Share

KPK Periksa Bupati Lampung Tengah, Selisik Aliran Uang Suap Rektor Unila

Arie Dwi Satrio, Okezone · Kamis 24 November 2022 22:32 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 24 337 2714353 kpk-periksa-bupati-lampung-tengah-selisik-aliran-uang-suap-rektor-unila-gh3ogQIvDV.jpg Kabag Pemberitaan KPK, Ali Fikri. (Foto: Dok Okezone.com)

JAKARTA - Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) rampung memeriksa Bupati Lampung Tengah, Musa Ahmad, terkait kasus dugaan suap Rektor nonaktif Universitas Lampung (Unila), Karomani (KRM). Musa dicecar penyidik soal tarif harga memuluskan calon mahasiswa untuk masuk Unila hingga aliran uang suap Karomani.

Tarif harga untuk masuk Unila hingga aliran uang dugaan suap Karomani tersebut juga ditelisik penyidik ke saksi lainnya yakni, Bos Tegal Mas Lampung, Thomas Azis Riska; PNS, Jaka Adiwiguna; dua pihak swasta, M Alzier Dhianis Thabrani dan Mahfud Santoso serta Wiraswasta, Asep Sukohar.

"Para saksi hadir dan didalami pengetahuannya antara lain terkait dengan dugaan adanya permintaan uang dari tersangka KRM untuk meluluskan calon mahasiswa baru," kata Kabag Pemberitaan KPK, Ali Fikri melalui pesan singkatnya, Kamis (24/11/2022).

"Termasuk didalami juga terkait adanya aliran uang tersangka KRM ke beberapa pihak," sambungnya.

Sementara itu, kata Ali, tiga saksi mangkir alias tidak memenuhi panggilan pemeriksaan KPK. Ketiganya yakni, Anggota DPR RI Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), H Muhammad Kadafi; Bupati Lampung Timur, M Dawam Rahardjo; dan Wiraswasta, Sihono.

 Baca juga: KPK Bakal Kembangkan Aliran Dana Suap dan Gratifikasi AKBP Bambang Kayun

"Ketiga saksi tidak hadir dan penjadwalan dan pemanggilan ulang segera disampaikan tim penyidik," pungkasnya.

Sejauh ini, KPK baru menetapkan empat orang sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait penerimaan calon mahasiswa baru di Universitas Lampung (Unila) tahun 2022. Keempat tersangka tersebut yakni, Rektor nonaktif Unila, Karomani (KRM).

Kemudian, Wakil Rektor (Warek) 1 Bidang Akademik Unila, Heryandi (HY); Ketua Senat Unila, M Basri (MB); serta pihak swasta, Andi Desfiandi (AD). Karomani, Heryandi, dan Basri, ditetapkan sebagai tersangka penerima suap. Sedangkan Andi Desfiandi, tersangka pemberi suap.

Dalam perkara ini, Karomani diduga mematok atau memasang tarif Rp100 juta hingga Rp350 juta bagi para orang tua yang menginginkan anaknya masuk di Unila. Karomani diduga telah berhasil mengumpulkan Rp5 miliar dari tarif yang ditentukan tersebut.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Adapun, uang dugaan suap itu diterima Karomani melalui sejumlah pihak perantara, di antaranya, Heryandi dan M Basri. Salah satu pihak swasta yang menyuap Karomani yakni, Andi Desfiandi.

Atas perbuatannya, Andi selaku pemberi suap disangkakan melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a atau huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001.

Sedangkan Karomani, Heryandi, dan M Basri, selaku penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 199 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 Jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini