Share

Lebih Senior, Eks Kabag Gakkum Provost Dongkol Digas Ferdy Sambo

Achmad Al Fiqri, MNC Portal · Selasa 06 Desember 2022 16:46 WIB
https: img.okezone.com content 2022 12 06 337 2721758 lebih-senior-eks-kabag-gakkum-provost-dongkol-digas-ferdy-sambo-FPW9ziaEiC.jpg Sidang kasus pembunuhan Brigadir J. (Foto: Achmad Al Fiqri)

JAKARTA - Eks Kabag Gakkum Provost Divpropam Polri Kombes Pol Susanto Haris mengaku dongkol kala diberi perintah dengan nada tinggi oleh juniornya, Ferdy Sambo. Instruksi yang diberikan yakni mengurus jenazah Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J.

Perasaan itu ia ungkapkan kala bersaksi dalam sidang lanjutan kasus dugaan pembunuhan berencana Brigadir J untuk terdakwa Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

"Kemarin ngomongnya nge-gas, dalam hati saya, 'Yah kalau jenderal sudah bisa ngegas-ngegas senior ini, lah yang saya alami'. Akhirnya (jenazah) saya antar juga, saya serahkan ke Agus Nurpatria setelah kami mengantar jenazah ke kargo bandara," kata Susanto Selasa, (6/12/2022).

Diketahui, Susanto turut mengurus jenazah Brigadir J mulai dari di RS Polri hingga membawa jasad ke keluarga Brigadir J di Jambi.

 Baca juga: Ini Alasan Propam Polri Ambil Alih Bukti Penembakan Brigadir J dari Polres Jaksel

Terlepas dari itu, Susanto mengaku dongkol diperintah oleh Ferdy Sambo. Pasalnya, Sambo menyuruhnya dengan nada tinggi.

"Walaupun saya Kombes, saya senior Pak FS (Ferdy Sambo)," ucap Susanto.

"Ya kesal kalau merintahkan biasanya halus, ‘bang tolong bang bantu’, waktu ngantar barang bukti jenazah itu 'Pak Kabag, segera itu, Pak Kabag' saya agak melawan sedikit," kata Susanto.

Baginya, sikap Ferdy Sambo tidak tegak lurus dengan pernyataannya terkait senioritas."Beberapa kesempatan Pak FS selalu bilang 'selama matahari tidak terbit dari utara, dan air laut masih asin, senior tetap senior'," ujar Susanto.

Follow Berita Okezone di Google News

Selain itu, Susanto juga kesal karena ikut terdampak dari kasus pembunuhan Brigadir J. Ia disanksi demosi selama tiga tahun dan ditempatkan khusus (patsus) selama 29 hari.

Bahkan, ia mengaku kerap paranoid ketika menonton televisi dan bermain media sosial usai kasus tewasnya Brigadir J terungkap. Baginya, perkara itu membuat kariernya di Polri hancur.

"Kami paranoid nonton TV, media sosial, jenderal kok tega menghancurkan karier. Tiga puluh tahun saya mengabdi, hancur di titik nadi, rendah pengabdian saya, belum yang lain-lain," pungkasnya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini