Share

5 Jenderal yang Kontra dengan Soeharto, Ada AH Nasution dan Hoegeng

Alifia Gita Riani, Litbang Okezone · Minggu 04 Desember 2022 05:02 WIB
https: img.okezone.com content 2022 12 03 337 2719922 5-jenderal-yang-kontra-dengan-soeharto-ada-ah-nasution-dan-hoegeng-ZHFQNT4BB6.jpg AH Nasution (Foto: Istimewa)

DALAM kepemimpinannya kurang lebih 32 tahun, Presiden Soeharto tentu menemui orang-orang yang pro maupun kontra terhadapnya. Bahkan dari kalangan jenderal pun ada yang berani menentang Soeharto. Berikut beberapa jenderal yang kontra dengan Soeharto.

1. Letjan Hartono Rekso Dharsono

Letjan Hartono Rekso Dharsono juga merupakan salah satu jenderal yang mengantarkan Soekarno ke kursi kekuasaannya. Ia bahkan mendukung kepemimpinan Soeharto dengan menandatangani dukungan tertulis yang disebut Ikrar Panglima Sejawa. Hartono diangkat menjadi Panglima Kodam Siliwangi oleh Soeharto pada 1966, tapi kariernya di dunia militer terhenti di tahun 1969. Ia lalu mengisi posisi duta besar Indonesia di Thailand.

Tokoh yang loyal kepada Soeharto ini kemudian mulai gerah kala menyaksikan Soeharto menjalankan pemerintahan yang cenderung otoriter. Sejumlah tokoh bahkan menandatangani Petisi 50, yang merupakan kekecewaan terhadap Soeharto. Hartono dekat dengan sejumlah tokoh tersebut. Meski tak ikut memberi tanda tangan, ia dianggap membahayakan Soeharto.

Sikap Hartono yang kritis dan vokal harus dibayarnya dengan mahal. Ia dicopot sebagai Sekjen ASEAN yang pertama oleh Soeharto. Hartono juga dituduh terlibat dalam peristiwa pengeboman gedung BCA di Pecenongan. Pada November 1984, Hartono ditangkap. Ia menghabiskan lima tahun hidupnya di balik jeruji besi dan bebas pada 1990.

2. Letjen Kemal Idris

Letjen Kemal Idris merupakan salah satu jenderal yang membangun Orde Baru. Ia adalaj salah seorang sosok yang diandalkan Soeharto, selain untuk menyingkirkan Soekarno dari kursi kekuasaannya, juga dalam operasi membasmi PKI. Jasanya diganjar dengan naik jabatan sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) yang diembannya pada 1967.

Namun, Kemal kemudian dijauhkan oleh Soeharto lantaran khawatir akan membahayakan posisinya sebagai presiden. Ia menerima jabatan duta besar untuk Yugoslavia dan Yunani dengan terpaksa. Ia lalu menandatangani Petisi 50 bersama puluhan tokoh lainnya Bahkan Kemal pernah meminta Soeharto untuk mundur sebagai presiden pada tahun 1980, karena menurutnya sudah cukup masa jabatan Soeharto sebanyak tiga kali itu.

Karena perlakuannya itu, Kemal tidak lagi dipakai. Ia pun mendapatkan gelar “jenderal sampah" karena mengurusi sampah di Ibu Kota.

3. Jenderal Besar AH Nasution

Hubungan antara Nasution dengan Soeharto memang tampak naik turun. Bahkan Nasution turut menentang kediktatoran Soeharto melalui kelompok Petisi 50. Kelompok tersebut dibuat oleh 50 purnawirawan jenderal dan politisi senior yang bertujuan untuk mengkritisi pemerintahan Orde Baru di bawah Soeharto. Petisi tersebut dibuat pada 5 Mei 1980 dan menganggap bahwa Soeharto sudah menyalahgunakan filosofi negara, Pancasila, sekaligus menodainya.

Follow Berita Okezone di Google News

Sebelumnya, hubungan antara Nasution dan Soeharto pernah membaik ketika mereka memiliki sikap anti terhadap PKI. Dengan memiliki visi yang sejalan, keduanya pun bekerja sama untuk menumpas partai terlarang itu. Namun, seusai Nasution selaku Ketua MPRS melantik Soeharto sebagai presiden, Nasution tak memiliki banyak peran di masa Orde Baru.

4. Jenderal Polisi Hoegeng

Jenderal Polisi Hoegeng dikenal sebagai polisi yang jujur dan berani melawan segala bentuk kecurangan tanpa pandang bulu. Ia juga ikut tergabung dalam Petisi 50. Hoegeng pernah menangani kasus yang melibatkan orang-orang terdekatnya Soeharto. Karena itu, Hoegeng pun ditawari menjadi duta besar. Hal ini tentu untuk menyingkirkan dirimnya.

Tetapi, Hoegeng menolak tawaran tersebut yang akhirnya membuat Soeharto marah. Hoegeng menolak menjadi dubes, namun akan menerima tugas apa pun selain itu.

Soeharto lalu mengatakan kepadanya bahwa tidak ada lagi lowongan untuk Hoegeng di Indonesia. Hoegeng pun langsung mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Kapolri. Ia menjabat Kapolri pada 1968-1971.

5. Letnan Jenderal M Jasin

Letnan Jenderal M Jasin juga termasuk salah satu anggota dari Petisi 50 yang ikut menentang kediktatoran Soeharto. Hubungan antara Jasin dan Soeharto juga merenggang karena akumulasi kekecewaan Jasin terhadap Soeharto.

Jasin menuliskan kekecewaannya kepada Soeharto melalui 10 lembar surat. Ia juga mengkritisi berbagai praktis bisnis pejabat pemerintah. Bahkan, Jasin sampai mengatakan bahwa Soeharto adalah pemimpin yang munafik karena telah melanggar peraturan yang dibuatnya sendiri.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini