Share

Kata Arif Rachman, Isi Rekaman CCTV Beda dengan Keterangan Kapolres Jaksel

Ari Sandita Murti, MNC Portal · Senin 28 November 2022 15:24 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 28 337 2716317 kata-arif-rachman-isi-rekaman-cctv-beda-dengan-keterngan-kapolres-jaksel-tGFx7B1JXb.jpg Arif Rachman (Foto : MPI)

JAKARTA - Saksi sekaligus terdakwa kasus Obstruction of Justice kematian Brigadir J, Arif Rachman Arifin mengeritakan detik-detik dia melihat rekaman CCTV Komplek Polri Duren Tiga, Pancoran, Jakarta Selatan kala rekaman itu menampilkan Brigadir J masih hidup.

Arif mengatakan, pasca dilakukannya olah TKP tim gabungan Mabes Polri di rumah dinas Suren Tiga, dia diberitahu Chuck Putranto untuk menonton rekaman CCTV di Komplek Polri pada tanggal 13 Juli setelah insiden penembakan Brigadir J terjadi. Dia lantas ke rumah Ridwan Soplanit, yang mana lokasinya di sebelah rumah dinas Ferdy Sambo.

"Saya masuk sempat ketemu Ridwan, saya sampaikan kepada Ridwan, Wan saya pinjam kursi untuk duduk-duduk capek, kebetulan di teras rumahnya itu banyak makanan," ujar Arif di persidangan, Senin (28/11/2022).

Menurutnya, Baiquni lantas membuka laptopnya memperlihatkan rekaman CCTV, yang mana durasi rekaman itu berkisar 2 jam atau menunjukan pukul 17.00-18.00 WIB. Awalnya dia hanya mengira kronologis kematian Brigadir J itu sesuai sebagaimana disampaikan Kapolres Jakarta Selatan dalam konfrensi persnya pasca kematian Brigadir J.

Namun, kata dia, isi rekaman CCTV tersebut ternyata berbeda dengan kronologi sebagaimana disampaikan Kapolres Jakarta Selatan (Jaksel).

"Tiba-tiba Chuck menyampaikan, loh bang kok ini Yosua masih hidup? Mana Yosua, itu yang kaos putih loh, setahu saya kaosnya merah. Iya, saya lihat di ruang autopsi itu kaosnya warna merah. Keliru bang ini Yosua, terus saya diam di situ," kata Arif.

Menurut Arif, Brigadir J di rekaman CCTV mengenakan kaos putih sebagaimana ditunjukkan Chuck, hanya saja kala di ruang autopsi, ketika dia melakukan pengamanan autopsi Brigadir J, dia sempat melihat adanya kaos warna merah di dekat tumpukan baju, tepat di samping jenazah Brigadir J bersama tumpukan celana jeans warna biru. Karena itu, dia mengira seharusnya sesaat sebelum penembakan itu terjadi, Brigadir J mengenakan kaos warna merah.

Follow Berita Okezone di Google News

"Sewaktu di ruang autopsi sudah tidak pakai baju yang mulia (Brigadir J), sudah bersih yang mulia ketika saya masuk, maksudnya sudah dilepas bajunya semua," tutur Arif.

"Makanya saudara mengatakan harusnya baju warna merah?" tanya hakim lagi.

"Siap," jawab Arif.

Hakim lantas menunjukan kaos Brigadir J yang sudah berlumuran darah hingga akhirnya Arif membenarkannya. Adapun rekaman CCTV yang dilihatnya itu merupakan CCTV yang menyorot ke depan rumah dinas Duren Tiga, hanya saja dia tak tahu pasti dari DVR mana rekaman CCTV tersebut lantaran dia tak bertanya pada Chuck.

Dia memaparkan, dalam rekaman CCTV, tampak Brigadir J ada di halaman rumah dinas Sambo kala Ferdy Sambo baru saja tiba di rumah dinasnya. Padahal, dalam pernyataan Kapolres Jakarta Selatan sebagaimana kesaksian Putri Candrawathi, ada kasus pelecehan terhadap Putri hingga akhirnya Bharada E atau Richard Eliezer memergoki Brigadir J dan terjadilah aksi tembak-menembak.

"Di rilisan ketika pak Ferdy Sambo tiba, peristiwa tembak-menembak itu sudah selesai. Namun, dalam rekaman CCTV, ketika Pak FS datang Yosua masih nampak di depan," kata Arif.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini