Share

KPK Telusuri Penggunaan Uang Hasil Korupsi Rektor Unila Karomani

Arie Dwi Satrio, Okezone · Rabu 23 November 2022 11:07 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 23 337 2713072 kpk-telusuri-penggunaan-uang-hasil-korupsi-rektor-unila-karomani-pkAQnSmSft.jpg Ilustrasi (Foto: Dokumentasi Okezone)

JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menduga Rektor nonaktif Universitas Lampung (Unila), Karomani (KRM) telah menggunakan uang hasil suap penerimaan calon mahasiswa baru untuk kepentingan pribadinya. KPK sedang menelusuri aliran uang yang diduga telah digunakan Karomani tersebut.

Aliran penggunaan uang suap Karomani tersebut ditelusuri penyidik KPK lewat dua saksi yakni, Manajer Distro Galeri 24 Cabang Serang, Gusridawati dan Pimpinan PT Pegadaian (Persero) Cabang KP Serang, Husnan Tafgarod Efendi. Keduanya diduga mengetahui aliran uang yang digunakan Karomani.

"Kedua saksi hadir dan didalami pengetahuannya antara lain terkait dengan penggunaan aliran uang yang diterima tersangka KRM," kata Kabag Pemberitaan KPK, Ali Fikri melalui pesan singkatnya, Rabu (23/11/2022).

Selain itu, penyidik KPK juga telah mengantongi keterangan dari saksi Dosen Departemen Sistem Informasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Radityo Prasetianto Wibowo. KPK mendalami keterangan Radityo soal sistem penerimaan mahasiswa baru lewat SNMPTN.

"Saksi hadir dan didalami pengetahuannya antara lain masih seputar sistem yang digunakan dalam penerimaan mahasiswa baru melalui SNMPTN," terangnya.

Sejauh ini, KPK telah menetapkan empat orang sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait penerimaan calon mahasiswa baru di Universitas Lampung (Unila) tahun 2022. Keempat tersangka tersebut yakni, Rektor nonaktif Unila, Karomani (KRM).

Kemudian, Wakil Rektor (Warek) 1 Bidang Akademik Unila, Heryandi (HY); Ketua Senat Unila, M Basri (MB); serta pihak swasta, Andi Desfiandi (AD). Karomani, Heryandi, dan Basri, ditetapkan sebagai tersangka penerima suap. Sedangkan Andi Desfiandi, tersangka pemberi suap.

Dalam perkara ini, Karomani diduga mematok atau memasang tarif Rp100 juta hingga Rp350 juta bagi para orang tua yang menginginkan anaknya masuk di Unila. Karomani diduga telah berhasil mengumpulkan Rp5 miliar dari tarif yang ditentukan tersebut.

Adapun, uang dugaan suap itu diterima Karomani melalui sejumlah pihak perantara, di antaranya, Heryandi dan M Basri. Salah satu pihak swasta yang menyuap Karomani yakni, Andi Desfiandi.

Atas perbuatannya, Andi selaku pemberi suap disangkakan melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a atau huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001.

Sedangkan Karomani, Heryandi, dan M Basri, selaku penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 199 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 Jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini