Share

Kisah Terenavindu, Guru yang Luluhkan Kertanagara Raja Singasari yang Congkak

Avirista Midaada, Okezone · Kamis 24 November 2022 13:13 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 24 337 2713939 kisah-terenavindu-guru-yang-luluhkan-kertanagara-raja-singasari-yang-congkak-xZfyynC64L.jpg Illustrasi wikipedia

SOSOK raja terakhir Singasari ini memang congkak dan kurang mendengarkan pendapat orang lain. Kerap pula Kertanagara memecat pejabat istana yang berseberangan pendapat dengannya di setiap kebijakan negeri.

(Baca juga: Mengenal Terenavindu, Guru Sekaligus Penasehat Raja Singasari dan Putrinya)

Namun dibalik sosoknya yang keras dan terkesan egois, ia memiliki seorang kawan akrab sekaligus menjadi guru penasehatnya bernama Terenavindu. Konon sebagaimana Earl Drake mengisahkan pada bukunya "Gayatri Rajapatni", Terenavindu juga merupakan seorang resi Buddhis, yang paling terpelajar.

Sosoknya Terenavindu juga-lah yang menjadi guru paruh waktu bagi anak bungsunya Gayatri. Bersama Terenavindu Gayatri belajar topik-topik serius yang telah didalami sang ayah. Hal ini pula yang menuntunnya menjadi seorang raja adil dan bijaksana.

Bahkan dikisahkan Kertanagara meminta pendapat Terenavindu mengenai strategi mengerahkan pasukan demi menuntaskan kebijakan Ekspedisi Pamalayu, yang berimbas pada kosongnya prajurit yang menjaga wilayah ibu kota Kerajaan Singasari.

Konon karena keinginan kuat Kertanagara inilah membuat istana Singasari tersisa dua divisi pengawal istana yang dipimpin oleh Pangeran Wijaya dan Pangeran Ardharaja. Hal ini membuat pertentangan dan perdebatan di internal pejabat istana sendiri.

Dimintai pendapat oleh Kertanagara, Terenavindu mengemukakan tindakan sang raja Kertanagara memang masuk akal mengirim pasukan utamanya ke medan perang, demi menyergap musuh dari luar demi memenuhi misi Ekspedisi Pamalayu, daripada menungggu serangan Khubilai Khan di tanah Singasari.

Sang guru Terenavindu juga sependapat dengan pendapat raja mengenai kemungkinan serangan dari Kediri yang dianggap kecil. Pasalnya sepemikiran dengan Kertanagara, Terenavindu juga beranggapan tak etis apabila Kediri betul-betul menyerang Kerajaan Singasari, di saat tengah mengendurkan pertahannya demi melindungi seluruh Jawa.

Di sisi lain Terenavindu juga mengingatkan tidak semua tindakan Kertanagara logis dan memiliki nilai etis. Pasalnya Kertanagara dianggap mengambil tindakannya didasari pada dorongan impulsive dan tujuan egois berjangka pendek semata.

Terenavindu justru berharap pasukan Mongol yang tengah menuju wilayah kekuasaan Kerajaan Singasari untuk mengganggu misi Ekspedisi Pamalayu bisa luluh lantak akibat badai yang menghadang armada militer Kekaisaran Mongol di bawah pimpinan Khubilai Khan.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini