Share

Bacakan Pleidoi Kuat Maruf, Pengacara: Kecerdasan Terdakwa Tak Mungkin Pahami Rencana Pembunuhan

Ari Sandita Murti, MNC Portal · Selasa 24 Januari 2023 13:25 WIB
https: img.okezone.com content 2023 01 24 337 2751941 bacakan-pleidoi-kuat-maruf-pengacara-kecerdasan-terdakwa-tak-mungkin-pahami-rencana-pembunuhan-A5KSOxZaqA.jpg Kuat Maruf (Foto: MPI)

JAKARTA - Tim pengacara terdakwa Kuat Maruf membacakan analisis yuridisnya terkait penerapan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana sebagaimana tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada kliennya.

Menurutnya, penerapan Pasal 340 jo Pasal 55 ayat (1) Ke-1 KUHP itu tidak terpenuhi. Adapun unsur tak terpenuhi lantaran pasal itu mengatur berupa barang siapa sengaja dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain dan mereka yang melakukan, yang menyuruh melakukan, dan yang turut serta melakukan.

"Unsur sengaja dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain, fakta yang terungkap sepanjang pemeriksaan perkara a quo, ternyata tidak ditemukan adanya niat sebagai kehendak terdakwa untuk membunuh korban dan atau mengetahui adanya perencanaan eksekusi penembakan di Rumah Duren Tiga Nomor 46, terlebih lagi dengan menggunakan sarana senjata api," ujar pengacara Kuat, Irwan Irawan di persidangan, Selasa (24/1/2023).

Irwan menilai bahwa niat sebagai kehendak, haruslah bersesuaian dengan penyebab kematian korban, Brigadir J. Sebabnya, niat sebagai kehendak diwujudkan dengan tindakan nyata, tapi tidak satu pun saksi yang menerangkan di persidangan Kuat yang melakukan penembakan terhadap Brigadir J yang menyebabkan hilangnya nyawa korban.

Baca juga: Bacakan Pleidoi, Tim Pengacara Sebut Kuat Ma'ruf Tulang Punggung Keluarga

"Bahwa secara tegas dan jelas diakui di depan persidangan oleh saksi Richard Eliezer (Bharada E), dia lah yang menembak korban menggunakan senjata api laras pendek (pistol) merk Glock 17," tuturnya.

Baca juga: Kuat Maruf: Saya Dituduh Berselingkuh dengan Putri Candrawathi di Medsos

Follow Berita Okezone di Google News

Dia menerangkan bahwa fakta itu sesuai dengan kesimpulan 2 hasil visum et repertum, yakni dari RS Bhayangkara Polri dan Ekshumasi jenazah korban RSUD Sungai Bahar, Muaro Jambi. Berdasarkan fakta-fakta persidangan itu pula yang bersesuaian dengan alat bukti lain berupa ahli dan barang bukti, maka menjadi terang unsur dengan sengaja yang direncanakan terlebih dahulu tidak terpenuhi.

Begitu pula dengan unsur mengetahui, kata pengacara Kuat, sejatinya tak terpenuhi lantaran dari rekaman CCTV juga terungkap bahwa kliennya bersama dengan saksi Putri Candrawathi naik lift ke lantai 3 rumah Saguling, bukan ke lantai 2 rumah Saguling.

Adapun durasi waktu Kuat dan Putri Candrawathi naik lift dari lantai 1 ke lantai 3 rumah Saguling dan kembali turun ke lantai 1 lewat tangga berlangsung selama kurang lebih 3 menit.

"Tidak mungkin dengan tingkat kecerdasan terdakwa yang dibawah rata-rata sesuai dengan hasil Apsifor dapat memahami perencanaan yang disampaikan saksi Ferdy Sambo sebagaimana maksud dalil tuntutan penuntut umum dalam durasi waktu yang sangat singkat ini," jelasnya.

Pengacara Kuat menambahkan bahwa terkait penyertaan dalam melakukan suatu tindak pidana, terpenting adanya meeting of mind di antara para pelaku.

Namun, tidak ada fakta persidangan yang terungkap kliennya turut serta bersama-sama terdakwa lainnya, yakni Ferdy Sambo, Bharada E atau Richard Eliezer, Ricky Rizal Wibowo, dan Putri Candrawathi turut serta secara berencana untuk melakukan pembunuhan terhadap Korban.

"Oleh karena unsur sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu turut serta secara bersama-sama merampas nyawa orang lain lain tidak terpenuhi, maka unsur-unsur lain tidak perlu dibuktikan lagi," ujarnya.

"Demikian pula tidak satupun alat bukti lain, yang dapat membuktikan adanya perencanaan atau permufakatan untuk melakukan pembunuhan terhadap Korban," imbuhnya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini