Share

Singgung Zaman Penjajahan, Jokowi: Hati-Hati Ekspor Paksa

Raka Dwi Novianto, MNC Portal · Jum'at 02 Desember 2022 12:55 WIB
https: img.okezone.com content 2022 12 02 337 2719223 singgung-zaman-penjajahan-jokowi-hati-hati-ekspor-paksa-I8ksNDZftJ.jpg Presiden Jokowi (Foto: Biro Setpres)

JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mewanti-wanti terkait eskpor paksa yang dilakukan negara-negara lain terhadap Indonesia.

Ekspor paksa itu, kata Jokowi, adalah memaksa Indonesia untuk melakukan ekspor khususnya pada bahan mentah.

"Hati-hati. Dulu zaman VOC, zaman kompeni, itu ada yang namanya kerja paksa ada yang namanya tanam paksa. Jaman modern ini muncul lagi, ekspor paksa. Ekspor paksa. Kita dipaksa untuk ekspor. Loh ini barang kita kok," kata Jokowi dalam sambutannya yang disiarkan YouTube Sekretariat Presiden, Jumat (2/12/2022).

Kepala Negara menegaskan bahwa pemerintah Indonesia harus membangun sebuah ekosistem besar sehingga negara lain bergantung pada Indonesia.

Baca juga: Jokowi: Pemilu 2024 Diselenggarakan dalam Kondisi Ekonomi Global Penuh Kesuraman

Menurutnya, hal tersebut didukung dengan potensi Indonesia yang memiliki nikel, tembaga, bauksit hingga timah.

"Memang sudah saya sampaikan kemarin kita kalah (WTO). Tapi apakah kita langsung pengin berhenti saja, oh ndak. Saya sampaikan kepada menteri banding urusan nikel. Karena ini ceritanya belum rampung kalau kita berhenti," tuturnya.

Baca juga: Jokowi: Tahun 2024 Momen Politik yang Sangat Penting

Follow Berita Okezone di Google News

Ekosistem besar, kata Jokowi, seperti negara Taiwan dengan produksi chipnya dan Korea dengan produksi komponen digitalnya. Kedua hal itu membuat negara-negara maju ketergantungan dengan Taiwan dan Korea.

"Ya ekosistem besar yang kita impikan ini nggak akan muncul, seperti chip seperti komponen digital tadi. Ekosistem besar, karena sekali lagi nikel itu kita nomor, reserved kita nomor 1. Timah nomor 2. Bauksit nomor 6, tembaga nomor 7 dunia. Punya semuanya," kata Jokowi.

Oleh karena itu, mantan Gubernur DKI Jakarta itu menilai bahwa dengan bahan mentah yang dimiliki akan difokuskan untuk membuat EV baterai dengan direncakan akan membeli lithium dari Australia.

"Saya kemarin sudah sampaikan ke PM Albanese, Australia punya lithium, kita boleh beli dong dari Australia. Terbuka silakan. Tapi ternyata dari kita sudah ada yang punya tambang di sana. Ini strategis, benar melakukan intervensi seperti itu. Sehingga ekosistem besar yang ingin kita bangun, jadi," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini