Share

Momen Gajah Mada Diminta Pensiun Dini dari Jabatan Mahapatih Kerajaan Majapahit

Avirista Midaada, Okezone · Minggu 04 Desember 2022 07:21 WIB
https: img.okezone.com content 2022 12 04 337 2720149 momen-gajah-mada-diminta-pensiun-dini-dari-jabatan-mahapatih-kerajaan-majapahit-t1XBHjxiPS.jpg Mahapati Majapahit, Gajah Mada (foto: istimewa)

GAYATRI menjadi tokoh penting yang tak tampak pada pemerintahan Kerajaan Majapahit. Saat itu saat anak Tribhuwana Tunggadewi memang tengah berkuasa di singgasana raja Majapahit. Peran Gayatri tak terlihat karena memilih untuk menjadi tokoh di balik layar.

Ia lebih menikmati peranan barunya sebagai bhiksuni Buddhis. Walaupun jarang terlihat di hadapan publik, ia tetap berupaya mengikuti perkembangan urusan-urusan kenegaraan dan menawarkan saran-saran kepada sang putri dan Mahapatih.

Namun, semakin lama ia mulai paham bahwa kesehatannya berangsur-angsur turun. Ini hal yang wajar karena usianya kini sudah tujuh puluh enam tahun. Earl Drake pada bukunya "Gayatri Rajapatni : Perempuan di Balik Kejayaannya Majapahit" dikisahkan siap meninggalkan siklus kehidupan yang sekarang dijalaninya demi dapat terlahir kembali.

 BACA JUGA:Langgar Tabu, Raja Sunda Nikahi Perempuan Majapahit yang Telah Bertunangan

Hanya ada satu hal yang mencemaskan Gayatri, yakni watak sang Mahapatih perkasa Gadjah Mada, serta pengaruhnya yang mungkin tertanam pada diri cucunya, Hayam Wuruk yang juga calon raja Majapahit. Gayatri pun menyampaikan kegelisahan itu ke putrinya yang juga penguasa Majapahit, Tribhuwana Tunggadewi.

Curhatan sang ibu kandung ternyata juga ditanggapi oleh Tribhuwana Tunggadewi yang mengalami hal serupa. Namun Tribhuwana mengaku begitu terbantu dengan sifat Gajah Mada dalam memimpin negeri Majapahit.

"Seperti yang kita sama-sama ketahui. Gajah Mada luar biasa cakap, pragmatis, dan patriotik, namun ia pun cenderung tak sabaran, keras kepala, dan agresif. Aku dan Mahapatih dapat bermitra dengan baik dalam membimbing negeri ini selama bertahun-tahun. Kekurangan dan kelebihan kami saling melengkapi. Apabila sikap tidak sabarannya muncul, aku selalu berhati-hati. Saat aku terlalu pasif, dia menjadi agresif, dan seterusnya," demikian Tribhuwana Tunggadewi berbicara dengan Gayatri, ibunya.

 BACA JUGA:6 Candi Peninggalan Kerajaan Majapahit, Ada Pemandian Para Raja

"Para prajurit dan pejabat sipil setia padanya, tetapi aku pun memiliki otoritas suci kerajaan dalam darahku. Waktu ia diangkat menjadi pejabat, aku sudah malang-melintang sebagai ratu, sehingga aku selalu mampu mengimbangi kekuasaannya," demikian kata Tribhuwana kembali.

Hal ini tentu direspon oleh sang ibu Gayatri yang menyatakan dirinya ada masanya. Bahkan Gayatri sempat menyebut ajalnya kian dekat. Dirinya meyakinkan Tribhuwana putrinya bisa menjadi seseorang yang cerdas dan mulia. Namun diakui Gayatri, ada keraguan pada sifat anaknya itu.

Follow Berita Okezone di Google News

Gayatri juga memahami pula bila suatu saat nanti Tribhuwana ingin menyerahkan tampuk kekuasaan ke cucunya sekaligus putra Tribhuwana Tunggadewi bernama Hayam Wuruk. Tribhuwana sudah merencanakan ketika Hayam Wuruk berusia 16 tahun tampuk kekuasaan itu akan diserahkan.

Gayatri pun mendukung keputusan anaknya itu. Namun ada tantangan tersendiri ketika sang raja muda Hayam Wuruk akhirnya naik tahta. Pengalamannya yang masih minim karena baru menginjak 16 tahun bisa menjadi persoalan baru bagi negeri Majapahit.

Gayatri pun memberi saran ke Tribhuwana Tunggadewi untuk mendirikan dewan penasehat baru untuk Hayam Wuruk yang naik tahta kelak. Gayatri juga mengusulkan ke Tribhuwana membentuk dewan keluarga yang membantu dan membimbing Hayam Wuruk.

Dewan keluarga itu terdiri dari kedua putrinya Tribhuwana Tunggadewi dengan Rajadewi Maharajasa dengan suaminya masing-masing. la yakin Hayam Wuruk, cucunya akan mampu memahami dan menyambut usulan ini.

Menariknya satu saran yang dinilai cukup ekstrem dari Gayatri yakni meminta Gajah Mada pensiun dini dari jabatan Mahapatih Majapahit, saat Hayam Wuruk mencapai usia dua puluh satu tahun, serta memintanya membantu mencari dan membina calon penerus yang cakap dalam periode lima tahun mendatang.

Gajah Mada tidak menanggapi usulan tersebut secara positif, dan ini membuat Gayatri agak kecewa. Tentu saja, ia terlampau "Jawa" untuk menentang mantan ratu secara terbuka. Dengan santunnya ia menggerutu bahwa ia tetap siap menjabat mahapatih selama ia masih bisa membantu sang raja muda yang belum berpengalaman

Gajah Mada berkomitmen akan mundur, begitu tenaganya tak dibutuhkan lagi untuk melindungi imperium. Mendengar ucapan Gajah Mada, Gayatri menyimpulkan bahwa Gajah Mada ingin terus menjabat entah sampai kapan, menempel pada sang raja muda, lantas secara tak langsung meraih kekuasaan yang lebih besar ketimbang sebelumnya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini