Share

Pengertian Eksepsi dalam Hukum dan Apa Saja Jenis-jenisnya

Muhamad Alief Akbar, Presma · Senin 28 November 2022 15:01 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 28 337 2716292 pengertian-eksepsi-dalam-hukum-dan-apa-saja-jenis-jenisnya-4tln3qvRuA.jpg Ilustrasi/Unsplash

JAKARTA - Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam persidangan lanjutan gelar perkara terdakwa Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi pada Kamis 20 Oktober 2022 resmi menolak keseluruhan Eksepsi yang diajukan oleh kedua terdakwa.

JPU dalam pertimbangan untuk menolak keseluruhan Eksepsi yang diajukan oleh terdakwa menjelaskan bahwa jika dilihat dari syarat formil dan materiil terdakwa pasangan suami istri tersebut sudah memenuhi kedua syarat tersebut, kemudian pada tanggal 26 Oktober 2022 Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan mengabulkan permohonan Jaksa Penuntut Umum (JPU) menolak Eksepsi yang diajukan oleh Penasihat Hukum terdakwa Ferdy Sambo dan istrinya Putri Candrawathi.

Pengacara pihak keluarga Nofriansah Yosua Hutabarat atau Brigadir J yaitu Kammarudin Simanjutak menyatakan bahwa penolakan eksepsi Penasihat Hukum Terdakwa oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan merupakan kemenangan yang kian semakin terlihat dan akan diperoleh satu per satu sehingga perkara ini akan masuk pada materi perkara.

Atas penolakan eksepsi oleh majelis hakim PN Jakarta Selatan pada rabu 26 Oktober 2022 tersebut pihak keluarga Brigadir J merasa puas dan senang karena keadilan yang kian hari semakin terlihat.

Pihak keluarga Brigadir J mengajak masyarakat untuk tetap mengawal serta mengawasi jalannya perkara ini dan berharap segera diberikan keadilan, untuk dapat mengawal serta mengawasi perkara ini dibutuhkan pemahaman yang baik mengenai istilah-istilah dalam proses pengadilan salah satunya adalah eksepsi.

Pengertian dari eksepsi sendiri menurut Yahya Harahap merupakan suatu tangkisan atau bantahan (Objection) atau bisa juga diartikan sebagai Pembelaan (plea) yang diajukan tergugat terhadap materi pokok gugatan penggugat.

Follow Berita Okezone di Google News

Tangkisan atau bantahan yang diajukan dalam bentuk eksepsi ditujukan kepada hal-hal yang menyangkut syarat-syarat formalitas gugatan, yaitu jika gugatan yang diajukan, mengandung cacat pelanggaran formil yang mengakibatkan gugatan tidak sah yang karenanya gugatan tidak dapat diterima (inadmissible) maka dari itu tuntutan keberatan yang diajukan melalui eksepsi bukan ditujukan untuk menyinggung pokok perkara.

Adapun eksepsi memiliki jenis-jenis tersendiri yaitu di antaranya adalah Eksepsi tidak berwenang mengadili (Exceptie Van Onbeveogheid) dalam eksepsi ini bantahan diajukan karena pengadilan tidak berwenang mengadili perkara yang bersangkutan, tetapi lingkungan atau pengadilan lain yang berwenang untuk mengadilinya, contohnya yaitu eksepsi tidak berwenang secara absolut dan eksepsi tidak berwenang secara relatif.

Kemudian terdapat jenis eksepsi Formal atau eksepsi Prosesual di luar eksepsi kompetensi yang di antaranya adalah Eksepsi Obscurr Libel dan Eksepsi Rei Judicatie, Eksepsi Obscur Libel diajukan apabila isi gugatan kabur misal Posita yang tidak jelas karena dasar hukum yang menjadi dasar gugatan tidak jelas dan objek yang disengketakan dalam gugatan tidak jelas, sementara Eksepsi Rei Judicatie diajukan apabila gugatan yang diajukan sebenarnya sudah pernah diputus dan telah memiliki kekuatan hukum tetap karena pada dasarnya suatu gugatan yang telah diputus oleh hakim dilarang untuk diajukan gugatan kembali di pengadilan.

Selain itu terdapat jenis eksepsi hukum materiil yaitu diantaranya adalah Eksepsi dilatoir dan Eksepsi Premptoir.

Pada eksepsi dilatoir dapat diajukan oleh penggugat apabila gugatan didalamnya masih prematur dalam hal ini misal tergugat diajukan gugatan karena mempunyai utang pada penggugat padahal utang tersebut belum jatuh tempo.

Kemudian pada Eksepsi premptoir yaitu eksepsi yang mengakui kebenaran dalil gugatan.

Untuk dapat mengajukan eksepsi dapat dilakukan melalui beberapa bentuk pengajuan yaitu berbentuk lisan (Oral) dan berbentuk tulisan (In Writing), pada bentuk pengajuan lisan diatur dalam pasal 133 HIR yang memberi hak kepada tergugat untuk mengajukan eksepsi kompetensi relatif secara lisan, kemudian berbentuk tulisan diatur dalam pasal 125 ayat (2) jo, pasal 121 HIR yang menyatakan bahwa dalam surat jawaban, tergugat dapat mengajukan eksepsi kompetensi relatif apabila perkara yang disengketakan tidak termasuk kewenangan relatif PN yang bersangkutan.

Tujuan dari pengakhiran yang diminta melalui eksepsi tersebut bertujuan agar pengadilan menjatuhkan putusan negatif, yang menyatakan gugatan tidak dapat diterima (niet ontvankelijk) yang berdasarkan putusan negatif itu, pemeriksaan perkara diakhiri tanpa menyinggung penyelesaian materi pokok perkara, kemudian tujuan dari pengajuan eksepsi sebenarnya adalah untuk memastikan bahwa perkara yang akan bergulir di Pengadilan itu sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku dan dengan ketentuan Hukum Acara.

Dari pengertian dan jenis-jenis eksepsi yang telah dijelaskan di atas dapat pula disimpulkan bahwa eksepsi ini diajukan demi tegaknya kepastian hukum dalam beracara dan demi kepastian hukum pihak Tergugat dan Penggugat.

Oleh karena itu untuk dapat mengawal serta mengawasi jalannya perkara diwajibkan untuk memahami mengenai eksepsi dan jenis-jenisnya karena apabila tidak memahami dengan baik mengenai eksepsi maka tentu gugatan yang diajukan oleh Penggugat akan serta merta diterima oleh pihak Tergugat tanpa memandang aspek kepastian hukum.

Muhamad Alief Akbar

Aktivis Persma Kirana FH UPH

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini