Share

Sosok Prada Indra Wijaya, Prajurit Elite TNI AU yang Kasusnya Kematiannya Disebut Mirip Brigadir J

Tim Okezone, Okezone · Kamis 24 November 2022 09:01 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 24 337 2713735 sosok-prada-indra-wijaya-prajurit-elite-tni-au-yang-kasusnya-kematiannya-disebut-mirip-brigadir-j-wMHHuJ2EtO.jpg Prada Indra/Tangkapan layar media sosial

JAKARTA – Keluarga Prada Muhammad Indra Wijaya merasakan beberapa kejanggalan, salah satunya ketika jasad prajurit TNI AU tersebut diformalin tanpa sepengetahuan keluarga. Kasusnya pun disebut-sebut mirip dengan pembunuhan Brigadir J alias Nofriansyah Yosua Hutabarat.

Prada Indra sendiri meninggal dunia di RS Lanud, Manuhua, Biak, Papua, pada Sabtu, 19 November 2022.

(Baca juga: Banyak Luka Sayatan, Dokter Sebut Prada Indra Meninggal Akibat Dehidrasi)

"Keterangan dari Dokter Nico itu menyebutkan bahwa dia selaku dokter penyakit dalam, yang mana menyebutkan adik saya, Prada Indra Wijaya dinyatakan meninggal dunia akibat dehidrasi berat selesai olahraga futsal dari jam 20.00 WIT sampai jam 23.00 WIT," ujar Rika Wijaya, Kakak Prada Indra Wijaya, Kamis (24/11/2022).

Pernyataan dokter Nico pun dipercaya pihak keluarga, apalagi sebelumnya sudah ada pernyataan atasan Prada Indra soal penyebab kematiannya.

Namun kejanggalan yang dirasakan pihak keluarga akhirnya terkuak setelah jenazah Prada Indra Wijaya tiba di rumah duka di Tangerang.

Saat di rumah duka, pihak keluarga bersikeras membuka peti jenazah yang terkunci. Mereka sangat terkejut saat melihat kondisi jenazah Indra yang terbujur kaku di dalam peti dimana kondisi Indra penuh luka lebam pada bagian dada dan perut, serta pada bagian wajah almarhum mengeluarkan darah. Bahkan salah seorang Perwira TNI AU memaksa jenazah Indra segera dimakamkan.

Pihak Keluarga menurut Rika, kakak perempuan almarhum Prada Indra Wijaya mengatakan awalnya pihak Markas Komando Operasi Udara (Makoopsud) III Biak sama sekali tidak menjelaskan mengenai adanya temuan luka pada tubuh almarhum Prada Indra Wijaya.

Pihak kesatuan Prada Indra pun tidak menjelaskan soal adanya dugaan penganiayaan yang dilakukan oleh sejumlah senior Prada Indra.

Sontak dengan temuan kondisi tubuh Prada Indra Wijaya yang dipenuhi banyak luka lebam hingga mengeluarkan darah dan adanya sejumlah sayatan pada tubuh jenazah hal itu membuat pihak keluarga bereaksi keras.

Mereka menuntut pengusutan adanya dugaan kekerasan yang menyebabkan Prada Indra Wijaya meninggal dunia.

Prada Indra merupakan salah satu anggota Komando Operasi Udara (Koopsud) III Biak, Papua. Ia merupakan Tamtama yang bertugas di Sekretariat Makoopsud III Biak. Diketahui, tamtama merupakan golongan pangkat prajurit dan kopral di TNI.

Komando Operasi Udara III adalah salah satu Komando utama dibawah Jajaran Komando Operasi Udara Nasional yang mencakup wilayah Indonesia bagian timur.

Komando ini mempunyai tugas yaitu pembinaan kemampuan dan kesiapsiagaan operasional satuan-satuan TNI AU dalam jajarannya, dan melaksanakan operasi-operasi udara dalam rangka penegakan kedaulatan negara di udara, mendukung penegakan kedaulatan negara di darat dan di laut.

Sebelumnya, Kepala Dinas Penerangan Angkatan Udara (Kadispenau) Marsma TNI Indan Gilang Buldansyah mengatakan, empat prajurit TNI AU yang menganiaya Prada Indra Wijaya telah ditetapkan sebagai tersangka.

Keempat tersangka itu yakni, Prada SL, Prada MS, Pratu DD, dan Pratu BG. Saat ini, mereka ditahan sementara selama 20 hari ke depan.

"Prada SL, Prada MS, Pratu DD, dan Pratu BG sudah status tersangka. Sudah masuk dalam penahanan sementara tingkat pertama selama 20 hari untuk penyidikan," kata Indan saat dihubungi.

Indan menegaskan, bahwa keempat tersangka terancam sanksi administratif yakni pemecatan. Mereka, kata Indan, juga terbukti melanggar Pasal 338 KUHP dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara, lalu Juncto Pasal 351 Ayat (3) KUHP dengan ancaman hukuman 7 tahun penjara, dan pasal 131 Ayat (1) juncto Ayat (3) KUHPM dengan ancaman hukuman sembilan tahun.

"Untuk sanksi administrasi, dapat dipecat," katanya.

"(Mereka melanggar) Pasal 338 KUHP : pembunuhan, pasal 351 KUHP Ayat (3) : penganiayaan menyebabkan meninggal, dan Pasal 131 KUHPM Ayat (3): pemukulan atasan kepada bawahan dalam dinas, menyebabkan kematian," ujarnya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini