Share

21% Korban Jiwa Akibat Gempa Cianjur Adalah Balita

Binti Mufarida, MNC Portal · Senin 05 Desember 2022 18:08 WIB
https: img.okezone.com content 2022 12 05 337 2721038 21-korban-jiwa-akibat-gempa-cianjur-adalah-balita-PZ2pgJGpde.jpg Korban gempa Cianjur. (MNC Portal)

JAKARTA - Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB) mencatat 21% dari 334 korban jiwa akibat gempa Cianjur merupakan anak di bawah lima tahun atau balita.

“Ini kalau kita lihat distribusi korban jiwa itu kita punya data agregasi 280 korban dari total 334, itu 21% yaitu balita di bawah 5 tahun. Kemudian anak 6 sampai 16 tahun 23%,” ucap Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari saat konferensi pers secara virtual, Senin (5/12/2022).

Ia menyebutkan, jika digabungkan, hampir setengah atau 44% dari jumlah korban jiwa akibat gempa ini adalah anak di bawah 16 tahun.

“Jadi kalau kita gabung anak di bawah 16 tahun itu 44%, hampir setengahnya ini menjadi perhatian kita karena ketika gempa terjadi siang hari atau saat jam sekolah masih berlangsung,” ucap Abdul.

Karena itu, ia mengatakan, kekuatan fasilitas umum (fasum) ataupun fasilitas sosial (fasos) perlu menjadi perhatian.

“Kita terus melakukan penghitungan data validasi kerusakan rumah dan memang yang menjadi perhatian kita ada 525 fasilitas pendidikan yang rusak, kemudian 14 fasilitas kesehatan yang rusak ini menjadi konsen kita juga tidak hanya di rumah-rumah penduduk. Tetapi fasum fasos kita fasilitas umum dan fasilitas sosial kita masih perlu harus kita tingkatkan kekuatannya, khususnya menghadapi gempa ini.”

Follow Berita Okezone di Google News

“Nah ada beberapa hal sebenarnya memang terdistribusi aftershock yang di Cianjur, kemudian daerah-daerah yang mengalami kerusakan paling parah itu tanahnya mungkin masih tanah lempung. Nah ini mungkin ada beberapa hal yang perlu kita lihat kira-kira Cianjur ini memberikan kita pembelajaran apa gitu ya,” tuturnya.

Abdul menyebutkan, cukup banyak fasilitas pendidikan yang rusak, yakni sekitar 525 unit.

“Kalau kita tidak bisa menjamin kekuatan bangunan-bangunan sekolah kita atau bangunan-bangunan mungkin ada Madrasah sekolah SMP dan lain-lain ini mungkin peluang terjadinya atau jatuhnya korban itu cukup besar. Ini menjadi konsen kita.”

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini