Share

PERISKOP 2023 : Waspada! Bencana Hidrometeorologi Masih Mengintai Indonesia

Awaludin, Okezone · Sabtu 14 Januari 2023 09:35 WIB
https: img.okezone.com content 2023 01 14 337 2746153 periskop-2023-waspada-bencana-hidrometeorologi-masih-mengintai-indonesia-8hnc1OryJm.jpg Illustrasi (foto: Okezone)

BENCANA hidrometeorologi saat ini menjadi satu fenomena yang sering didengar oleh masyarakat Indonesia. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pun menjelaskan, bencana hidrometeorologi adalah fenomena bencana alam atau proses merusak yang terjadi di atmosfer (meteorologi), air (hidrologi), atau lautan (oseanografi).

BMKG menyebut bencana hidrometeorologi dapat menyebabkan hilangnya nyawa, cedera atau dampak kesehatan lainnya, kerusakan harta benda, hilangnya mata pencaharian dan layanan, gangguan sosial dan ekonomi, atau kerusakan lingkungan. Beberapa contoh bencana hidrometeorologi di antaranya curah hujan ekstrem, angin kencang, tanah longsor, banjir, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, puting beliung.

Berdasarkan pandangan Iklim BMKG, sepanjang tahun 2023 ada potensi gangguan iklim dari Samudera Pasifik yaitu ENSO. Gangguan iklim itu diprakirakan berada pada fase Netral, tidak terjadi La Nina yang merupakan pemicu anomali iklim basah, maupun El Nino yang merupakan pemicu anomali iklim kering. Demikian juga dengan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) yang merupakan gangguan iklim dari Samudra Hindia, diprediksi akan berada pada fase netral pada tahun 2023.

 BACA JUGA:15 Wilayah DKI Jakarta Berpotensi Bencana Tanah Bergerak, Ini Reaksi Pj Gubernur

Berdasarkan hasil monitoring dan prediksi BMKG, kondisi suhu muka laut di wilayah Indonesia pada September hingga November 2022 dalam kondisi hangat, kemudian diprediksi akan menurun menuju kondisi normal mulai Desember 2022 hingga Mei 2023.

 Banjir di Bekasi

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati pun mewanti-wanti semua pihak untuk bersiap menghadapi terjangan bencana hidrometeorologi akibat tingginya curah hujan tahunan 2023, yang diprakirakan melebihi rata-ratanya atau melebihi batas normalnya di sebagian wilayah Indonesia.

“Kementerian atau Lembaga, Pemerintah Daerah, masyarakat, dan seluruh pihak terkait harus segera melakukan mitigasi dan langkah antisipatif terhadap potensi jumlah curah hujan tahunan 2023 yang diprediksi berpotensi melebihi rata-ratanya, yang dapat memicu bencana hidrometeorologi basah seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor. Semua perlu dalam kondisi siaga dan waspada,” ungkap Dwikorita.

 BACA JUGA: Waspada! BPBD Keluarkan Peringatan Dini Bencana Tanah Bergerak di 15 Wilayah Jakarta

Selain itu juga, Pemerintah harus tetap waspada dan siaga terhadap peningkatan potensi kekeringan dan karhutla di beberapa wilayah rawan.

"Kewaspadaan dan kesiapsiagaan perlu ditingkatkan terhadap peningkatan potensi kekeringan dan karhutla di sebagian wilayah Indonesia,” tambahnya.

 Karhutla

Dalam hal tersebut, BMKG meminta kepada pemerintah pusat maupun daerah harus tetap terus meningkatkan optimalisasi fungsi infrastruktur sumber daya air, pada wilayah urban atau yang rentan terhadap banjir, seperti penyiapan kapasitas yang memadai pada sistem drainase, sistem peresapan dan tampungan air, agar secara optimal dapat mencegah terjadinya banjir.

 BACA JUGA:Sulsel Kebajiran Selama 3 Minggu, BNPB: Bencana Hidrometeorologi Basah Masih Banyak

“Selain itu juga perlu dipastikan keandalan operasional waduk, embung, kolam retensi, dan penyimpanan air buatan lainnya untuk pengelolaan curah hujan tinggi saat musim hujan dan penggunaannya di saat musim kemarau,” tutupnya.

Follow Berita Okezone di Google News

Sementara itu, Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap ancaman bahaya hidrometeorologi, yang dapat berujung bencana.

Aam mengatakan, pihaknya sudah melakukan dan pemetaan antisipasi Bencana Hidrometeorologi di 2023. Salah satunya ialah penguatan dukungan ke daerah untuk memastikan kesiapan alat, perangkat dan personil menghadapi potensi kedaruratan.

"Penguatan koordinasi TNI-POLRI untuk dukungan patroli kesiapsiagaan oleh Babhinsa - Babhinkamtibmas, penguatan jejaring peringatan dini berbasis komunitas," kata Aan kepada Okezone.

 BACA JUGA:BNPB: 851 Jiwa Meninggal Dunia Akibat Bencana Alam Sepanjang 2022

Lalu, sambung Aam, pihaknya akan melakukan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk mengurangi intensitas hujan di Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali dan Sulawesi Selatan.

Di samping itu, setiap keluarga dapat meningkatkan upaya peringatan dini dengan memantau informasi cuaca dari BMKG yang dapat diakses dengan berbagai pendekatan seperti aplikasi Info BMKG maupun website dan media sosial dari instansi pemerintah. Warga dapat memantu prakiraan cuaca harian hingga ke tingkat kecamatan melalui aplikasi Info BMKG sehingga dapat mempersiapkan atau mengantisipasi dampak yang mungkin terjadi.

Warga masyarakat dapat juga memberikan informasi terkait dengan kondisi terkini sehingga membantu otoritas setempat untuk penanganan darurat maupun kewaspadaan warga lainnya. Melalui PetaBencana.id, warga dapat mengirimkan konten informasi melalui media sosial yang kemudian terjadi pada dashboard tersebut setelah terverifikasi.

Diketahui sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memaparkan data bencana yang terjadi di Indonesia sejak 1 Januari hingga 30 Desember 2022.

Dalam data yang diterima, total bencana yang terjadi di Indonesia selama tahun 2022 sebanyak 3.503 bencana.

Bencana tersebut meliputi gempa bumi, erupsi gunung api, banjir, cuaca ekstrem, tanah longsor, karhutla, gelombang pasang dan abrasi, serta kekeringan.

Dalam hal ini, BNPB juga mengerucutkan data korban yang meninggal dunia, hilang, luka-luka, dan terdampak atau mengungsi akibat bencana alam. Korban meninggal dunia 851 jiwa, hilang 46 jiwa, luka-luka terdampak dan mengungsi 5.395.249 jiwa.

BNPB juga mengeluarkan data rumah rusak akibat bencana di Indonesia selama tahun 2022. Tercatat, ada total 94.680 rumah yang mengalami rusak. Sebanyak 19.948 rumah mengalami rusak berat, 22.974 rumah mengalami rusak sedang, 51.758 mengalami rusak ringan.

Selain itu, BNPB juga mencatat fasilitas rusak akibat bencana di tahun 2022 dengan total 1.977 fasilitas. 1.238 fasilitas pendidikan rusak, 645 fasilitas peribadatan rusak, dan 94 fasilitas kesehatan rusak.

Pada data ini, jumlah kejadian bencana terbanyak di Indonesia tercatat paling banyak di Provinsi Jawa Barat dengan 817 bencana, sedangkan ditempat kedua yaitu Provinsi Jawa Tengah sebanyak 479 bencana. Sedangkan di posisi ketiga yaitu Jawa Timur dengan 400 kejadian bencana.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini