Share

Skenario Koalisi Parpol di 2024 Potensi Layu Sebelum Berkembang

Tim Okezone, Okezone · Jum'at 25 November 2022 17:54 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 25 337 2714921 skenario-koalisi-parpol-di-2024-potensi-layu-sebelum-berkembang-qF2UjT9FKS.jpg Ilustrasi okezone

JAKARTA - Koalisi yang sudah terbentuk menjelang Pilpres 2024, saat ini berpotensi besar mogok di tengah jalan. Pasalnya, banyaknya rayuan dalam penjajakan politik bisa mengganggu kesepakatan politik yang sudah terbentuk.

(Baca juga: Wapres Maruf: Pemilu, Pilpres, dan Pileg Jangan Membuat Kita Terpecah Belah!)

“Misalnya rayuan elektabilitas menjadi penyebab koalisi mogok atau pindah haluan ke koalisi lain. Jika tidak segera deklarasi, akan berpotensi koalisi deklarasi capres dan cawapres last minutes," ujar Pengamat politik dan pendiri Indonesia Political Power, Ikhwan Arif, Jumat (25/11/2022).

Menurutnya, koalisi yang sudah terbentuk atau memenuhi ambang batas pencalonan presiden (presidential threshold 20%) baik itu KIB, KIR, Poros Perubahan maupun PDIP, semuanya sangat bergantung pada nilai elektabilitas figur.

“Misalnya tokoh dengan nilai elektabilitas tinggi Ganjar Pranowo, Prabowo Subianto dan Anis Baswedan menjadi rebutan partai politik untuk mempertahankan basis elektoral mereka di masing-masing daerah, tujuannya tidak lain untuk mempertahankan elektabilitas partai juga,"ungkapnya.

Rayuan elektabilitas ini kata dia menjadi penentu keseriusan partai politik berkoalisi. Pertama komposisi KIB (PAN, Golkar dan PPP) sudah memenuhi presidential threshold 20%, namun masih terkendala elektabilitas tokoh di luar koalisi.

Dia memberi contoh KIB mendukung Ganjar elektabilitasnya tinggi akan berdampak pada porsi koalisi bertambah jika PDIP berkoalisi dengan KIB, itupun sedikit kemungkinan karena PDIP berkemungkinan besar menyodorkan nama Puan sebagai bakal capres.

“Menurut saya Ganjar menjadi capres alternatif bagi KIB, ini yang kemudian menyiratkan KIB deklarasi capres last minutes,"katanya.

"Kedua, poros perubahan yang terdiri dari partai Nasdem, PKS dan Demokrat. Poros ini terbentuk atas kesamaan figur Anies Baswedan yang memiliki elektabilitas tinggi kemudian Anies dinilai sebagai tokoh antitesanya Jokowi,”tambahnya.

Besar kemungkinan kata dia, PKS dan Demokrat sebagai partai diluar pemerintah untuk tetap mendukung Anis Baswedan sebagai capres.

Kendalanya ada di cawapres pendamping Anies, yang sampai hari ini tidak ada tokoh PKS dan Demokrat yang mampu melangkahi elektabilitasnya Anies.

"Ketiga, komposisi Koalisi Indoneisa Raya (KIR) yaitu Gerindra dan PKB keduanya sudah membentuk piagam deklarasi masih terkendala oleh faktor elektabilitas figur. Baik itu Muhaimin Iskandar dan Prabowo Subianto, keduanya sama-sama berkeinginan maju sebagai capres, sedangkan elektabilitas Prabowo lebih besar daripada Muhaimin Iskandar, kemungkinannya ya Prabowo Subianto sebagai capres,"ulasnya.

Gerindra sebagai salah satu koalisi pemerintah dan kedekatannya dengan partai pengusung pemerintah (PDIP) berpeluang besar berkoalisi dengan PDIP, Prabowo bisa saja berpasangan dengan Puan Maharani.

“Jika komposisi koalisi bertambah, kekuatan politik juga bertambah, peluang menang semakin besar. Sehingga PKB memang berada pada pilihan sulit jika terus menyuarakan posisi tawar sebagai capres. Seharusnya PKB merelakan posisi capres atau tetap bertahan di koalisi untuk meningkatkan suara partai politik, karena pertimbangan efek ekor jas (cottail effect),” terangnya.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini