Share

Melacak Asal Usul Raja Pertama Mataram Kuno

Avirista Midaada, Okezone · Kamis 24 November 2022 05:33 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 24 337 2713677 melacak-asal-usul-raja-pertama-mataram-kuno-4KCivfBG6q.jpg Kerajaan Mataram/Foto: Istimewa

JAKARTA - Pramodhawardani, konon menjadi raja perempuan pertama di Kerajaan Mataram Kuno. Sosok Pramodhawardani disebut para sejarawan merupakan putri Samaratungga atau Samaragwira.

Sosok Pramodhawardani ditemukan pada Prasasti Kayumwungan merupakan anak cucu Samaragwira dan cicit Dyah Dharanendra yang semuanya dari Dinasti Sailendra, raja - raja pemeluk agama Buddha, sebagaimana dikutip dari buku "Perempuan - Perempuan Tangguh Penguasa Tanah Jawa" tulisan Krishna Bayu Adji dan Sri Wintala Achmad.

 BACA JUGA:Hujan Angin Diprediksi Terjang Jakarta Siang Hari

Sebagai putri Samaratungga, Pramodhawardani memiliki hubungan dengan Balaputradewa, raja Sriwijaya. Namun hubungan mereka sebagai saudara kandung atau paman dan keponakan masih dalam perdebatan para sejarawan salah satunya antara Krom dengan Slamet Muljana.

Menurut Krom, Pramodhawardani yang merupakan putri Samaratungga itu dianggap sebagai saudara Balaputradewa. Mengingat Samaratungga oleh Krom diidentikkan dengan Samaragwira. Pandangan Krom didukung oleh de Casparis.

Di mana menurut De Casparis yang mengacu pada Prasasti Wantil pada 856, telah terjadi perang saudara antara Pramodhawardani dengan Balaputradewa. Dikarenakan mendapat dukungan dari Mpu Manuku Rakai Pikatan, Balaputradewa melarikan diri ke Sriwijaya.

 BACA JUGA:LSI Denny JA: Jokowi hingga Airlangga Hartarto Dianggap Berjasa Atas Daya Tahan Ekonomi Nasional

Di sanalah Balaputradewa menjadi raja, Prasasti Shivaghra atau Prasasti Wantil yang dijadikan pedoman teori de Casparis tersebut menyebut tentang adanya peperangan antara Rakai Pikatan melawan seorang musuh yang tersembunyi di dalam benteng timbunan batu. Pada prasasti tersebut disebut nama Walaputra yang ditafsirkan sebagai Balaputradewa.

Sementara Slamet Muljana, mengacu pada Prasasti Kayumwungan mengemukakan bahwa Balaputradewa bukan saudara Pramodhawardani. Mengingat di prasasti tersebut dinyatakan Samaratungga hanya memiliki seorang anak perempuan yakni Pramodhawardani.

Lebih jauh Slamet Muljana menegaskan, Balaputradewa merupakan adik Samaratungga dan keduanya merupakan putra Samaragriwa atau Samaragwira, dengan kata lain Pramodhawardani merupakan keponakan Balaputradewa. Sementara genteng timbunan batu yang menjadi markas Balaputradewa identik dengan Situs Ratu Baka.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Sejarawan Boechari juga menemukan beberapa prasasti di sekitar situs tersebut. Namun bukan atas nama Balaputradewa, melainkan atas nama Rakai Walaing Mpu Kumbhayoni yang mengaku sebagai keturunan Sanjaya.

Maka musuh Rakai Pikatan bukan Balaputradewa sebagaimana diungkapkan de Casparis, melainkan Rakai Walaing Mpu Kumbhayoni. Istilah Walaputra dalam Prasasti Shivaghra menurut Boechari bukan bermakna Balaputradewa, melainkan anak bungsu yaitu Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala, pahlawan yang berhasil menumpas pemberontakan Mpu Kumbhayoni.

Apabila pendapat Slamet Muljana dan Boechari di atas dipadukan, maka dapat disimpulkan bahwa perang antara Rakai Pikatan dan Balaputradewa tidak pernah terjadi. Menurut Prasasti Po Ngar, Kamboja memang berhasil melepaskan diri dari penjajahan Jawa.

Mungkin hal ini menjadi alasan Samaragriwa membagi kekuasaan Wangsa Sailendra untuk kedua putranya, yaitu Samaratungga di Jawa (Medang), sedangkan Balaputradewa di Sumatera bernama Kerajaan Sriwijaya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini