Share

8 Fakta Pembunuhan Brigadir J yang Diungkap Bharada E

Tim Okezone, Okezone · Jum'at 02 Desember 2022 09:13 WIB
https: img.okezone.com content 2022 12 02 337 2719067 8-fakta-pembunuhan-brigadir-j-yang-diungkap-bharada-e-Q2u2xH4p0I.jpg Bharada E tiba di Komnas HAM (Foto: Antara)

JAKARTA - Sidang kasus pembunuhan Brigadir J masih terus bergulir. Sejumlah fakta pembunuhan Brigadir J mulai terkuak di persidangan. Salah satunya disampaikan terdakwa Bharada Richard Eliezer atau Bharada E.

Okezone pun merangkum 8 fakta kesaksian Bharada E soal pembunuhan berencana Brigadir J:

1. Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi Pisah Rumah

Awalnya, hakim bertanya pada Bharada E apakah dia pernah melihat Sambo bertengkar dengan istrinya.

"Ada peristiwa lain yang misalnya semacam pertengkaran PC dengan FS?" tanya Ketua majelis hakim, Wahyu Iman Santoso di persidangan, Rabu 30 November 2022.

Bharada E lantas menceritakan ada kejadian yang membuatnya bertanya-tanya hingga saat ini, yakni pada akhir bulan Mei 2022 saat dia baru saja lepas piket.

Baca juga: 5 Fakta Wanita Nangis di Rumah Ferdy Sambo, Ini Penjelasan Bharada E

Saat itu, ia kembali ke rumah Saguling untuk siaga di rumah tersebut, mendadak dia melihat Putri Candrawathi turun dari lantai dua, diikuti oleh Brigadir J sambil membawa senjata api dan langsung menaruhnya di mobil.

Baca juga: 5 Fakta Kedekatan Putri Candrawathi dengan Brigadir J, Begini Kesaksian Bharada E

"Ibu PC panggil kita bertiga, saya, almarhum (Brigadir J), Bang Matheus. Abis itu bilang, nanti 'Dek Matheus naik mobil ibu dan Dek Richard naik mobil sendiri yah di belakang'," kata Bharada E menirukan perintah Putri Candwatahi.

Mereka lantas berkendara ke arah Kemang, ia pun bertanya pada Brigadir J melalui HT tujuan mereka lantaran mereka hanya berputar-putar saja di kawasan Kemang.

Follow Berita Okezone di Google News

Usai berputar-putar di kawasan Kemang, mereka lantas ke rumah Bangka. Kemudian, Bharada E mengaku sempat melihat Putri marah-marah hingga akhirnya dia diminta memarkirkan mobilnya di belakang rumah Bangka.

Setengah jam setelah Putri ajudan tiba di rumah Bangka, kata Bharada E, kemudian Ferdy Sambo pulang diantar Saddam. Sambo seperti marah-marah juga langsung masuk ke dalam rumah.

"Setengah jam kemudian Pak FS pulang diantar Saddam, Pak FS kayak marah-marah juga langsung masuk ke dalam rumah. Almarhum bilang 'Chad, nanti ada Pak Erben yang datang, rekannya bapak,' pas Pak Erben datang saya gak lihat karena di belakang," tutur Bharada E menirukan perkataan Brigadir J.

Dia lantas diperintahkan oleh Brigadir J bersama Matheus untuk tidak berada di area dalam rumah atau pelataran rumah Bangka dan hanya menunggu di luar rumah. Kala itu, para ajudan, yakni Adzan Romer, Saddam, art Somad dan art lainnya berada di belakang rumah Bangka, sedangkan di depan rumah ada dia dan dua satpam, yakni Alfon dan Farhan.

Lalu setengah jam kemudian, kata Bharada E ada orang keluar dari rumah, karena pagar ditutup. "Saya bilang Fon ada orang keluar itu, Alfon buka pagar dalam. Ada perempuan, saya enggak kenal, nangis dia, saya bertanya-tanya ini siapa, saya lihat ke dalam," kata Bharada E.

Perempuan itu lantas mencari-cari sopir dan posisi mobilnya. Dia yang mendengar hal itu lantas berlari ke samping rumah Bangka untuk mencari dan memanggil si driver perempuan tersebut hingga akhirnya perempuan tersebut pergi dari rumah Bangka.

"Nah semenjak kejadian itu pak FS sudah lebih sering di Saguling Yang Mulia," kata Bharada E.

2. Ferdy Sambo Sebut Brigadir J Harus Dikasih Mati

Bharada E mengaku diperintah Ferdy Sambo untuk menembak Brigadir J. Pernyataaan itu disampaikan Bharada E saat memberikan kesaksiannya di persidangan dugaan perkara pembunuhan Brigadir J dengan terdakwa Kuat Maruf dan Ricky Rizal Wibowo.

"Pak FS bilang ke saya 'kamu tahu enggak, ada kejadian apa di rumah saya?' Saya bilang siap saya tidak tahu bapak. Tidak lama kemudian ibu PC datang dan duduk di samping pak FS di sofa panjang," ujar Bharada E di persidangan, Rabu (30/11/2022).

Sambil menangis, Sambo lalu bilang Brigadir J telah melecehkan istrinya, Putri Candrawathi hingga akhirnya Sambo menceritakan perihal yang terjadi di Magelang.

Bharada E pun kaget saat tahu tentang cerita tersebut, apalagi dia juga kala itu ada di Magelang.

"Kurang ajar ini, kurang ajar! Dia sudah tidak menghargai saya. Dia menghina martabat saya! Beliau bicara sambil emosi, mukanya merah. Jadi setiap habis bicara, dia ada sisi diam untuk nangis, baru ngomong. 'Memang harus dikasih mati anak itu, nanti kau yang tembak manusia itu!'," kata Bharada E menirukan perintah Sambo.

3. Bharada E Berdoa Sebelum Eksekusi Brigadir J

Bharada E mengaku sempat berdoa di dalam toilet setelah mendapatkan perintah dari Ferdy Sambo untuk menembak Brigadir Yosua atau Brigadir J.

Dalam doanya ini, Richard pun meminta agar Tuhan dapat mengubah pikiran Ferdy Sambo yang memerintahkan dia untuk menembak Yosua. Hal itu diungkapkan oleh Richard saat sidang kasus penembakan Brigadir J di PN Jakarta Selatan, Rabu 30 September 2022.

4. Bharada E Ungkap Ada Perempuan Menangis di Rumah Bangka

Bharada E mengungkapkan sempat melihat ada perempuan menangis saat berada di rumah Bangka.

Bharada E lantas menceritakan ada kejadian bulan Mei 2022 saat dia baru saja lepas piket.

Saat itu, ia kembali ke rumah Saguling untuk siaga di rumah tersebut. Lalu mendadak dia melihat Putri Candrawathi turun dari lantai dua, diikuti oleh Brigadir J sambil membawa senjata api dan langsung menaruhnya di mobil.

Mereka lantas berkendara ke arah Kemang, ia pun bertanya pada Brigadir J melalui HT tujuan mereka lantaran mereka hanya berputar-putar saja di kawasan Kemang.

Usai berputar-putar di kawasan Kemang, mereka lantas ke rumah Bangka. Kemudian, Bharada E mengaku sempat melihat Putri marah-marah hingga akhirnya dia diminta memarkirkan mobilnya di belakang rumah Bangka.

Setengah jam setelah Putri ajudan tiba di rumah Bangka, kata Bharada E, kemudian Ferdy Sambo pulang diantar Saddam. Sambo seperti marah-marah juga langsung masuk ke dalam rumah.

"Setengah jam kemudian Pak FS pulang diantar Saddam, Pak FS kayak marah-marah juga langsung masuk ke dalam rumah. Almarhum bilang 'Chad, nanti ada Pak Erben yang datang, rekannya bapak,' pas Pak Erben datang saya gak lihat karena di belakang," tutur Bharada E menirukan perkataan Brigadir J.

Dia lantas diperintahkan oleh Brigadir J bersama Matheus untuk tidak berada di area dalam rumah atau pelataran rumah Bangka dan hanya menunggu di luar rumah. Kala itu, para ajudan, yakni Adzan Romer, Saddam, art Somad dan art lainnya berada di belakang rumah Bangka, sedangkan di depan rumah ada dia dan dua satpam, yakni Alfon dan Farhan.

Lalu setengah jam kemudian, kata Bharada E ada orang keluar dari rumah, karena pagar ditutup. "Saya bilang Fon ada orang keluar itu, Alfon buka pagar dalam. Ada perempuan, saya enggak kenal, nangis dia, saya bertanya-tanya ini siapa, saya lihat ke dalam," kata Bharada E.

Perempuan itu lantas mencari-cari sopir dan posisi mobilnya. Dia yang mendengar hal itu lantas berlari ke samping rumah Bangka untuk mencari dan memanggil si driver perempuan tersebut hingga akhirnya perempuan tersebut pergi dari rumah Bangka.

"Nah semenjak kejadian itu pak FS sudah lebih sering di Saguling Yang Mulia," kata Bharada E.

5. Susi ART Ferdy Sambo Update Status Cukup Tahu Saja

Bharada E sempat mengungkapkan isi status Whatsapp dari ART Ferdy Sambo, Susi usai kejadian di rumah Magelang.

Hal itu diungkapkannya saat menjadi saksi kasus penembakan Brigadir Yosua atau Brigadir J di Pengadilan Negeri, Jakarta Selatan, Rabu 30 NOvember 2022.

Awalnya, Richard dan Ricky Rizal mengantarkan anak Sambo ke Yogyakarta. Tiba-tiba saat duduk di alun-alun, ia menerima telepon dari Putri Candrawathi yang berada di rumah Magelang.

"Tiba tiba telepon masuk ke saya, saya bilang 'Ih bang ibu telepon saya' saya angkat, terus saya dengar ibu menangis 'kamu di mana dek', 'balik sekarang dek, mana Ricky', balik sekarang, abis itu dia langsung matiin saya bilang ibu nangis nangis, langsung pulang lari ke mobil kebetulan saya yang bawa, kencang saya bawa nya karena panik juga kan ada kejadian apa," ujar Richard saat bersaksi di ruang sidang.

Menurut Richard, ketika sampai di rumah Magelang, ia melihat keadaan rumah yang sepi. Ia berdua Ricky langsung bergegas ke lantai dua.

"Sampai di kediaman, parkir mobil rumah sepi ya, setelah itu masuk lah Ricky di depan saya belakang, masuk lah kok ga ada orang, kita langsung lihat lantai dua, naik tangga di atas saya lihat ada om Kuat sama Susi," jelas Richard.

Richard pun bingung dengan keadaan mencekam yang terjadi di rumah tersebut. Ia pun sempat menengok ke arah kamar memastikan keadaan Putri yang saat itu sedang berbaring.

Tak lama kemudian, ia sempat bertanya kepada Kuat ada apa, namun Kuat tidak menjawab apa masalahnya.

"Saya sempat nengok ke kamar dulu, oh ternyata ibu ada di dalam lagi baring, lalu saya tanya om kuat, 'om ada masalah apa' karena saya lihat sedang emosi, dia jawab 'udah kamu nggak usah tahu dulu'," terang Richard.

"Kemudian saya lihat ada bang Yos, saya ke luar saya tanya bang Yosua, 'bang', 'hm', 'ada masalah apa', 'Nggak tahu tuh om Kuat marah-marah'," tambahnya.

Tak lama, Richard pun lewat kembali ke arah kamar Putri, ia pun melihat Susi sempat menangis saat duduk di sebelah kasur Putri. Ia pun bertanya ada apa kepada Susi namun tak dijawab.

Richard pun bergegas masuk ke kamarnya. Ia pun melihat-lihat handphone sambil beristirahat. Tak lama, Richard melihat status Susi dengan swafoto dirinya dengan bertuliskan 'Cukup tahu aja'.

Mendengar keterangan tersebut, pengunjung sidang lantas tertawa.

6. Bharada E Takut Bernasib seperti Brigadir J

Baharada E mengaku tak kuasa menolak perintah Ferdy Sambo untuk menembak Brigadir J. Dia takut pada Sambo.

Saat itu, Sambo menjabat sebagai Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Kadiv Propam) Polri berpangkat jenderal bintang dua atau Inspektur Jenderal (Irjen).

Sedangkan Bharada E hanya seorang ajudan berpangkat Bhayangkara Dua atau Bharada, yang merupakan pangkat terendah di Polri.

“Saya takut. Ini jenderal bintang dua, menjabat sebagai Kadiv Propam. Dan posisi saya, pangkat Bharada, pangkat terendah," kata Richard.

"Dari kepangkatan itu saja kita bisa lihat bagaikan langit dan bumi,” tuturnya.

Tak hanya itu, Bharada E mengaku takut bernasib sama seperti Brigadir J jika tak menuruti perintah Sambo. "Pada saat dia (Sambo) kasih tahu (skenario pembunuhan) ke saya di Saguling (rumah pribadi Sambo), pikiran saya, saya akan sama seperti almarhum (Yosua) Yang Mulia," ucapnya.

7. Bharada E Tak Ikuti tes Psikologi untuk Dapat Izin Bawa Senjata

Dalam kesaksiannya, Bharada E mengakui senjatanya itu tak dibekali persyaratan lengkap.

"Kemarin saksi bilang saudara nggak ada syarat-syarat untuk pegang senjata?" tanya hakim di persidangan.

"Memang tak ada sama sekali Yang Mulia," jawab Bharada E.

"Memang tak ada karena saudara anggota Brimob?" tanya hakim lagi.

"Saya bukan begitu Yang Mulia, karena mungkin perintah dari Pak FS juga. Jadi, pada saat itu saya piket, Pak FS sempat tanya ke saya senpi sudah ada? Saya bilang belum ada bapak. Oh, nanti kasih tahu Pak Chuck," kata Bharada E lagi.

Bharada E dibekali senjata api oleh Kantor Propam Polri bersama ajudan lainnya yang juga masuk bersamanya sebagai ajudan Sambo, salah satunya Saddam. Saddam lantas mengambil senjata jenis HS dan dia mengambil senjata jenis Glock.

"Iya Yang Mulia setahu saya (setiap ajudan diberikan 1 senpi) dari kantor," tutur Bharada E.

Kala di kesatuannya dahulu di Cikeas, tambah Bharada E, dia juga dibekali senjata api laras panjang jenis Sig Sauer. Namun, saat dia ke kantor Provos Polri untuk menjadi ajudan Ferdy Sambo, dia tak membawanya dan belum meminjamnya ke satuannya tersebut.

"Ternyata waktu itu langsung diteirma (jadi ajudan di Provos) sehingga kami waktu itu belum pinjam senpi di kesatuan, kosoangan (tak ada senpi). Kami sebenarnya mau izin balik dahulu ke kesatuan tuk urus senpi, tapi Bang Daden bilang, udah Chad nanti dari Propam saja," kata Bharada E.

8. Ferdy Sambo Tertawa Usai Bunuh Brigadir J

Bharada E bersama dengan Ricky Rizal sempat bertemu Ferdy Sambo usai mengeksekusi Brigadir Yosua atau Brigadir J.

Hal tersebut dikatakan Richard saat bersaksi di sidang penembakan Brigadir Yosua di PN Jakarta Selatan, Rabu 30 November 2022.

Menurutnya, Ferdy Sambo sempat tertawa karena salah pakai senjata untuk menembak Brigadir J.

"Itu bukan di provos, tapi di kediaman. Jadi saat itu ada saya bang RR juga. Sempat beliau berulang-ulang kali ke kami bilang sambil ketawa, sempat bilang salah pakai senjata," ujarnya Bharada E saat di persidangan.

Dalam hal ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) sempat ragu dengan pernyataan Bharada E tersebut. Ia pun kembali meyakini pernyataan Richard.

"Penyampaian itu kayaknya ada yang salah sambil ketawa?," tanya JPU.

"Iya sambil ketawa dia," jawab Richard.

"Salah tembakkah?," tanya kembali Jaksa.

"Salah pakai senjata," tambah Richard.

1
7

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini