hinaan, cemooh bahkan penghakiman telah dihujamkan kepada Saya.

Bahkan, dalam perjalanan setelah persidangan saya melihat dari mobil tahanan banyak spanduk berisi makian dan paksaan agar Majelis Hakim menjatuhkan hukuman-hukuman yang menakutkan. Hukuman yang tidak sanggup saya bayangkan. Tidak sedikit pun pernah terpikirkan, peristiwa memalukan ini terjadi merenggut paksa kebahagiaan Kami.

Sering kali, Saya merasa tidak sanggup menjalani kehidupan ini lagi. Namun, Saya bersyukur, ingatan tentang pelukan, senyum bahkan air mata suami dan anak-anak menolong Saya ketika dunia seolah tak lagi menyisakan sedikitpun harapan akan keadilan. Begitu juga bayangan tentang apa yang diajarkan Almarhum Ayah puluhan tahun lalu. Beliau selalu bilang, tetaplah tegar menjalani hidup.

Majelis Hakim yang Mulia, kalaulah boleh Saya berharap, Jika Tuhan mengizinkan, semoga Saya bisa kembali memeluk putra-putri Saya. Pelukan yang paling dalam. Merasakan hangat tubuh mereka

dalam kasih-sayang seorang Ibu.

Yang Mulia, apa yang Saya sampaikan di surat ini bukanlah pembenaran ataupun sangkalan terhadap peristiwa kematian seseorang, sesuatu yang tidak pernah saya inginkan, sedikitpun tidak pernah. Sebuah kejadian yang akhirnya merenggut kebahagiaan keluarga sekaligus kehormatan saya sebagai perempuan.

Surat ini saya tulis sebagai penjelasan Saya secara langsung di depan persidangan yang sangat terhormat ini, bahwa Saya tidak pernah sekalipun memikirkan; apalagi merencanakan; ataupun bersama-sama berniat membunuh Siapapun.

Majelis Hakim Yang Mulia

Para Jaksa Penuntut Umum dan

Para Penasehat Hukum yang Saya Hormati

Sebagai seorang perempuan, saya dilahirkan dari rahim Ibu seorang pendidik dan sosok Ayah tentara. Saya sangat terkesan bagaimana Ibu, seorang guru SMA, mengajarkan ketulusan dan nilai-nilai kehidupan. Dari Ibu, Saya belajar mengasihi, berbuat baik untuk siapa saja dan dipacu untuk mendapatkan pendidikan sebaik-baiknya. Sementara dari Ayah, Saya belajar tentang disiplin dan ketegaran dari setiap tantangan hidup yang harus Kami jalani.

Ayah saya, purna tugas dengan pangkat Brigjen TNI - Angkatan Darat dan terakhir mengabdi dalam posisi sebagai Direktur Zeni di Markas Besar Angkatan Darat. Kecintaannya yang sangat kuat terhadap tanah air juga tertanam dalam ingatan dan sikap Kami anak-anaknya.

Meskipun saya perempuan, kedua orang tua saya menuntut semua anak-anaknya memprioritaskan pendidikan. Saya menyelesaikan pendidikan S1 pada Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti, dan melanjutkan studi di bidang Bahasa dan Jurnalistik pada Universitas Negeri di Pittsburgh – Amerika Serikat. Tuntunan orang tua telah mendorong saya untuk selalu berprestasi di antara peserta didik, termasuk ketika saya menempuh studi di luar negeri. Kedua jenjang pendidikan tersebut saya selesaikan dengan baik.

Dari kedua orang tua, saya belajar tentang Nilai hidup kesetiaan, ketegaran, serta mencurahkan perhatian penuh terhadap keluarga. Hingga saat ini nilai hidup mereka adalah inspirasi sepanjang hidup yang tidak akan saya lupakan. Apalagi, hidup sebagai anak dalam keluarga tentara tidaklah mudah dijalani.

Follow Berita Okezone di Google News

Majelis Hakim Yang Mulia,

Dalam usia belasan tahun, saat Saya sekolah di SMP Negeri 6 Makasar, Tuhan mempertemukan Saya dengan Ferdy Sambo yang saat ini menjadi Suami Saya. Saat itu, sewajarnya siswa SMP, Kami berinteraksi sebagai teman sekolah, belajar bersama, bermain dan bersenda gurau. Kemudian, Kami melanjutkan sekolah di SMA yang berbeda. Saya di SMA Negeri 8 Makasar dan Ferdy Sambo di SMA Negeri 1 Makasar. Sekalipun demikian, Kami tetap bertukar-kabar, dan bertemu kembali sebagai siswa di tempat Bimbingan Belajar yang sama menjelang tamat SMA.

Setelah itu, Kami berpisah jalan. Ferdy Sambo menjalani pendidikan di Akademi Kepolisian di Semarang. Hingga kemudian Kami dipertemukan, disatukan kembali dan mengucapkan janji setia dalam pernikahan pada tanggal 7 Juli 2000.

Sungguh, Saya sangat bersyukur dan tidak pernah menyesal sedikit pun memilih seseorang yang Saya

cintai, IPTU Ferdy Sambo sebagai pasangan hidup. Saat itu, Suami Saya menjalankan tugasnya sebagai Wakil Kepala Satuan Reserse Polres Jakarta Timur. Sejak itulah, babak baru kehidupan Saya sebagai seorang istri Polisi, seorang Bhayangkari, dimulai.

Menjadi istri Polisi mengajarkan saya untuk senantiasa menjalankan multiperan dan tanggung jawab, baik kepada keluarga ataupun organisasi Bhayangkari secara seimbang. Saya belajar tentang bagaimana istri harus mendampingi suami, mendapat bimbingan dan pengalaman dari para senior di Bhayangkari. Nilai-nilai penting seperti “Melayani bukan untuk Dilayani” senantiasa saya jalankan hingga detik ini. Bahkan, Saya juga harus belajar merelakan dan memahami situasi yang mewajibkan Suami untuk mendahulukan pelaksanaan tugas melayani masyarakat. Dalam sebuah kondisi tertentu, Suami harus pergi menjalankan tugas saat Kami sedang menjalani kehangatan bersama keluarga dan merindukannya. Sebagai isteri Polisi, Saya paham dan harus ikhlas. Harus rela. Karena kecintaan terhadap keluarga tumbuh bersama dan sama besarnya dengan kecintaannya terhadap institusi POLRI.

Sebagai seorang Bahayangkari, Saya juga memahami pendidikan adalah hal yang utama. Dengan pendidikan, dapat dibentuk karakter agar mampu bertahan di setiap keadaan. Maka, ketika saya mendampingi Suami Saya, Ferdy Sambo saat dipercayakan untuk memimpin Kapolres Brebes – Jawa Tengah, saya bersama para istri Bhayangkari disana terpanggil untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak polisi di TK Bhayangkari di Brebes. Semangat solidaritas sangat saya rasakan bersama para Bhayangkari dan bersama mereka saya boleh merasakan beberapa pencapaian yang bermakna dalam hidup saya.

Salah satu yang sangat berkesan di hati saya adalah; ketika saya bersama pengurus Bhayangkari lainnya ikut merintis, sekaligus membina grup HADROH BHAYANGKARI di Polres BREBES. Sebuah kelompok seni yang bernafas Islami. Group ini kemudian berprestasi di kompetisi tingkat Kabupaten. Sebagai seorang Kristiani, saya bersyukur bisa menjalankan prinsip dan nilai toleransi yang sesungguhnya. Karena dengan toleransi itulah kita mampu menggali potensi terbaik setiap orang.

Yang Mulia Majelis Hakim, pada kesempatan pembelaan ini saya sekaligus ingin menyampaikan rasa syukur saya kepada Pimpinan Bhayangkari yang telah mempercayakan tugas Bendahara Umum Bhayangkari Pusat sejak tahun 2020. Kepercayaan ini bukan hal yang mudah, namun dengan rasa cinta terhadap organisasi Bhayangkari. Saya tidak pernah lelah untuk menjalankan amanah itu. Dalam kesempatan ini juga, Saya ingin menyampaikan permohonan maaf, karena sekarang Saya tidak bisa lagi menjalankan tugas dan berkontribusi kepada organisasi yang saya banggakan dan cintai. Semoga Organisasi Bhayangkari terus maju dan berkembang di masa depan.

Majelis Hakim Yang Mulia

Para Jaksa Penuntut Umum dan

Para Penasehat Hukum yang Saya Hormati

Sepanjang 22 tahun pernikahan saya dengan Ferdy Sambo, saya telah setia mengabdikan hidup hanya untuk melayani dan mendampingi suami di manapun ia berdinas. Dan juga mengasihi dan mendidik empat orang anak-anak Kami. Hingga pada tanggal 2 Juli 2022 lalu, Saya mengantarkan anak Kami yang ke-3 guna melanjutkan pendidikan tingkat SMA di Magelang dan harus tinggal di asrama. Dalam bayangan Saya saat itu, ke depan akan lebih sulit bertemu putra dan putri yang Kami sayangi. Karena mereka harus menjalani hari-harinya di asrama. Tentu sebagai seorang ibu, hal tersebut menjadi beban pikiran yang tidak bisa saya kesampingkan dengan mudah. Demi masa depan anak-anak kami, saya rela berpisah dalam jarak yang cukup jauh demi mendidik jiwa mandiri dan karakter mereka. Ya Tuhan, semoga kelak mereka bisa mengabdi dan berguna bagi nusa dan bangsa.

Bagi Kami berdua, pendidikan untuk anak-anak adalah prioritas sekaligus tahapan kehidupan yang penting. Saya dan suami ingin secara langsung mengantarkan anak ke-2 dan ke-3 kami memasuki hari pertama pendidikan tingkat SMA yang dimulai di tanggal 4 Juli 2022 dan 6 Juli 2022. Kami sangat sedih namun bangga dapat melepas mereka mengenyam pendidikan di tempat yang berkualitas demi masa depan anak-anak kami. Semoga Tuhan memberikan kesempatan anak-anak kami tumbuh menjadi insan-insan berguna bagi bangsa dan negara di kemudian hari.

Yang Mulia Majelis Hakim, Saya ingat, pada pergantian hari 6 Juli ke 7 Juli 2022 lalu. Malam itu, Saya dan suami sedang duduk bersama di ruang tamu, kemudian para ADC dan ART datang memberikan kejutan dengan membawakan kue dan nasi tumpeng. Sebuah kejutan yang membahagiakan.

Kami berkumpul bersama dan berdoa. Bersyukur pada sang Maha Kuasa atas segala kebaikan yang diberikan. Kemudian, saya lalu menyuapi suami dan setelah itu secara bergantian menyuapi seluruh ADC dan ART sebagai ungkapan kebersamaan dan rasa syukur dalam sebuah keluarga. Saya gembira. Sangat gembira saat itu. Karena memang 7 Juli sesungguhnya adalah hari yang sangat saya nantikan. Hari pernikahan Saya dengan suami saya Ferdy Sambo. Seorang pelindung dan kepala rumah tangga Kami. Kami selalu mengingat janji suci pernikahan ketika diucapkan di hadapan Tuhan tepat 22 tahun lalu.

Majelis Hakim Yang Mulia, namun, di tanggal yang sama, sore hari 7 Juli 2022, saat kebahagiaan perayaan ulang tahun perkawinan Kami masih bergemuruh dalam pikiran dan perasaan, Saya mengalami sebuah kejadian yang sangat menyakitkan. Peristiwa yang menimbulkan luka mendalam hingga saat ini. Kebahagiaan Kami direnggut dan dicampakkan. Harga diri Kami diinjak-injak. Saya membeku. Bahkan Saya tak sempat memikirkan hal seburuk ini akan menimpa Saya dan berdampak pada keluarga. Yang lebih sulit Saya terima, pelakunya adalah orang yang Kami percaya, orang yang Kami tempatkan sebagai bagian dari keluarga dan bahkan Kami anggap anak sepertihalnya seluruh anggota pribadi suami saya lainnya.

Saya tidak mengerti, mengapa ini harus terjadi tepat di hari pernikahan kami yang ke-22. Yosua melakukan perbuatan keji. Dia memperkosa, menganiaya Saya. Dia mengancaman akan membunuh Saya jika ada orang lain yang mengetahui apa yang ia lakukan. Dia mengancam membunuh anak-anak yang Saya cintai. Yang mulia, Saya takut. Sangat ketakutan saat itu. Saya sangat menderita dan menanggung malu berkepanjangan. Bukan hanya Saya, tetapi juga seluruh anggota keluarga kami.

Dalam goncangan jiwa yang berusaha saya pendam dengan segala tenaga yang tersisa, saya memutuskan segera kembali ke Jakarta pada hari Jumat, 8 Juli 2022. Sepanjang perjalanan, saya beristirahat dan tidur, sembari tetap berusaha menguatkan hati saya untuk memberanikan diri menceritakan apa yang terjadi pada orang yang paling saya percayai, yakni suami saya bapak Ferdy Sambo. Sebagai seorang isteri kepada siapa lagi Saya harus menceritakan kepedihan ini kalau tidak pada Suami? Seorang yang paling saya cintai dan pelindung bagi keluarga kami.

Majelis Hakim Yang Mulia, sesampai di rumah Saguling, saya langsung menjalankan protokol kesehatan seperti yang telah kami sekeluarga lakukan sejak pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Selain karena saat itu kondisi kesehatan Saya agak menurun, Kami juga berupaya lebih ketat menjalankan protokol kesehatan karena menimbang adanya anak kami berusia 1,5 tahun yang belum bisa divaksin. Saya melaksanakan Tes PCR, sesuai dengan aturan bagi keluarga kami.

Setelah selesai test PCR, Saya makan di ruang makan lantai 2. Sepanjang perjalanan dari Magelang ke Jakarta Saya tidak berhenti singgah untuk makan. Kemudian saya naik ke lantai 3 dan bertemu dengan suami saya. Dengan segala ketakutan yang masih menggelayut, saya menceritakan peristiwa pahit yang terjadi di tanggal 7 Juli 2022. Dengan semua sisa keberanian, Saya sampaikan secara jujur apa

yang dilakukan Yosua secara langsung hanya kepada suami Saya. Saya hancur dan malu sekali saat harus menceritakan kejadian kelam tersebut. Tidak bisa dijelaskan bagaimana dingin-nya suasana pembicaraan tersebut. Sesekali Saya memandang Suami. Matanya kosong, tubuhnya bergetar dan tarikan nafasnya menjadi sangat berat. Kami berdua pun tidak kuasa menahan tangis. Apa yang terjadi ini terlalu berat bagi Kami.

Lalu, dengan perasaan masih kalut, saya berjalan ke kamar, meninggalkan Suami yang masih duduk di ruangan tadi. Di kamar Saya tidak tahu harus berbuat apa, hingga Saya pamit pada Suami dan bergegas meninggalkan rumah Saguling untuk segera isolasi mandiri. Yang ada dalam pikiran Saya saat itu adalah mengambil jarak, namun tetap harus isolasi menunggu hasil tes PCR untuk mencegah anak kami bertemu dan tidak kuasa menahan untuk memeluk saat melihat ibunya.

Sampai di Rumah Duren Tiga 46, saya langsung masuk kamar dan menutup pintu. Kemudian Saya berganti pakaian karena pakaian yang Saya kenakan saat tiba di rumah Duren Tiga adalah pakaian yang sama sejak keberangkatan sejak pagi dari Magelang. Berganti pakaian ini juga kebiasaan Saya sebelum istirahat atau tidur.

Yang Mulia, hari itu, Saya lelah sekali. Tubuh, pikiran dan perasaan Saya saat itu berada dalam situasi berat yang rasanya tidak pernah saya alami. Apalagi, di sela istirahat, tanpa jelas apa yang terjadi, Saya mendengar beberapa letusan keras di rumah tempat saya beristirahat. Dalam kondisi masih sangat lelah dan tertekan, Saya menutup telinga dan kaget luar biasa sambil bertanya dalam hati: apalagi yang terjadi di luar sana? Tak lama berselang, dalam keadaan masing kebingungan dan cemas, Suami membuka pintu dengan terburu-buru, masuk kamar, kemudian langsung mendekap kepala saya di dadanya dan menuntun saya keluar kamar sampai garasi. Dalam kondisi yang takut sekaligus bingung, Saat itu saya tidak bisa melihat situasi dan kondisi di dalam rumah. Lalu saya diantarkan dek Ricky untuk kembali ke Saguling atas perintah suami saya.

Yang mulia, Pada tanggal 9 Juli 2022, pagi hari, suami saya menjelaskan bahwa Richard telah menembak Yosua hingga meninggal dunia. Saya pun sangat kaget mendengar kabar tersebut. Suami menyampaikan sudah melaporkan pada Pak Kapolri peristiwa tembak menembak antara Yosua dan Richard yang disebabkan karena Yosua melakukan pelecehan terhadap saya. Waktu dijelaskan hal tersebut, Saya betul-betul marah kepada suami karena dibawa-bawa dalam peristiwa tersebut. Tapi suami saya menyampaikan bahwa cerita tersebut sudah dilaporkan ke Kapolri dan dijelaskan juga ke Richard, Ricky, dan Kuat saat dilakukan pemeriksaan setelah kejadian penembakan di rumah Duren TIga.

Hingga akhirnya, saat suami saya telah ditahan di Mako Brimob, setelah ia bercerita jujur, Saya dihubungi Suami Saya untuk datang ke Mako Brimob sebagai saksi dalam perkara tersebut dan menceritakan secara jujur apa yang terjadi di Magelang tanggal 7 Juli 2022 dalam kapasitas sebagai saksi. Sungguh, Saya takut dan sangat malu, karena saya harus menceritakan peristiwa menyakitkan itu kepada orang lain di luar suami saya sendiri. Pahit sekali rasanya ketika harus menceritakan peristiwa kekerasan seksual yang saya alami. Apalagi, saya menyadari di ruangan tempat saya di BAP, dipantau kamera dan suaranya diperdengarkan di ruangan yang saya tidak tahu siapa-siapa saja yang dapat menyaksikan dan mendengarkan.

Jika boleh memilih, rasanya mungkin lebih baik saya menutup rapat-rapat peristiwa yang saya alami tanggal 7 Juli 2022 itu. Karena bila saya menyampaikan kembali peristiwa yang sangat menyakitkan tersebut, semakin menghidupkan trauma mendalam dan malu dalam diri saya. Sementara di berbagai media dan pemberitaan saya dituduh berdusta dan mendramatisir situasi. Tidak berhenti di situ saja, saya dituding sebagai perempuan tua yang mengada-ada. Semua kesalahan diarahkan kepada saya tanpa saya bisa melawan. Ketika saya memilih untuk diam, publik mendesak saya untuk muncul dan

bicara. Namun ketika saya bicara, kembali muncul komentar dari para pengamat yang tidak pernah mengetahui kejadian sebenarnya namun berkomentar bahwa saya bukan korban kekerasan seksual, karena masih sanggup bicara. Apapun yang Saya lakukan menjadi salah di mata mereka.

Yang Mulia Majelis Hakim, Dalam kesempatan ini saya menyatakan siap mempertanggungjawabkan kesaksian saya kepada Sang Pemilik Hidup, Tuhan yang Maha Esa, bahwa saya BENAR-BENAR MENGALAMI KEKERASAN SEKSUAL, DAN PENGANIAYAAN YANG DILAKUKAN OLEH YOSUA.

Majelis Hakim Yang Mulia

Para Jaksa Penuntut Umum dan

Para Penasehat Hukum yang Saya Hormati

Atas penjelasan para saksi, kronologis rangkaian peristiwa, dan fakta-fakta persidangan, izinkan saya menegaskan bahwa:

1. Saya adalah korban kekerasan seksual, pengancaman, dan penganiayaan yang dilakukan oleh (Alm) Yosua;

2. Saya sepenuhnya tidak pernah sedikitpun menginginkan, menghendaki, merencanakan ataupun melakukan perbuatan bersama-sama untuk menghilangkan nyawa Yosua;

3. Saya sepenuhnya tidak mengetahui Suami saya akan datang ke Duren Tiga 46 lokasi di mana saya sedang bersitirahat melakukan isolasi dan menunggu hasil tes PCR.

4. Saya sepenuhnya tidak mengetahui terjadinya peristiwa penembakan tersebut karena saya sedang istirahat di dalam kamar dengan pintu tertutup.

5. Saya menolak keras dianggap berganti pakaian piyama sebagai bagian dari skenario. Saya berganti pakaian piyama hingga memakai kemeja dan celana pendek yang masih sopan dan sama sekali tidak menggunakan pakaian seksi sebagaimana disebut Jaksa Penuntut Umum dalam tuntutan.

Majelis Hakim Yang Mulia

Para Jaksa Penuntut Umum dan

Para Penasehat Hukum yang Saya Hormati

Ijinkan saya dalam kesempatan ini mencurahkan isi hati saya kepada Yang Mulia Majelis Hakim karena Yang Mulia adalah wakil Tuhan di dunia yang diharapkan bisa memberikan keadilan. Keadilan yang seadil-adilnya.

Saya dan suami memiliki empat orang anak. Semuanya sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang orang tua, apalagi dari seorang ibu. Anak bungsu kami masih berusia 1 tahun 10 bulan, dan kakak-kakaknya, masih sekolah. Mereka tentu memerlukan kehadiran seorang Ibu di samping mereka. Apalagi dalam situasi yang sangat berat seperti saat ini. Anak ke-3 kami bahkan baru mengetahui Papa dan Mamanya berada di tahanan sebagai terdakwa pada bulan Oktober yang lalu. Tepatnya setelah lebih 3 bulan masa karantina di sekolahnya yang dimulai sejak 4 Juli 2022 waktu saya dan suami mengantarkannya masuk asrama di Magelang.

Pasti sangat berat bagi mereka menghadapi kenyataan dan situasi keluarga yang sangat berubah. Rumah menjadi sepi, tidak lagi ada tawa hangat bersama, dan dunia bagaikan runtuh. Yang Mulia, Izinkan saya memperbaiki keadaan ini. Saya ingin menjadi seorang ibu yang bertanggung jawab bagi kehidupan anak-anak kami.

Sejak terjadinya peristiwa ini, Anak-anak kami pun tidak lepas dari kecaman, cemooh, dan hinaan yang

keji. Padahal tidak seharusnya mereka mengalami hal yang sangat pahit dan melukai masa tumbuh kembang mereka sebagai pribadi yang berharga.

Saya berharap saya dapat segera kembali mendampingi anak-anak saya untuk menguatkan jiwa kami sekeluarga menghadapi peristiwa ini. Apalagi berita-berita di media atapun publikasi di media sosial hampir selalu menyudutkan kami sebagai orang tua. Banyak publikasi yang seperti tidak peduli apakah yang disampaikan benar atau tidak, hanya sekedar mengejar rating tanpa memikirkan kerusakan yang terjadi pada anak-anak Kami akibat publikasi tersebut.

Saya memohon kepada yang Mulia untuk berbelas kasih kepada saya dan anak-anak yang selama berbulan-bulan menghadapi berita-berita yang kurang baik terhadap kedua orang tuanya.

Yang Mulia Majelis Hakim, ijinkan pula saya segera kembali ke pelukan anak-anak kami. Mungkin saya pernah gagal dalam hidup, tapi saya tidak mau juga gagal menjadi Ibu bagi ke-4 anak-anak saya. Karena saya bertanggungjwab terhadap kehidupan mereka.

Suami saya, Bapak Ferdy Sambo di mata anak-anak adalah pahlawan keluarga yang sangat dihormati dan dibanggakan. Di banyak kesempatan, Pak Ferdy Sambo selalu membawa anak-anak untuk melihat secara langsung tugas Papanya sebagai seorang polisi dan aparatur negara. Mereka sangat bangga melihat Papanya yang selalu memberikan totalitas dalam pengabdian terbaiknya selama bertugas.

Bukan hal yang mudah untuk menjelaskan kepada anak-anak atas peristiwa yang kami alami sekarang ini terlebih saya tidak bisa mendampingi selama proses pengadilan berlangsung, dan juga banyak sekali fitnah yang dialamatkan kepada kami berdua.

Yang Mulia Majelis Hakim, hari ini di saat pembelaan saya ingin menyampaikan harapan tulus saya kepada:

- Orang Tua Almarhum Brigadir Yosua, Bapak dan Ibu Samuel Hutabarat, Saya turut berduka, memohon maaf dan berdoa semoga seluruh keluarga dikuatkan dan diberkati. Saya juga ingin menyampaikan dengan sungguh-sungguh, Saya tidak melakukan apa yang mereka tuduhkan tersebut;

- Dek Richard dan Keluarga, mohon maaf karena harus melalui semua ini;

- Dek Ricky dan Om Kuat, beserta keluarga saya memohon maaf dan saya mendoakan Tuhan memberikan kekuatan untuk keluarga Dek Ricky dan Om Kuat;

- Kepada seluruh personil Polri yang terdampak dari peristiwa ini. Saya mohon maaf semoga Tuhan yang maha esa senantiasa menyertai

- Saya juga meminta maaf kepada Bapak Joko Widodo, Presiden Republik Indonesia, Bapak & Ibu Kapolri, dan para Bhayangkari serta masyarakat yang terdampak dan menguras perhatian selama proses hukum saya berlangsung.

Kepada Anak-anaku sayang, mama dan papa minta maaf karena alian harus melalui semua ini. Cinta dan perhatian kalian adalah semangat hidup paling berharga bagi Papa dan Mama. Menjadi kekuatan Kami untuk mencari dan memperjuangkan keadilan. Doakan Papa dan Mama Nak, semoga bisa segera pulang menemui kalian dan kembali menjadi orang tua yang baik bagi kalian semua.

Dari balik tahanan, mama dan papa juga terus mendoakan dan memohon pada Tuhan agar tidak pernah lagi meninggalkan kalian diwaktu terbaik kalian menjadi hidup sebagai orang dewasa.

Tuhan maafkan saya; berikan Saya kesempatan sebagai orang tua untuk menjalankan tugas sebagai

seorang ibu. Tuhan, mampukan saya menjalani ini semua, dan kiranya keadilan-Mu saja yang hadir di situasi yang sangat sulit ini.

Majelis Hakim Yang Mulia

Para Jaksa Penuntut Umum dan

Para Penasehat Hukum yang Saya Hormati

Kalaulah boleh Saya bertanya, apakah salah jika Saya bercerita secara jujur pada Suami atas perbuatan keji yang merenggut dan merusak kehormatan dan harga diri saya dan keluarga? Apakah karena saya bercerita sebagai seorang isteri pada suami kemudian Saya dituduh menjadi dalang atas semua ini? Ataukah rasa sakit karena perbuatan keji ini harus Saya simpan dan pendam sendiri hingga mati berkalang tanah, agar semua tampak seolah baik-baik saja dan tidak ada yang pernah terjadi? Dan, Yang Mulia, patutkah Saya dipersalahkan seolah-olah Saya adalah dalang pembunuhan padahal Saya tidak pernah berniat, tidak pernah mengetahui rencana ataupun pelaksanaan pembunuhan terhadap Yosua?

Yang Mulia, kalaulah para pencaci dan penghasut di luar sana mengetahui rasanya menjadi Perempuan yang mengalami kekerasan seksual dan beratnya harus menceritakan kembali secara jujur kekejian yang terjadi pada Suami. Kalaulah mereka bisa merasakan situasi ketika di satu sisi adalah korban namun di sisi lain dituduh sebagai otak pembunuhan. Yang Mulia, kalaulah harapan Saya masih didengar, semoga tidak ada lagi Perempuan yang menghadapi kondisi seperti itu.

Yang Mulia, Izinkan Saya mengetuk pintu hati yang Mulia Majelis Hakim. Mengharapkan Yang Mulia dapat secara jernih melihat fakta-demi fakta, bukti demi bukti yang muncul di sidang ini. Mengharapkan Yang Mulai arif dan bijaksana.

Yang Mulia, sungguh, Saya ingin menjaga dan melindungi anak-anak kami, mendampingi mereka, dan kembali memeluk mereka serta menebus segala kegagalan saya sebagai seorang ibu.

Mungkin saja waktu sudah jadi berbeda bagi mereka setelah ini terjadi. Berbulan-bulan Kami terpisah jauh dari putera-puteri Kami tersayang. Entah ke depan, penghakiman yang hanya didasarkan nafsu balas dendam masih akan terus memisahkan Kami, atau ada secercah cahaya yang menerangi sanubari kita semua sehingga keputusan yang adil dapat dijatuhkan. Semoga hukuman hanya akan diberikan untuk orang yang benar-benar bersalah. Bukan dijatuhkan hanya karena tak kuasa m mana kebenaran dan mana kegelapan yang tumbuh dari gelombang hinaan, cemooh, tudingan dan paksaan di luar sana.

Yang Mulia, besar harapan Kami, janganlah kebencian membuat kita tidak adil. Semoga Tuhan membimbing jalan kita semua.

Demikian sebuah surat dari balik jeruji rumah tahanan Kejaksaan Agung ini Saya tulis dan Saya sampaikan di hadapan Yang Mulia Majelis Hakim.

Hormat Saya,

Putri Candrawathi

1
4

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini