Share

Guncangan Gempa Cianjur Timbulkan Kerusakan Parah, BMKG Ungkap Sejumlah Faktor

Binti Mufarida, MNC Portal · Jum'at 02 Desember 2022 21:24 WIB
https: img.okezone.com content 2022 12 02 337 2719647 guncangan-gempa-cianjur-timbulkan-kerusakan-parah-bmkg-ungkap-sejumlah-faktor-YlZbtvkNTV.jpg Kerusakan akibat guncangan gempa Cianjur. (Ilustrasi/Dok BNPB)

JAKARTA - Guncangan gempa dengan magnitudo (M)5,6 di Cianjur, Jawa Barat, mengakibatkan kerusakan bangunan yang cukup dahsyat. Tercatat 29.985 rumah rusak akibat guncangan gempa. Rinciannya 6.754 rumah rusak berat, 8.978 rumah rusak sedang, dan 14.253 rumah rusak ringan.

Bahkan, sejumlah bangunaan infrastruktur juga mengalami kerusakan. Sebanyak 520 sekolah, 264 tempat ibadah, 14 fasilitas kesehatan, dan 14 gedung kantor rusak. Lalu, apa penyebab kerusakan dahyat akibat gempa Cianjur ini?

“Sekali lagi kami perlu menekankan faktor penyebab kerusakan akibat gempa. Kenapa ini perlu ditekankan? Karena ini sangat penting dalam proses pembangunan kembali atau rekonstruksi kembali untuk wilayah tersebut dapat dibangun kembali,” ucap Kepala Badan Meteorologi Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati saat konferensi pers secara virtual, Jumat (2/12/2022) malam.

Dwikorita mengatakan, gempa yang sangat merusak itu juga karena dikontrol faktor kedalaman pusat gempa yang dangkal yaitu sekitar 11 km. “Bahkan gempa-gempa susulannya ada yang hanya 5 km,” ujarnya.

Penyebab kedua, kata Dwikorita, adalah lokasi pemukiman berada pada tanah lunak atau tanah lepas.

“Jadi efeknya mengalami amplifikasi di tanah. Amplifikasi artinya apabila gelombang gempa merambat pada tanah tersebut akan mengalami penguatan.”

Dwikorita mengatakan, faktor ketiga adalah kebanyakan bangunan rusak itu juga pada tepi lereng atau tebing lembah.

“Jadi ada pengaruh topografi yang mengakibatkan peningkatan intensitas guncangan dan kerusakan.”

Keempat, kata Dwikorita, adalah akibat struktur bangunannya yang tidak memenuhi standar aman gempa.

“Jadi ada faktor struktur kondisi, struktur atau konstruksi bangunan. Jadi ada empat faktor sebetulnya yang ada kedalaman, ada kondisi tanah, kemudian kondisi topografi dan terakhir adalah kondisi struktur.”

Bahkan, Dwikorita melaporkan banyak rumah yang menunjukkan struktur yang tidak aman gempa, rumah tembok tanpa besi. “Kemudian struktur kolom yang lemah. Kemudian, bagaimana pengaruh efek atau efek tanah lunak mengakibatkan itu rumah itu apa jumpalitan ya, saling dia terserak ya, itu terangkat.”

Follow Berita Okezone di Google News

“Bahkan (bangunan) menunjukkan struktur kolom dan balok yang lemah jadi pengaruh struktur, dari tingkat kerusakan ini sangat juga dipengaruhi dan pengaruh struktur bangunan. Kemudian kolom dan balok kuat, tapi dindingnya lemah. Kolomnya kuat tapi dindingnya lemah sama saja,” katanya.

Selain itu, Dwikorita mengatakan pengaruh kemiringan lereng sehingga tanah ini bergerak turun hingga menimbulkan juga rekahan-rekahan. “Juga akibat rumah itu ikut longsor bersama longsoran juga terjadi. Dan ada juga kerusakan akibat kena runtuhan batuan, nah ini umumnya pada lereng-lereng atau pada kondisi topografi miring.”

“Itu semua yang menjadi faktor penyebab kenapa kerusakannya begitu dahsyat ya. Meskipun dari hasil survei kondisi tanahnya secara umum sebagian besar tanah sedang hingga keras. Namun ada yang secara spot-spot terisolasi itu kluster-kluster tanah lunak pada klaster itulah terjadi kerusakan yang parah,” tuturnya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini