Share

Arif Rachman Menangis di Sidang Ferdy Sambo, Dicecar Hakim Bagaimana Rasanya Jadi Terdakwa

Ari Sandita Murti, MNC Portal · Selasa 06 Desember 2022 14:22 WIB
https: img.okezone.com content 2022 12 06 337 2721605 arif-rachman-menangis-di-sidang-ferdy-sambo-dicecar-hakim-bagaimana-rasanya-jadi-terdakwa-EIFv0B5FdZ.jpg Arif Rachman/Foto: MNC Portal

JAKARTA-Terdakwa dugaan kasus Obstruction of Justice kematian Brigadir J, Arif Rachman Arifin menangis saat dicecar hakim tentang perasannya menjadi terdakwa dalam sidang dugaan kasus pembunuhan Brigadir J dengan terdakwa Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi.

(Baca juga: Amarah Serta Kecewanya Geng Sambo dan Tangisan Sang Jenderal di Persidangan)

"Saat ini dijadikan terdakwa, bagaimana perasaan saudara?" tanya hakim di persidangan, Selasa (6/12/2022).

"Sedih Yang Mulia, saya hanya bekerja," ujar Arif sambil menangis.

"Apa jabatan saudara sebelumnya?" tanya hakim lagi.

"Wakaden Paminal," kata Arif.

"Saudara dibohongi seperti ini, saudara sudah di PTDH, kemudian saudara menjalani pidananya," kata hakim.

Awalnya, Arif mengatakan, dia merusak laptop lantaran diperintah Ferdy Sambo sebagai atasannya. Sambo juga menghubunginya tentang perintahnya itu untuk memusnahkan laptop apakah sudah dilakukan ataukah belum, dia pun menjawab sudah melaksanakannya meski sejatinya perintah itu belum dilakukan lantaran laptop yang berisi rekaman CCTV itu dibawa Baiquni Wibowo.

"Akhirnya, ketika Baiquni sudah menyerahkan laptop kepada saya dan sudah disampaikan sudah terbekup, sudah terformat bang, ok. Kemudian saya rusak laptop tersebut, saya sempat ragu, makanya saya masih simpan (salinannya), baru saya musnahkan Yang Mulia," tutur Arif.

Arif menerangkan, dia sempat ragu untuk memusnahkan bukti rekaman CCTV yang ada di laptop lantaran penjelasan Kapolres Jaksel kala itu dan Ferdy Sambo tentang peristiwa kematian Brigadir J berbeda dengan isi rekaman CCTV.

Follow Berita Okezone di Google News

Dalam rekaman CCTV, Brigadir J masih hidup saat Ferdy Sambo tiba di rumah Duren Tiga, padahal penjelasan Sambo dan Kapolres Jaksel menyebutkan, aksi tembak-menembak hingga membuat Brigadir J tewas sudah terjadi sejak sebelum Sambo tiba di rumah Duren Tiga.

"Saya mendengar hal berbeda disampaikan oleh Kapolres (saat konfrensi pers di televisi), yang disampaikan oleh pak FS, berbeda dengan apa yang ada di CCTV," kata Arif.

Arif menambahkan, kala diminta untuk memusnahkan bukti itu, dia sejatinya hanya mengikuti perintah Sambo saja selaku atasannya, dia hanya bekarja belaka. Maka itu, dia pun sedih kala dia dipatsuskan terkait dugaan kasus Obstruction of Justice pada tanggal 8 Agustus lalu, disidang etik, dihukum PTDH hingga akhirnya kini menjadi seorang terdakwa.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini