Share

Kisah Benny Moerdani Jalankan Misi Super Rahasia Pertaruhkan Kewarganegaraan

Rafika Putri, Okezone · Kamis 01 Desember 2022 06:06 WIB
https: img.okezone.com content 2022 12 01 337 2718207 kisah-benny-moerdani-jalankan-misi-super-rahasia-pertaruhkan-kewarganegaraan-4ioRBVie1P.jpg Benny Moerdani (Foto: Medsos)

JAKARTA - Benny Moerdani sebagai jenderal Kopassus merupakan sosok yang mematikan. Dibekali kemampuan prajurit khusus, ia kerap menjalankan misi berbahaya.

Selain cerita tentang berhasil membantu dan diam-diam menyelundupkan senjata ke Taliban di Afghanistan, Benny juga pernah menjalankan misi operasi super rahasia di Timur Tengah, yaitu membeli pesawat bekas A-4E Skyhawk dari Israel.

Mengutip dari buku Yang Belum Terungkap karya Benny Moerdani, pada tahun 1979 Benny melakukan operasi rahasia untuk membeli 32 jet tempur bekas A-4E Skyhawk Israel. Nama kodenya adalah Operation Alpha, diambil dari huruf pertama pesawat.

Operasi ini juga ditugaskan langsung oleh Soeharto, karena Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, operasi ini dilakukan dengan sangat rahasia.

Tak main-main, Benny mengancam selama pelaksanaan misi ini, bahwa jika misi super rahasia ini gagal, kewarganegaraan semua anggota yang terlibat dalam misi tersebut tidak akan diakui.

Dalam bukunya "Kesetiaan Tanpa Pamrih", Marsekal Purna Wirawan Ashadi Tjahjadi, mantan Kepala Staf Angkatan Udara Indonesia, mengatakan, Benny mengancam akan menyangkal kewarganegaraan pasukan yang ditugaskan membawa pesawat itu jika misi itu gagal.

β€œYang ragu, silakan kembali sekarang,” Arshadi mengutip ucapan Benny saat itu dalam bukunya.

Pembelian tersebut meresahkan dinas intelijen Indonesia yang harus mengirimkan tim mulai dari teknisi hingga pilot tanpa terdeteksi oleh banyak pihak. Identitas semua tentara yang dikirim ke Israel dibuang ke laut di Singapura.

Follow Berita Okezone di Google News

Selain itu, untuk kerahasiaan, mereka menyebut Israel sebagai negara bagian Arizona di AS. Alamat korespondensi juga dikirimkan ke Kantor Atase Militer KBRI Washington.

Djoko Polwoko, salah satu anggota tim, mengatakan dalam otobiografinya "Menari di Angkasa" bahwa mereka pertama kali terbang ke Frankfurt dengan Lufthansa. Tiba di Bandara Ben Gurion di Tel Aviv setelah beberapa kali ganti pesawat.

Pilot langsung dikawal oleh seorang petugas, tidak menyisakan waktu untuk menyerahkan dokumen perjalanan seperti paspor. Djoko mengatakan dalam buku itu: "Agen Mossad yang luar biasa, dia dapat dengan cepat mengidentifikasi penumpang gelap tanpa paspor."

Penerbangan pelatihan untuk Operasi Alpha berakhir pada 20 Mei 1980. Penerbang merasa senang, tapi tidak lama. Pasalnya, sertifikat kelulusan dan ijazah pendidikan enam bulan dibakar oleh petugas intelijen penghubung di depan mereka.

Tidak hanya itu, semua barang milik pilot juga dibakar, termasuk peta laut dan peta perjalanan. Djoko menulis, "Mereka memesan, tidak ada bukti bahwa Anda pernah ke sini."

Setelah mengenyam pendidikan, pilot tersebut kembali ke Indonesia melalui Washington. Selama dua minggu, mereka diajak berkeliling Amerika Serikat, menginap di sepuluh hotel dan mencoba berbagai moda transportasi. Mereka juga perlu mengirim kartu pos ke Indonesia.

Mereka kemudian melakukan perjalanan ke Arizona, memasuki Pangkalan Angkatan Udara Yuma, pangkalan Korps Marinir AS. Di sana, mereka mendapat pelatihan selama tiga hari. Saat hari terakhir, di wajibkan berfoto seolah-olah baru diwisuda dan menerima ijazah versi Marine Corps.

Salah satu pose wajibnya adalah berdiri di depan A-4 Skyhawk Amerika. "Itu penyamaran intelijen," kata Djoko dalam otobiografinya. Sekembalinya ke Indonesia, mereka mempersembahkan Skyhawk kepada publik di hari ulang tahun ABRI pada 5 Oktober 1980.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini