Share

Ketika Raja Intelijen Ungkap Sosok Calon Panglima TNI: Jenderal dari Luar Jawa

Erfan Maaruf, MNC Portal · Rabu 23 November 2022 09:15 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 23 337 2712987 ketika-raja-intelijen-ungkap-sosok-calon-panglima-tni-jenderal-dari-luar-jawa-5QFIEodQx9.jpeg Prajurit TNI. (Foto: Ilustrasi/Dok Okezone.com)

JAKARTA - Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa akan purnabakti atau pensiun pada 21 Desember 2022. Kurang dari sebulan jelang akhir masa jabatan tersebut, bursa calon pengganti Andika semakin ramai dibicarakan.

Tiga kepala staf angkatan dinilai berpeluang menggantikan yakni KSAD Jenderal TNI Dudung Abdurachman, KSAL Laksamana TNI Yudo Margono, dan KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo.

Mengutip Sindonews.com, menilik sejarah militer Indonesia, jenderal bintang empat dari matra Darat paling banyak mengisi jabatan Panglima TNI. Ketika masih bernama ABRI, Panglima bahkan keseluruhan dari Angkatan Darat, dimulai dari Jenderal TNI Soeharto hingga Jenderal TNI Wiranto.

Mendiang Jenderal TNI Leonardus Benyamin Moerdani punya cerita menarik soal pemiluhan Panglima TNI. Suatu hari jelang berakhirnya masa jabatan Jenderal TNI Maraden Panggabean sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan/Panglima ABRI (Kini Panglima TNI), Benny Moerdani menyapa sekelompok jurnalis yang sedang ngopi santai di Hotel Indonesia.

Secara tiba-tiba Benny memberikan bocoran tentang calon panglima yang baru. Jenderal ahli intelijen itu seolah tahu kasak-kusuk tentang pergantian Maraden semakin kencang, begitu pula di kalangan wartawan.

“Wah, nanti ada orang luar Jawa lagi jadi Menhankam (Pangab),” ujar Benny sebagaimana diceritakan Jurnalis Senior Atmadji Sumarkidjo dalam buku “Jenderal M Jusuf: Panglima Para Prajurit”, dikutip Selasa (22/11/2022).

Para wartawan yang mendengar celetukan itu hanya terdiam. Mereka tidak tahu siapa sosok yang dimaksud Benny. Bukan apa-apa, ketika itu sejumlah nama dianggap punya kans kuat untuk menjadi Panglima ABRI.

Baca juga:  Mengenal 3 Panglima TNI yang Paling Lama Menjabat, Ada yang Jadi Jenderal Legendaris Kopassus

Mereka antara lain KSAD Jenderal TNI Widodo. Ada pula perwira tinggi senior lainnya semacam Jenderal TNI Soerono dan Jenderal TNI Umar Wirahadikusumah. Di luar itu ada nama Kepala Staf Komando Pemulihan dan Ketertiban Laksamana TNI Soedomo. Namun karena dari AL, kans Soedomo ketika itu dianggap kecil.

Menilik pola sebelumnya, Widodo disebut-sebut paling berpeluang menjadi Menhankam/Pangab. Sama seperti Maraden Panggabean yang sebelumnya menjabat KSAD, kemudian dipercaya sebagai panglima. Namun, sosok yang terpilih benar-benar kejutan.

Presiden Soeharto rupanya telah memiliki pilihan tersendiri. Mantan Pangkostrad itu mengangkat Jenderal TNI M Jusuf sebagai Menhankam/Pangab. Nama Jusuf disebut berbarengan dengan pengumuman komposisi Kabinet Pembangunan III pada 1978.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Penunjukan Jusuf sebagai Pangab sangat mengejutkan. Betapa tidak, jenderal kelahiran Kajuana, Bone, Sulawesi Selatan itu telah 13 tahun lamanya tak berseragam militer. Meski masih berstatus tentara aktif, namun dia telah masuk birokrasi sebagai menteri.

Di era Orde Baru, militer yang bertugas sipil ini dikenal dengan istilah ‘dikaryakan’. Jusuf semenjak dari Pangdam Hasanuddin XVI/Hasanuddin telah direkrut Presiden Soekarno sebagai Menteri Perindustrian Ringan (1964-1967), Menteri Perindustrian Dasar Indonesia (Februari-Juli 1966), dan berlanjut sebagai Menteri Perdagangan (1967-1968).

Ketika Soeharto mengambil alih kekuasaan, Jusuf kembali dipercaya masuk kabinet. Bangsawan Bugis itu diangkat sebagai Menteri Perindustrian (1968-1978). Baru lah setelah itu dia ditunjuk sebagai Menhankam/Pangab (1978-1983).

“Dibanding Maraden Panggabean yang digantikan, dia (Jusuf) kalah lengkap karier militernya terutama di bidang staf dan teritorial. Tetapi siapa yang berani melawan kehendak Soeharto?” kata Atmadji.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini