Share

Kisah Feisal Tanjung, Pernah Gagal Daftar AL yang Berujung Jadi Panglima

Tim Okezone, Okezone · Rabu 25 Januari 2023 07:36 WIB
https: img.okezone.com content 2023 01 24 337 2752339 kisah-feisal-tanjung-pernah-gagal-daftar-al-yang-berujung-jadi-panglima-fwz0nDZMOS.jpeg Feisal Tanjung/Foto: Antara

JAKARTA - Feisal Tanjung semula bercita-cita menjadi prajurit Angkatan Laut (AL), namun nasib malah menghantarkannya menjadi Angkatan Darat (AD), bahkan berujung sebagai Panglima TNI.

Lahir di Tarutung, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Jenderal TNI (Purn) Feisal Edno Tanjung merupakan anak ke-5 dari 10 bersaudara dari pasangan Amin Husin Abdul Mun'im dan Siti Rawani Hutagalung.

 BACA JUGA:Hadi Tjahjanto Pastikan Sertifikasi Semua Rumah Ibadah

Dalam catatan Usamah Hisyam, ayahnya, Abdul Mun’in, dikenal penduduk Sibolga sebagai tokoh, ulama, dan salah satu pendiri Muhammadiyah yang amat disegani. Sementara Rawani, ibunya, juga aktif dalam kegiatan keislaman dan dakwah.

“Rawani masuk dalam organisasi Aisyiyah di Sibolga dan menjadi salah satu mubaligah sejak Mun’in diamanahkan sebagai konsul kedua dalam struktur Muhammadiyah Tapanuli pada 1937,” tulis Usamah Hisyam dalam buku Feisal Tanjung: Terbaik untuk Rakyat, Terbaik bagi ABRI, dikutip Selasa (24/1/2023).

 BACA JUGA:Sortaman Saragih Ungkap Alasan Gabung Perindo: Riil Meningkatkan Ekonomi Rakyat

Feisal sempat menempuh pendidikan dasar di Sekolah Rakyat Sibolga hingga kelas 5. Ketika keluarganya pindah ke Medan karena sang ayah bekerja sebagai pegawai negeri di Djawatan Penerangan, Feisal meneruskan sekolah di SR Yosua.

Mendaftar sebagai Taruna AAL

Feisal remaja akrab dengan pantai, laut dan ombak. Hal ini lantaran Sibolga merupakan kota di pantai Barat pulau Sumatera.

Tak hanya itu, pemandangan prajurit TNI Angkatan Laut yang sedang bertugas juga menghiasi kota ini. Karena kebiasaan melihat anggota AL inilah terbersit hasrat dalam dada Feisal untuk menjadi prajurit AL.

Follow Berita Okezone di Google News

Ditulis Usamah Hisyam, ketika duduk di kelas tiga SMP Feisal diam-diam pernah mendaftarkan diri menjadi aspiran kadet AAL. Untuk diketahui saat itu AAL menerima tamatan SMP untuk menjadi aspiran (calon) kadet. Dalam perhitungannya, ketika dia diterima sebagai aspiran kadet, maka dua tahun berikutnya dapat menjadi kadet. Namun harapan itu kandas.

Dia tidak diterima lantaran tak memenuni syarat usia minimal yang ditetapkan yakni 16 tahun. Feisal baru berusia 15 saat mendaftar itu. Namun ia tak patah arang. Tamat SMA, lagi-lagi dia mengisi formulir pendaftaran masuk AAL. Tapi kali ini dia juga mendaftar di Akademi Militer Nasional atau AMN (kini Akademi Militer/Akmil).

Cita-cita boleh menjadi Angkatan Laut, namun surat panggilan dari AMN datang terlebih dahulu. Jadilah dia akhirnya mengikuti seleksi. Feisal lolos tingkat kodam hingga akhirnya resmi menjadi calon prajurit taruna (capratar) pada 1958.

Ditunjuk sebagai Panglima TNI

Karier militer Feisal Tanjung cukup cemerlang. Prajurit dari kecabangan infanteri ini banyak ditempa di Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang kelak berubah menjadi Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha) dan akhirnya Komando Pasukan Khusus (Kopassus).

Selain itu dia juga berkiprah di Pasukan Cakra alias Kostrad. Berbagai jabatan pernah melekat di pundak prajurit tempur ini.

Dimulai dari komandan peleton dan kompi di Yonif 152 Kodam XV/Pattimura, dia lantas menjadi Komandan Kompi Tanjung Batalyon 2 RPKAD, Komandan Detasemen 41 Grup 4 RPKAD, hingga Wakil Komandan Grup 1 RPKAD (Grup 1/Para Komando).

Di Baret Hijau, tentara yang pernah terlibat operasi penumpasan G30 S/PKI ini dipercaya sebagai Kastaf dan Komandan Brigif Lintas Udara 17 Kostrad. Setelah itu meroket sebagai Asisten Operasi Kepala Staf Kostrad, Kepala Staf Komando Tempur Lintas Udara Kostrad dan akhirnya Panglima Komando Tempur Lintas Udara Kostrad (Divisi Infanteri 1/Kostrad).

Kariernya semakin mencorong. Dia dipromosikan sebagi Komandan Pusat Kesenjataan Infanteri pada 1983 hingga 1985, kemudian Pangdam VI/Tanjungpura (1985-1988). Setelah itu dia dipercaya sebagai Dansekoad, kemudian Kasum ABRI.

“Dari posisi Kasum itulah Feisal naik ke kursi Panglima menggantikan Edi Sudrajat yang duduk di kursi pimpinan ABRI selama hanya hampir tiga bulan,” kata Salim Said dalam buku “Dari Gestapu ke Reformasi: Serangkaian Kesaksian”.

Salim Said menuturkan, sebelum mengangkat Feisal, Presiden Soeharto perlu kesaksian tentang calon panglima ABRI itu dari orang-orang yang kenal secara pribadi. Mereka yang ditanyai Soeharto antara lain Menko Azwar Anas dan Mayjen TNI Zaini Azhar Maulani.

Mereka diminta bersaksi lewat rekaman yang alat perekamnya dibawa Kolonel Kivlan Zein dan Kolonel Ismed Yuzeri. Rekaman itu kemudian diperdengarkan kepada Soeharto.

“Saya tidak tahu siapa saja yang diminta kesaksiannya sebelum akhirnya Bapak Presiden berkeputusan melantik Feisal Tanjung sebagai pangab,” tutur Said. Apa pun, keputusan itu memang dinilai mengejutkan.

Lazimnya, calon Pangab yaitu KSAD yang ketika itu dijabat Jenderal TNI Wismoyo Arismunandar. Banyak yang menilai pemilihan Feisal sebagai panglima merupakan cara Soeharto untuk mempererat kembali hubungan dengan kalangan Islam. Tak heran pada masa ini Soeharto banyak mempromosikan ‘jenderal santri’.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini