Share

Periskop 2023: Ambisi Indonesia Memperbarui Alutsista Demi Sejajar dengan Kekuatan Militer Dunia

Nanda Aria, Okezone · Senin 23 Januari 2023 06:17 WIB
https: img.okezone.com content 2023 01 23 337 2751159 periskop-2023-ambisi-indonesia-memperbarui-alutsista-demi-sejajar-dengan-kekuatan-militer-dunia-k7W67QCfYm.JPG Ilustrasi F-15/ Doc: BBC

 

JAKARTA - Kewibawaan sebuah negara salah satunya diukur dari kekuatan militernya. Tak ayal, berbagai negara di dunia terus berlomba untuk memperkuat Alat Utama Sistem Persenjataannya (Alutsista).

Bukan untuk mengobarkan peperangan, namun untuk menjaga kedaulatan bangsa dan negara dari gangguan internal dan eksternal. Memastikan segenap kehidupan dan sumber daya yang dimiliki sebuah negara terlindungi dengan aman.

 BACA JUGA:Deretan Alutsista Korps Marinir, dari Tank Produksi Rusia hingga Senapan Pindad

Dari banyak negara itu, Indonesia termasuk salah satu yang terus menerus memperkuat Alutsistanya dengan teknologi termutakhir. Pengalaman masa lalu, mulai dari kolonialisme, masa revolusi, intervensi asing, hingga meletusnya separatisme di beberapa wilayah di Indonesia, mau tak mau, membuat Negeri Maritim ini harus membentengi diri dengan sejumlah perangkat militer terbaik.

Lebih-lebih, Indonesia memiliki luas wilayah yang massif, dengan kondisi geografis beragam dan dikelilingi oleh pulau-pulau besar dan kecil yang harus dijaga tiap jengkalnya.

Karenanya, tak lama usai kemerdekaan diproklamirkan, Presiden Soekarno langsung menggebrak dengan memperkuat persenjataan tiga matra Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), kini Tentara Nasional Indonesia (TNI), hingga disegani di kawasan dan dunia.

 BACA JUGA:8 Negara Pemborong Alutsista Terbesar di Dunia, Salah Satunya Tetangga Indonesia

Memanfaatkan sentimen perang dingin antara blok timur dan barat, Soekarno berhasil menempel Uni Soviet dan mengalirkan persenjataan-persenjataan canggihnya ke dalam negeri. Tak pelak kapal perang buatan Soviet dari kelas Sverdlov, dengan 12 meriam raksasa kaliber 6 inchi, KRI Irian, dapat lego jangkar dengan mulus di perairan Indonesia.

Tak hanya itu, Soekarno juga berhasil mendaratkan pesawat tempur canggih Soviet seperti pesawat pemburu supersonic MiG-21 Fishbed, MiG-15, MiG-17, pesawat supersonic MiG-19, dan pesawat pembom Tu-16 Tupolev.

Pesawat MiG-21 Fishbed saat itu merupakan jet tempur supersonic tercanggih di dunia, bahkan lebih canggih dari pesawat Amerika: pesawat supersonic F-104 Starfighter dan F-5 Tiger.

Follow Berita Okezone di Google News

Sedangkan, kepemilikan pesawat pembom strategis Tu-16 Tupolev, memosisikan Indonesia sejajar dengan 3 negara lainnya yang juga memiliki pesawat pembom, yaitu Rusia, Amerika, dan Inggris.

Angkatan udara Indonesia pun pada 1960an malih rupa menjadi armada udara paling mematikan di dunia, dengan kekuatan 100 armada pesawat.

Kekuatan militer Indonesia era modern

Kekuatan militer Indonesia yang telah dibangun Soekarno terus berlanjut hingga era modern. Pemanfaatan teknologi digital, pesawat tanpa awak, peluru kendali, kemampuan siluman, hingga artificial Intelligence (AI) menjadi keunggulan baru dalam perangkat senjata teranyar.

Tanpa upgrade teknologi, senjata yang dimiliki sebuah bangsa hanya akan jadi perkakas usang dengan tingkat efektivitas rendah.

Karenanya, Pemerintahan Joko Widodo menggencarkan rencana strategis pertahanan nasional, yang disupervisi oleh Menteri Pertahanan Prabowo Subianto untuk memodernisasi Alutsista TNI. Anggaran jumbo pun disiapkan untuk upgrade teknologi ini.

Pada 2022, Kementerian Pertahanan (Kemenhan) merupakan salah satu kementerian yang mendapatkan pos anggaran paling besar. Pada postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2022, Kemenhan dijatah sebesar Rp133,4 triliun, atau meningkat dari tahun 2021 yang sebesar Rp125,9 triliun.

Pagu anggaran Kemenhan pun terus meningkat di 2023 menjadi Rp134,32 triliun. Rinciannya, pagu anggaran itu akan digunakan untuk program modernisasi alutsista, non-alutsista, dan Sarpras Pertahanan sebesar Rp35,19 triliun, program kebijakan dan regulasi pertahanan sebesar Rp24,68 miliar, dan anggaran program pelaksanaan tugas TNI sebesar Rp 3,62 triliun.

Lalu, program profesionalisme dan kesejahteraan prajurit sebesar Rp12,35 triliun dan program pembinaan sumber daya pertahanan sebesar Rp 338,86 miliar.

Kemudian, Kemenhan juga akan memanfaatkan dana itu untuk program riset, industri, dan pendidikan tinggi pertahanan sebesar Rp607,89 miliar dan program dukungan manajemen sebanyak Rp 79,77 triliun.

Berbekal pagu anggaran dari APBN dan juga pinjaman, Prabowo pun telah memesan berbagai Alutsista canggih dari berbagai negara. Baru-baru ini misalnya, Kemenhan telah memesan sejumlah peralatan tempur dari Prancis, usai Prabowo bertemu Menteri Pertahanan Prancis Sebastian Lecornu di Jakarta pada 25 November 2022.

Prabowo telah menjajaki kemungkinan pembelian dua kapal selam serang scorpene. Dilansir dari Military Today, kapal selam ini mampu membawa 30 ranjau laut dan melaju dengan kecepatan 20 knots dan membawa 18 torpedo serta misil.

Tak hanya itu, Indonesia juga memesan 42 jet tempur Rafale senilai US$1,8 miliar dari Prancis. Dari pembelian jangka panjang ini, Indonesia akan memboyong enam unit terlebih dahulu.

Adapun, untuk terus memperkuat pertahanan udara nasional, Kemenhan tak hanya menjajaki kerjasama dengan Prancis. Kala menjamu Menteri Pertahanan Amerika Serikat Lloyd Austin pada November 2022, Prabowo pun berdiskusi terkait pembelian jet tempur F-15.

AS pun disebut telah sepakat menjual 36 jet tempur F-15 senilai US$14 miliar atau sekitar Rp200 triliun.

Di samping itu, Indonesia juga telah meneken kontrak pembelian peluru kendali Khan buatan perusahaan Turki, Roketsan. Rudal ini dapat diluncurkan dari peluncur roket multilaras dengan berat 2.500 kg dengan sasaran tembak mencapai 280 kilometer.

Sejumlah pembelian Alutsista nasional ini tak ayal semakin menabalkan nama Indonesia sebagai negara dengan kekuatan militer terbesar di ASEAN, dan mengokohkan citra Indonesia di mata dunia.

Kekuatan militer Indonesia semakin digdaya

Maka dari itu, tak heran ranking kekuatan militer Indonesia terus meningkat. Berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh Global Firepower (GFP), kekuatan militer Indonesia 2023 menduduki posisi ke-13 dunia dengan indeks kekuatan 0,2221, dari 145 negara.

Peringkat Indonesia ini lebih baik dibandingkan 2022 yang berada pada posisi 15 dengan indeks kekuatan 0.2251. Pada tahun lalu, Indonesia berhasil mendepak kekuatan militer Jerman ke posisi 16.

Kini rangking kekuatan militer Jerman pun terus melorot ke posisi 25 dunia.

Sementara itu, Amerika Serikat masih dinilai sebagai negara dengan kekuatan militer paling tangguh di posisi 1 dunia. Posisi Amerika Serikat dibuntuti oleh kekuatan militer Rusia di ranking 2 dan militer China di ranking 3 dunia.

Ada 60 faktor yang digunakan untuk menentukan skor pada indeks kekuatan (Power Indeks). Kategori yang dinilai antara lain jumlah unit militer serta kemampuan keuangan negara hingga kekuatan logistik dan kondisi geografi suatu negara.

Mengacu pada catatan GPF, kekuatan militer Indonesia tercermin dari indeks kekuatan finansialnya. Misalnya dari sisi Purchasing Power Parity (PPP), Indonesia memiliki paritas daya beli sebesar US$3,130,470,000,000. Hal ini menempatkan Indonesia di urutan ke-7 dari 145 negara.

Namun, sayangnya kekuatan finansial Indonesia juga memiliki kelemahan dari sisi utang atau pinjaman. Di mana indeks External Debt Indonesia mencapai US$400.000.000.000.

Faktor lain yang mendukung kekuatan militer Indonesia adalah dari segi jumlah populasi. Populasi Indonesia terbesar keempat didunia dengan jumlah penduduk sebesar 277.329.163 jiwa. Di mana, dari total populasi itu sebanyak 135.891.290 jiwa merupakan angkatan kerja.

Dengan 277 juta populasi itu, Indonesia diperkirakan memiliki personel militer sebanyak 1.080.000 orang, yang terdiri dari 40.000 Angkatan Udara, 300.000 Angkatan Darat, dan 75.000 Angkatan Laut.

Selain itu, faktor lain yang diukur GPF adalah sumber daya alam yang dimiliki sebuah negara. Indonesia beruntung memiliki berbagai sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan seperti gas alam, minyak bumi, dan batu bara.

Berdasarkan perhitungan GPF, saat ini kekuatan militer Indonesia cukup mumpuni. Misalnya, di Angkatan Udara Indonesia memiliki 466 unit Kekuatan udara, yang terdiri dari pesawat tempur, helikopter, pesawat angkut, hingga tanker.

Sedangkan kekuatan darat, Indonesia memiliki 314 unit tank, kendaraan lapis baja 12,008 unit, Senjata Artillery 153 unit, meriam 414 unit, dan roket 63 unit.

Sementara kekuatan laut, Indonesia memiliki 10 unit kapal fregat, 21 unit kapal korvet, 4 unit kapal selam, 202 kapal patroli, dan 13 kapal penyapu ranjau.

Terbaru, Indonesia pun telah kedatangan dua pesawat jet bertipe Dassault Falcon 7X dan Falcon 8X buatan Prancis pada akhir tahun lalu. Pesawat ini akan menambah kekuatan Skadron Udara. Kedatangan pesawat ini pun diresmikan langsung oleh Menhan Prabowo.

"Hari ini kita berbangga, ada perkuatan tambahan untuk TNI AU, dua pesawat yang kita sebut pesawat kodal, komando pengendalian," katanya.

Memburu target-target persenjataan nasional

Di sisi lain, Kemenhan pun terus memacu target pemenuhan pokok minimum atau Minimum Essential Force (MEF) 100 persen pada 2024. Hal ini untuk terciptanya swasembada Alutsista nasional. Program yang sudah dicanangkan sejak 2007 ini memasuki tahap ketiga pada 2020-2024.

Hanya saja, target ini sepertinya akan sedikit mundur dan direvisi menjadi 70 persen saja akibat badai ekonomi global yang disebabkan oleh pandemi Covid-19 dan juga perang Rusia-Ukraina. Di mana sejumlah lembaga internasional memperkirakan pada tahun 2023 sejumlah negara akan mengalami goncangan dahsyat.

"Ancaman pandemi Covid-19 begitu luar biasa, di mana pemerintah fokusnya adalah melindungi rakyat. Jadi, anggaran-anggaran kita fokus mengatasi Covid-19. Jadi, kalau masalah Alutsista tertunda, itu (gejolak global) kita harus menghadapinya," ucap Prabowo.

Kemenhan pun telah menyusun masterplan untuk kebutuhan persenjataan Indonesia hingga 25 tahun ke depan. Proposal ini disusun berdasarkan pada kebutuhan persenjataan jangka panjang untuk menjaga pertahanan nasional.

Pasalnya, dari segi jumlah dan kemampuan, persenjataan Indonesia sudah pada taraf mengkhawatirkan. Hal ini diungkapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD.

"Kalau kita hanya berpikir soal kemampuan atau kekuatan persenjataan kita memang sangat sangat mencemaskan. Bukan mencemaskan, tapi sangat mencemaskan," kata Mahfud, Kamis (20/10/2022).

Mahfud menerangkan, berdasarkan hitungannya seharusnya kebutuhan kapal perang lebih banyak dari sekarang, termasuk kebutuhan senjata dengan jarak tembak hingga 200 km hingga 200.000 km, teritori wilayah Indonesia yang luas.

Begitu pula dengan kebutuhan pesawat nasional. Menurut hitungannya dengan Prabowo, Indonesia harusnya memiliki 200 unit pesawat jenis tertentu. Sedangkan, saat ini Indonesia hanya punya 17. Ini masih jauh dari kebutuhan yang semestinya.

Padahal, Presiden Soekarno jauh-jauh hari sudah mengingatkan, "Bahwa jika Angkatan Perang kita hendak berdiri setaraf, setinggi, sederajat dengan angkatan perang dunia internasional, kita harus mempunyai Angkatan Udara yang sebaik-baiknya," ucap Bung Besar di Hari Peringatan Lima Tahun AURI, tanggal 9 April 1951.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini