Share

3 Jenderal TNI yang Pernah Nyaris Tewas Saat Menjalankan Tugas, Nomor 2 Diselamatkan Semut

Tika Vidya Utami, Litbang Okezone · Kamis 01 Desember 2022 07:05 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 30 337 2717872 3-jenderal-tni-yang-pernah-nyaris-tewas-saat-menjalankan-tugas-nomor-2-diselamatkan-semut-aNcQhnkTHG.jpg Benny Moerdani. (Foto: Ist.)

JAKARTA - Terdapat beberapa jenderal yang nyaris tewas saat menjalankan tugas. Demi mempertahankan Tanah Air tercinta, para jenderal ini diterjunkan dalam operasi yang berbahaya. Berikut jenderal yang pernah nyaris tewas saat menjalankan tugas.

BACA JUGA: Kisah Kedekatan Jenderal Benny Moerdani dengan Gus Dur: Sama-Sama Pluralis dan Nasionalis

1. Jenderal TNI Leonardus Benyamin Moerdani 

Leonardus Benyamin Moerdani atau yang lebih dikenal Benny Moerdani lahir di Cepu, 2 Oktober 1932. Pda 1960, Benny dikirim ke Amerika Serikat untuk mengikuti pendidikan pasukan komando. Ketika Orde Baru, Benny menjadi perwira termuda yang berpangkat letjen. Beberapa jabatan pernah diembannya, seperti Pelatih Korps Komando Angkatan Darat pada 1952. Pada 1983-1988, Benny menjabat sebagai Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Kemudian pada 1988-1993, Benny diangkat menjadi Menteri Pertahanan dan Keamanan.

BACA JUGA: Kisah Sintong Pandjaitan saat Prabowo Dimutasi dari Kopassus

Benny yang dikenal sebagai prajurit berani ini menjadi tokoh dalam Pembebasan Irian Barat pada 1962. Saat itu, Benny serta pasukan Kopassus yang diterjunkan dalam operasi, tiba-tiba diserang oleh Belanda. Padahal, mereka sedang istirahat di Sungai Kumbai, dalam perjalanan menuju pertahanan Belanda di Merauke. Pertempuran pun tidak dihindarkan. Karena tidak menduga akan mendapat serangan, Benny memerintahkan pasukan untuk langsung berlindung dan menyelamatkan diri. Pada penyergapan tersebut, Jenderal Benny nyaris tewas. Beruntung, tembakan musuh yang mengarah kepada dirinya hanya mengenai topi rimba. Benny pun dapat selamat.

Follow Berita Okezone di Google News

2. Letjen TNI Sintong Panjaitan 

Sintong Hamonangan Panjaitan atau dikenal dengan Sintong Panjaitan lahir di Tarutung, 4 September 1940. Ia merupakan lulusan Akademi Militer Nasional (AMN) Magelang 1963. Letjen TNI Sintong Panjaitan adalah perwira yang banyak melakukan operasi tempur. Bahkan saat terjun dalam operasi tempur tersebut, Sintong hampir kehilangan nyawa. Sintong nyaris tewas terkena tembakan musuh ketika peluru melintas di kepalanya. Peristiwa tersebut terjadi saat Sintong berjuang untuk menaklukkan kelompok pemberontak Lodewijk Mandatjan di Papua.

Ketika itu, Tim RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat) melakukan pembersihan di dalam kota Kecamatan Warmare. Pada siang harinya, tim tersebut kembali ke Manokwari. Truk yang mengangkut pasukan itu melewati perbukitan yang rawan penyergapan. Usai berhenti di ketinggian, tim RPKAD dan Sintong turun guna orientasi medan.

Diketahui, Sintong duduk bersebelahan dengan Mayor Fordeling yang merupakan Kasi I/Intelijen Korem 171/Manokwari. Secara tiba-tiba, mereka ditembak oleh pemberontak. Beruntung, peluru tidak mengenai Sintong, hanya melewati kepalanya. Di saat yang bersamaan, Sintong sedang menggaruk kakinya yang terkena gigitan semut merah.

3. Jenderal TNI Abdullah Makhmud Hendropriyono 

Abdullah Makhmud Hendropriyono atau AM Hendropriyono lahir di Yogyakata, 7 Mei 1945. Ia menyelesaikan pendidikan di Akademi Militer Nasional (AMN) Magelang pada 1967. Pada 1989, ia juga menyelesaikan pendidikan Sesko ABRI. Sejumlah posisi penting pernah dijabatnya, seperti Kepala BIN (Badan Intelijen Negara) pada 2001-2004, Menteri Transmigrasi dan Pemukiman Perambah Hutan (PPH) Kabinet Reformasi Pembangunan pada 1998-1999. Ia juga pernah menjabat sebagai Panglima Kodam Jakarta Raya pada 1993.

Jenderal Hendropriyono juga hampir kehilangan nyawa saat bertugas. Peristiwa itu terjadi ketika dirinya melakukan pemburuan pasukan Barisan Rakyat (Bara) Sukirjan alias Siauw Ah San pada operasi Pasukan Gerilya Rakyat Serawak (PGRS)/Pasukan Kalimantan Utara (Paraku) tahun 1973. Hendropriyono yang berpangkat kapten harus merayap sejauh 4,5 kilometer di hutan Kalimantan. Ia berhasil menemukan pimpinan Bara lalu memintanya untuk menyerah. Karena mendapat penolakan, Hendropriyono memerintahkan pasukan untuk menyerbu. Hendropriyono berhasil menendang dada Siauw Ah San.

Sebagai balasan, pimpinan Bara itu sempat melempar bayonet ke bagian paha kirinya hingga membuatnya terjatuh. Siauw Ah San bangkit hendak menusuk dada kiri Hendropriyono. Namun, Hendropriyono berusaha menyelamatkan diri dengan mengambil pistol dan menembak Siauw Ah San. Hendropriyono berhasil selamat, meski terluka cukup parah.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini