Share

Tragedi Berdarah Rawagede, Kekejaman Belanda Buru 'Singa Karawang-Bekasi' 75 Tahun Silam

Fahmi Firdaus , Okezone · Jum'at 09 Desember 2022 06:57 WIB
https: img.okezone.com content 2022 12 09 337 2723571 tragedi-berdarah-rawagede-kekejaman-belanda-buru-singa-karawang-bekasi-75-tahun-silam-zhIHxcekWo.jpg Tentara Belanda/Tangkapan layar media sosial

JAKARTA- Ratusan warga di sebuah desa di Karawang, Jawa Barat, dibantai dengan keji di mana saat ini peristiwa itu dikenal dengan sebutan tragedi pembantaian Rawagede, 9 Desember 1947 atau tepat 75 tahun yang lalu.

(Baca juga: Dahsyatnya Serangan Belanda Tak Patahkan Semangat Pejuang Indonesia Bertempur saat Puasa)

Majoor Alphonse Wijman, Komandan Koninklijke Landmaacht (KL) atau Angkatan Darat Kerajaan Belanda dari Eerste Divisie 7 Desember sektor Cikampek, memerintahkan sekira 300 anak buahnya untuk menghabisi 431 warga Desa Rawagede (kini Desa Balongsari, Karawang).

Desa Rawagede diserbu untuk memburu sejumlah tokoh TNI dan laskar perjuangan, seperti Kapten Madmuin Hasibuan dari satuan Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI), Kapten Lukas Kustario dari Siliwangi yang dikenal dengan julukan “Begundal Karawang”, serta pimpinan Laskar Hisbullah, KH Noer Ali yang berjuluk Singa Karawang-Bekasi.

Namun Tentara Belanda tersebut tidak menemukan sepucuk senjata pun. Mereka kemudian memaksa seluruh penduduk keluar rumah masing-masing dan mengumpulkan di tempat yang lapang.

Penduduk laki-laki diperintahkan untuk berdiri berjejer, kemudian mereka ditanya tentang keberadaan para pejuang Republik. Namun tidak satu pun rakyat yang mengatakan tempat persembunyian para pejuang tersebut.

Follow Berita Okezone di Google News

Pemimpin tentara Belanda kemudian memerintahkan untuk menembak mati semua penduduk laki-laki, termasuk para remaja belasan tahun. Beberapa orang berhasil melarikan diri ke hutan, walaupun terluka kena tembakan.

Pada hari itu, tentara Belanda dengan kejinya membantai 431 penduduk Rawagede. Tanpa ada pengadilan, tuntutan ataupun pembelaan.

Seperti di Sulawesi Selatan, tentara Belanda di Rawagede juga melakukan eksekusi di tempat (standrechtelijke excecuties), sebuah tindakan yang jelas merupakan kejahatan perang. Diperkirakan korban pembantaian lebih dari 431 jiwa, karena banyak yang hanyut dibawa sungai yang banjir karena hujan deras.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini