Share

Teror Bom Bunuh Diri, Sekjen Kemenag Bicara Pentingnya Moderasi Beragama

Dani Jumadil Akhir, Okezone · Sabtu 10 Desember 2022 16:37 WIB
https: img.okezone.com content 2022 12 10 337 2724576 teror-bom-bunuh-diri-sekjen-kemenag-bicara-pentingnya-moderasi-beragama-Cmxa3JjPjS.jpg Bom bunuh diri meledak di pos polisi Astana Anyar, Bandung (Foto: AP)

BOGOR - Perilaku seseorang atau kelompok radikal dinilai telah mengabaikan martabat kemanusiaan. Hal ini berkaca pada kasus bom bunuh diri di Polsek Astana Anyar, Bandung beberapa hari lalu.

"Seperti bom bunuh diri yang terjadi beberapa hari di Bandung punya pikiran cara pandang sikap dan perilaku yang mengabaikan martabat kemanusiaan," ujar Sekretaris Jenderal Kementerian Agama (Kemenag) Nizar Ali dalam Media Gathering Berperspektif Moderasi Beragama yang diselenggarakan Kementerian Agama, di Bogor, Jumat (9/12/2022) malam.

Nizar menjelaskan, perilaku yang mengabaikan martabat manusia tidak ada di dalam agama mana pun. Padahal semua agama mengajarkan memanusiakan manusia.

 BACA JUGA:Kemenag Harap Jamaah Haji Diharap Bisa Lebih Sabar

"Jadi tidak ada orang bunuh diri kepentingannya untuk membunuh orang lain," katanya.

Nizar menambahkan, cara pandang seseorang dengan bunuh diri seperti ini harus segera diluruskan

 BACA JUGA:Soroti Bom Bunuh Diri, Wapres: Program Deradikalisasi Harus Dievaluasi!

"Karena menurut saya mindset cara pandang yang perlu diluruskan salah satunya dengan moderasi keagamaan humanis," kata Nizar.

  • Moderasi Beragama

Menurut Nizar, moderasi beragama merupakan sebuah gerakan yang masif untuk membuat masyarakat memiliki cara pandang yang moderat.

"Ini sebuah gerakan yang masif Kementerian Agama untuk mencerdaskan, sehingga nanti cara pandang dan sikap masyarakat bisa moderat," ujarnya.

Follow Berita Okezone di Google News

Nizar menjelaskan, ada empat indikator yang harus dimiliki untuk dikatakan sebagai masyarakat moderat.

Pertama memiliki komitmen kebangsaan. Jangan sama ada masyarakat yang ingin mengganti ideologi negara dengan ideologi lain.

"Khilafah misalnya, ini komitmen kebangsaannya perlu dipertanyakan karena komitmen kebangsaannya kurang," kata Nizar.

Kedua memiliki toleransi. Menurut dia, jika ada orang yang tidak toleran atau intoleran, maka masuk dalam kategori ekstremis. Padahal, para ulama telah mengajarkan tentang toleransi.

Ketiga, indikator masyarakat moderat adalah anti kekerasan. Jadi, kalau ada masyarakat yang menggunakan cara-cara kekerasan, maka itu termasuk dalam kelompok radikal dan tidak toleran.

"Keempat, adaptif terhadap tradisi lokal. Ada orang-orang yang tidak ramah terhadap tradisi lokal, maka dia masuk ke dalam konteks radikal," kata Nizar.

Kemenag pun telah mencanangkan tahun 2022 ini sebagai tahun toleransi. Salah satu tujuannya adalah untuk menyongsong tahun politik tahun depan.

"Tujuannya untuk menyongsong tahun politik yang akan dimulai pada tahun 2023 meski pemilunya 2024. Ini peran media sangat penting untuk ikut serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa," tukasnya.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini