Share

5 Tokoh yang Mendapatkan Tanda Kehormatan Bintang Gerilya, 4 di Antaranya Perempuan

Tim Litbang MPI, MNC Portal · Minggu 08 Januari 2023 07:19 WIB
https: img.okezone.com content 2023 01 07 337 2741985 5-tokoh-yang-mendapatkan-tanda-kehormatan-bintang-gerilya-4-di-antaranya-perempuan-vhafq6Ojko.jpg Erna Djajadiningrat/Foto: Perpusnas

JAKARTA - Bintang Gerilya merupakan tanda kehormatan yang diberikan oleh pemerintah Indonesia kepada para tokoh yang telah berjasa dalam mempertahankan negara secara gerilya.

Tanda kehormatan ini diberikan kepada tokoh-tokoh yang berjuang pada masa revolusi rentan tahun 1945-1950.

 BACA JUGA:5 Tokoh Legendaris Kopassus, Mematikan dan Disegani Dunia

Pemerintah Indonesia pertama kali memberikan tanda kehormatan ini pada tahun 1949 berdasarkan PP Nomor 8 tahun 1949.

Lalu, siapa saja tokoh yang menerima tanda kehormatan Bintang Gerilya? Berikut ini beberapa tokoh yang mendapatkan tanda kehormatan Bintang Gerilya.

1. Robert Wolter Monginsidi

Salah satu pahlawan nasional yang mendapat tanda kehormatan Bintang Gerilya adalah Robert Wolter Monginsidi. Pejuang kelahiran Malalayang, Manado tahun 1925 ini membentuk Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS) bersama para pemuda di Makassar.

 BACA JUGA:4 Tokoh Berasal dari Keluarga Militer tapi Ambil Jalan Berbeda, Indro Warkop Ternyata Anak Jenderal!

Mereka melancarkan serangan ke pos-pos tentara NICA Belanda di Makassar pada tahun 1946, ketika Belanda hendak menjajah kembali Indonesia dengan membonceng Sekutu. Di tahun berikutnya, Monginsidi ditangkap Belanda lalu ia dijatuhi hukuman mati.

Pada 1949, ia tewas dengan berani seusai menghadapi regu tembak. Pemerintah Indonesia menganugerahi Robert Wolter Monginsidi tanda kehormatan Bintang Gerilya pada 1958 atas jasa-jasanya di masa gerilya.

2. Erna Djajadiningrat

Perempuan kelahiran Banten 4 Maret 1911 ini adalah tokoh perempuan pertama yang menerima tanda kehormatan Bintang Gerilya pada tahun 1949.

Perempuan yang mendapat julukan “Si Nona Keras Kepala” oleh Jepang ini diberikan Bintang Gerilya berkat jasanya dalam perjuangan kemerdekaan.

Ia merupakan sosok penyokong perjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Erna aktif di dunia sosial, yaitu dengan mendirikan organisasi Panitia Sosial Korban-Korban Politik (PSKP), seusai Agresi Militer Belanda I. Melalui organisasi ini, ia membantu keluarga korban untuk terhubung dengan anggota keluarganya yang ditawan Belanda.

Follow Berita Okezone di Google News

3. Bu Ruswo

Wanita yang lahir dengan nama Kusnah pada tahun 1905 di Yogyakarta ini juga termasuk tokoh perempuan yang dianugerahi Bintang Gerilya oleh pemerintah. Bu Ruswo memiliki peranan penting dalam revolusi fisik di Yogyakarta.

Ia merupakan sosok perempuan yang berasal dari kalangan Jawa biasa dan pendidikannya hanya sampai sekolah rendah. Akan tetapi, ia memiliki kesadaran nasional yang tinggi terhadap nasib bangsa dan negaranya.

Bu Ruswo berjuang di belakang layar dengan memasok logistik bagi para prajurit yang terjun langsung. Seusai kemerdekaan Republik Indonesia, ia mengoordinasikan dapur umum selama revolusi fisik. Selain itu, ia juga menjadi kurir dan aktif dalam Badan Penolong Keluarga Korban Perang (BPKKP).

4. Raharti

Pada Hari Pahlawan 1961, pemerintah Indonesia menganugerahi Bintang Gerilya kepada Raharti. Tanda kehormatan Bintang Gerilya diberikan kepada Raharti sebagai penghargaan atas jasa-jasanya dalam perjuangan di masa gerilya.

Ketika itu, Raharti berjasa dalam memasok makanan bagi pejuang di garis depan dengan berpura-pura sebagai wanita desa yang membawa berbagai bahan pangan.

Namun, gerak-geriknya terendus Belanda hingga akhirnya pasukan Belanda menggeledah rumah Raharti. Bahkan Raharti sempat ditembak beberapa kali, namun nyawanya masih dapat diselamatkan. Raharti meninggal dunia pada 1957.

5. Nyonya Supiyah

Nyonya Supiyah menerima tanda kehormatan Bintang Gerilya berkat jasanya. Karena andilnya, satu peleton pasukan Republik yang berjumlah 27 orang di Nongkojajar, Malang terhindar dari bahaya maut.

Kala itu, di tahun 1946, Nyonya Supiyah mengatakan kepada pasukan Belanda yang datang satu kompi bahwa di desanya itu tidak ada tentara yang bersembunyi. Dengan keberanian Nyonya Supiyah, peleton Sumarjono dari Kompi Sujono Gaplek, yang saat itu beristirahat di desa, dapat menyelamatkan diri.

1
2
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis Okezone.com tidak terlibat dalam materi konten ini.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini