Share

Kampung Sawah Bekasi, Kampung dengan Kehidupan Toleransi Beragama Sangat Tinggi

Abdul Malik Mubarok, Koran Sindo · Kamis 01 Desember 2022 09:26 WIB
https: img.okezone.com content 2022 12 01 337 2718323 kampung-sawah-bekasi-kampung-dengan-kehidupan-toleransi-beragama-sangat-tinggi-rqXjrRjQOy.JPG Masjid Agung Al-Jauhar Yasfi berdiri megah di Kampung Sawah, Kota Bekasi, Minggu (27/11/2022). Jamaah masjid ini hidup rukun tetap bisa beribadah khusyuk meski berdampingan dengan aktivitas ibadah umat lain. (Foto: dok MNC Portal/Abdul Malik M)

BEKASI - Lantunan ayat suci Al-Qur'an dan lagu misa mewarnai pagi yang cerah di Kampung Sawah, Kota Bekasi, Jawa Barat, Minggu (27/11/2022) lalu. Suara ritmis nan magis itu saling mengisi ruang pendengaran warga atau pengguna jalan yang melintas di Segitiga Emas tersebut.

Disebut Segitiga Emas karena di Kampung Sawah ini terdapat tiga rumah ibadah yang saling berdekatan. Jaraknya tak lebih dari 100 meter. Masing-masing Masjid Agung Al-Jauhar Yasfi, Gereja Kristen Pasundan (GKP) milik umat Protestan dan Gereja St. Servatius kepunyaan umat Katolik.

Pagi itu, para petugas di masing-masing tempat ibadah sibuk mengatur keluar masuk jamaah atau jemaat. Sebab, di Masjid Al-Jauhar ada pengajian Ahad pagi, sementara di GKP dan Gereja St. Servatius digelar misa pagi. Semuanya tenggelam dalam kesibukan ibadah masing-masing.

"Kalau masalah agama kan masing-masing. Lakum dinukum waliyadin. Silakan masing-masing," kata Ketua Yayasan Pendidikan Fisabilillah sekaligus tokoh muslim di Kampung Sawah KH Rachmadin Afif kepada MNC Portal.

Menurut Abah, sapaan akrab KH Rachmadin Afif, toleransi antarumat beragama di Kampung Sawah sudah terbentuk sejak dulu. Wilayah yang saat ini masuk dalam Kelurahan Jatimelati dan Jatimurni, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi ini dihuni oleh warga yang heterogen.

Mereka beragama Islam, Katolik, Protestan, Hindu, dan lainnya. Mereka juga hidup rukun dan saling menghargai. Sikap itu terus diwariskan ke anak cucu hingga saat ini.

"Orang tua dulu sudah memberikan contoh yang baik, hidup rukun. Kata orang tua, biar kata dia lain agamanya, kita hidup harus rukun. Orang tua dulu itu begitu ngajarinnya," ujar Abah dalam logat Betawi yang kental.

Imam Masjid Agung Al-Jauhar ini masih ingat saat kecil dirinya diajari orang tua tentang akhlak dan etika bertetangga. Saat Lebaran, keluarganya yang muslim mengantar makanan ke tetangga Nasrani.

Begitu pun sebaliknya, tetangga Nasrani mengirimkan makanan saat Tahun Baru. Saat ini Abah masih meneruskan ajaran itu dengan bersilatuhmi meski tidak lagi mengantar masakan. Menurutnya makanan tidak lagi menjadi persoalan di masa sekarang.

Pun begitu ketika ada yang berduka. Semua orang datang takziyah meski yang meninggal dunia nonmuslim. Tetangga membantu menyiapkan tenda dan bangku untuk keluarga yang sedang kesusahan. "Secara kemasyarakatan yang sifatnya di luar agama, di luar akidah, ya udah bekerja sama," kata Abah.

Usia tempat ibadah di kampung ini tergolomg tua. Gereja Kristen Pasundan GKP adalah yang tertua, berdiri pada 1874. Kemudian disusul Gereja St Servatius pada 1896. Sementara Masjid Agung Al-Jauhar Yasfi baru berdiri pada 1965.

Sikap toleran masyarakat Kampung Sawah juga ditunjukkan dengan banyaknya tempat ibadah. Di Kecamatan Pondok Melati, saat ini setidaknya berdiri sebanyak 36 gereja dan ratusan masjid serta musala. Ada pula sekolah umat Hindu dan Vihara.

Kerukunan yang terus terjaga baik di Kampung Sawah ini sejalan program Kementerian Agama yang mendorong masyarakat hidup damai dengan menjalankan agama secara moderat. Untuk menggelorakan moderasi beragama tersebut, pada 2022 ini, Kementerian Agama juga secara khusus mencanangkan sebagai Tahun Toleransi.

Menurut Pendeta Umat GKP Kampung Sawah, William Alexander, kebebasan beragama itu bukan sekadar opini tapi juga membuka diri untuk orang lain agar bisa beribadah sesuai keyakinan dan kenyamanannya.

Dia memisalkan jumlah gereja di Kecamatan Pondok Melati mungkin paling banyak di Indonesia. Meskipun sama-sama gereja tapi banyak aliran yang cara beribadahnya juga berbeda.

"Kami pun sebagai gereja tertua dan pertama, tidak menutup gereja lain untuk hadir mengisi ruang-ruang keberagaman. Keberagamannya bukan hanya antaragama tapi sesama iman, sehingga kehadiran orang untuk beribadah itu tidak kita halangi," kata Pendeta William.

Menurutnya, saat ini sudah disepakati tidak ada penambahan gereja di Pondok Melati karena melihat jumlah jiwa penduduk, tempat ibadah yang ada sudah cukup.

Marga dan Ngariung

Sejumlah jemaat berada di halaman Gereja St Servatius Kampung Sawah, Kota Bekasi, Minggu (27/11/2022). Gereja ini hanya berjarak sekitar 100 meter dengan Masjid Agung Al-Jauhar Yasfi. (Foto: dok Kemenag)


Toleransi antarumat beragama yang terjadi di Kampung Sawah juga dipengaruhi adanya keluarga besar asli daerah ini. Keluarga besar ini semacam marga yang keberadaannya memperkuat hubungan harmonis masyarakat. Beberapa marga asli Kampung Sawah adalah Noron, Baiin, Napiun, Natanael, Rikin, Kaiin, Niman, Sarin, Samad, dan Nalih.

"Jadi marga Betawi Kampung Sawah ini memiliki satu fam, memiliki suatu keluarga besar, dengan marga-marga seperti itu. Ya memperkuatlah secara tidak langsung hubungan emosional antara marga satu dengan marga lain," ujar Wakil Dewan Paroki Harian Gereja St. Servatius Kampung Sawah, Hari Wibowo.

Untuk menjaga kerukunan antarumat, para tokoh masyarakat dan agama, rutin berkomunikasi. Mereka saling bersilaturahmi, saling berkunjung, baik dalam kehidupan sosial kemasyarakatan maupun keagamaan.

"Misalkan Lebaran kita main ke Yasfi, kita juga (berkunjung) ada satu pesantren yang besar Al Aziz. Demikian juga kalau kita ada acara, dari pihak Yasfi datang," ucap Hari.

Selain itu, Kampung Sawah juga mempunyai kegiatan rutin sebagai wadah berkumpul para tokoh agama dan masyarakat, termasuk perangkat pemerintahan. Namanya Ngariung Bareng.

Dalam pertemuan itu dibahas berbagai macam persoalan yang terjadi di masyarakat untuk dicarikan solusinya. Sehingga ketika ada permasalahan yang berpotensi merusak kerukunan antarumat beragama bisa segera diantisipasi.

Kuatnya kerukunan hidup antarumat beragama membuat masyarakat Kampung Sawah terpengaruh dinamika politik yang pernah terjadi, seperti Pemilihan Presiden (Pilpres) maupun Pemilihan Gubernur DKI Jakarta. Meski berbeda-beda pilihan tapi hubungan harmonis tetap terjaga. Warga sadar bahwa masing-masing memiliki pilihan yang tidak bisa dipaksakan.

"Pilihan partai politik, pilihan presiden, pilihan apa pun, kita dengan kesadaran kita memang beda, nggak masalah, yang penting kita punya visi yang sama membangun kehidupan Kampung Sawah yang baik," kata Pendeta William.

Follow Berita Okezone di Google News

(Wul)

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini