Share

Penuhi Panggilan KPK, Politikus PDIP Utut Adianto Diduga Diperiksa Terkait Kasus Suap

Arie Dwi Satrio, Okezone · Jum'at 25 November 2022 11:19 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 25 337 2714585 penuhi-panggilan-kpk-politikus-pdip-utut-adianto-diduga-diperiksa-terkait-kasus-suap-YOr7ZIHiHk.jpg Politikus PDIP Utut Adianto diperiksa KPK (Foto: Arie Dwi Satrio)

JAKARTA - Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadwalkan ulang pemeriksaan Wakil Ketua Komisi I DPR RI Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Utut Adianto, hari ini, Jumat (25/11/2022). Sebab, Utut Adianto tidak hadir pada panggilan pemeriksaan kemarin.

Utut Adianto datang memenuhi panggilan pemeriksaan KPK, pagi ini. Sedianya, mantan Wakil Ketua DPR RI tersebut bakal dimintai keterangannya sebagai saksi terkait kasus dugaan suap Rektor nonaktif Universitas Lampung (Unila), Karomani (KRM).

"Iya betul. Drs Utut Adianto (Anggota DPR RI), saat ini saksi telah hadir," kata Kabag Pemberitaan KPK, Ali Fikri saat dikonfirmasi, Jumat (25/11/2022).

 BACA JUGA:KPK Periksa Bupati Lampung Tengah, Selisik Aliran Uang Suap Rektor Unila

Selain Utut, penyidik juga mengagendakan pemeriksaan terhadap dua saksi lainnya, pada hari ini. Keduanya yaitu, Karyawan Swasta, Mustopa Endi Saputra Hasibuan dan seorang pedagang, Umum Marlia.

Belum diketahui, apa yang bakal didalami penyidik dari keterangan para saksi tersebut. Namun belakangan, KPK sedang mengembangkan kasus dugaan suap terkait penerimaan calon mahasiswa baru ini.

KPK membuka peluang menjerat pihak lain dalam kasus ini jika ditemukan bukti permulaan yang cukup.

BACA JUGA: Usut Suap Rektor Unila, KPK Periksa Anggota DPR hingga Dua Bupati di Lampung 

Sejauh ini, KPK baru menetapkan empat orang sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait penerimaan calon mahasiswa baru di Universitas Lampung (Unila) tahun 2022. Keempat tersangka tersebut yakni, Rektor nonaktif Unila, Karomani (KRM).

Kemudian, Wakil Rektor (Warek) 1 Bidang Akademik Unila, Heryandi (HY); Ketua Senat Unila, M Basri (MB); serta pihak swasta, Andi Desfiandi (AD). Karomani, Heryandi, dan Basri, ditetapkan sebagai tersangka penerima suap. Sedangkan Andi Desfiandi, tersangka pemberi suap.

Dalam perkara ini, Karomani diduga mematok atau memasang tarif Rp100 juta hingga Rp350 juta bagi para orang tua yang menginginkan anaknya masuk di Unila. Karomani diduga telah berhasil mengumpulkan Rp5 miliar dari tarif yang ditentukan tersebut.

Adapun, uang dugaan suap itu diterima Karomani melalui sejumlah pihak perantara, di antaranya, Heryandi dan M Basri. Salah satu pihak swasta yang menyuap Karomani yakni, Andi Desfiandi.

Atas perbuatannya, Andi selaku pemberi suap disangkakan melanggar Pasal 5 Ayat (1) huruf a atau huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001.

Sedangkan Karomani, Heryandi, dan M Basri, selaku penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 199 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 Jo Pasal 55 Ayat (1) ke 1 KUHP.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini