Share

Ngaji Bareng Mahasiswa Oxford, Gus Yahya Paparkan 4 Persoalan Dunia Islam

Fakhrizal Fakhri , Okezone · Rabu 23 November 2022 15:09 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 23 337 2713285 ngaji-bareng-mahasiswa-oxford-gus-yahya-paparkan-4-persoalan-dunia-islam-1NEcgfIxkR.jpg Ketum PBNU Gus Yahya (Foto: Humas)

LONDON - Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menggelar ngaji NU bareng pelajar dan mahasiswa di The PolicyExchange London dan mahasiswa The Oxford Union Society. Kegiatan ini berlangsung usai PBNU menggelar Forum Twenty (R20) di Bali awal bulan ini.

Dalam forum dengan konsep debat terbuka itu, Gus Yahya menjelaskan seputar jatuh bangun peradaban dunia mulai dari peradaban Islam hingga runtuhnya Kesultanan Utsmaniyah atau Ottoman.

Gus Yahya mengajak seluruh pihak untuk duduk bersama guna mengungkap secara jujur akar pesoalan yang dihadapi dunia saat ini. Sehingga, kata dia, bisa merumuskan solusi bersama secara komprehensif.

Gus Yahya pun memaparkan empat persoalan yang dihadapi oleh umat Islam saat ini. Pertama, penggunaan istilah kafir kepada pemeluk agama yang berbeda.

Terminologi ini sering kali secara politis digunakan sebagai dalih untuk melakukan kekerasan kepada pihak lain. Gus Yahya menegaskan NU menolak hal tersebut. “Problem identitas muslim-kafir harus diatasi dengan cara yang tidak boleh menimbulkan masalah baru,” tegas Gus Yahya dalam keterangannya, Rabu (23/11/2022).

Baca juga: PBNU Yakin Haedar Nashir-Abdul Mu'ti Punya Komitmen Kuat Majukan Bangsa dan Negara

Kedua, lanjut dia, perlunya pengembangan cara pandang baru tentang konsep hukum Islam atau syariah. Menurut Gus Yahya, konsep ini seringkali dipahami sebagai sesuatu yang sudah selesai.

Baca juga: Gus Yahya Resmi Tutup Forum R20, Tahun Depan India Jadi Tuan Rumah

Padahal pengembangan pemikiran syariah Islam perlu dilakukan terus menerus supaya ajaran Islam semakin relevan dengan kondisi dan kearifan masyarakat di seluruh dunia.

"Ketiga, perlunya mengatasi berbagai konflik yang terjadi dengan jalan dialog dan perdamaian untuk meminimalisir berbagai benturan baik dalam kelompok-kelompok Islam sendiri maupun Islam dengan pihak lain," kata Gus Yahya.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Sedangkan persoalan keempat yakni isu formalisasi negara Islam. Kata Gus Yahya, kehidupan organisasi negara sangat tergantung kepada pilihan terbaik dari masyarakat negara yang menjalaninya. Sementara Islam sendiri secara spesifik tidak menawarkan bentuk negara, namun Islam memberi dasar nilai-nilai universal yang bisa dijadikan rujukan dalam membangun relasi sosial dalam masyarakat negara.

Gus Yahya menambahkan bahwa melalui pengalaman panjang NU dalam mengelola dan mengembangkan peradaban Islam di Indonesia, NU memiliki kemampuan otoritatif sebagai representasi Islam untuk memberi penjelasan kepada masyarakat dunia.

“Dunia hari ini perlu membangun cara pandang baru dalam membangun misi peradaban Islam agar peradaban Islam terasa lebih segar dan kontekstual dengan situasi kita hari ini," tuturnya.

Untuk mewujudkan hal tersebut, imbuh Gus Yahya, NU terus bekerja sama dengan berbagai tokoh dan organisasi agama di seluruh dunia. Salah satunya melalui pertemuan Religion 20 (R20) yang baru saja dilakukan di Bali, Indonesia.

Perlu diketahui, acara diskusi tersebut digelar oleh The Oxford Union Society (berdiri 1823), salah satu lembaga bergengsi di Universitas Oxford, yang sering menghadirkan para pemimpin dan tokoh berpengaruh dunia seperti Albert Einstein, Dalai Lama, Mother Theresa, Stephen Hawking, Michael Jackson, Bill Clinton, David Cameron, Malala Yousafzai, dan tokoh berpengaruh dunia lainnya.

Debat di The Union dipandu oleh presidennya, Ahmad Nawas. Dan agenda serula di The PolicyExcange diarahkan oleh ditekturnya, Lord Godson. Tampak mendampingi Gus Yahya dalam muhibah tersebut, antara lain, Sekretaris PCNU Sleman Jogjakarta, Dr M Najib Yuliantoro dan aspri Ketua Umum, Ahmar Ghufron Siroj.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini