Share

Serangan Mongol dan Majapahit Taklukkan Kediri, 5.000 Pasukan Jayakatwang Tewas

Avirista Midaada, Okezone · Rabu 23 November 2022 05:32 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 23 337 2712910 serangan-mongol-dan-majapahit-taklukkan-kediri-5-000-pasukan-jayakatwang-tewas-T1fx8fvFSW.jpeg Ilustrasi. (Foto: Dok Istimewa)

PASUKAN Mongol dan Majapahit melakukan serangan tiba-tiba ke Kediri hingga membuat kerajaan di sekitar Sungai Brantas itu luluh lantak. Serangan dipimpin Raden Wijaya yang merupakan menantu dari Kertanagara, raja Singasari terakhir. Raden Wijaya ingin membalaskan perlakuan Jayakatwang ke mertuanya Kertanagara.

Penyatuan dua kekuatan ini menjadi sebuah gabungan pasukan yang besar dan menakutkan. Penyatuan dua kekuatan itu dikisahkan Prasetya Ramadhan dalam buku "Sandyakala di Timur Jawa 1042 - 1527”. Gabungan kekuatan tersebut sebagai sebuah bentuk ketidaksukaan terhadap raja Jayakatwang, yang telah membunuh Kertanegara melalui sebuah kudeta yang keji.

Dikisahkan pada bulan ketiga tahun 1293, seluruh pasukan berkumpul di mulut Kali Mas, penyerbuan ke Kerajaan Kediri bentukan Jayakatwang, usai menghancurkan Kerajaan Singasari.

Ribuan pasukan gabungan dari Mongol, Majapahit dan beberapa kerajaan kecil lainnya menyerbu Daha, ibu kota Kerajaan Kediri. Serangan dari sungai Kali Mas ini membuat pasukan Kediri dapat dipukul mundur.

Sedangkan tak kurang dari 100 kapal berdekorasi kepala raksasa dapat disita karena seluruh prajurit dan pejabat yang mempertahankannya melarikan diri untuk bergabung dengan pasukan induknya.

Baca juga:  Daftar Raja Kerajaan Kediri, Ada yang Bawa Kejayaan hingga Dimusuhi Tokoh Agama

Peperangan besar baru terjadi di hari ke - 15 dan 20 Maret 1293 menurut berita Cina. Bila dihitung semenjak pasukan Mongol mendarat dan membangun kekuatan di muara Kali Mas, di mana bala tentara gabungan tentara Mongol dengan Majapahit berhasil mendesak dan mengalahkan pasukan Kadiri yang menyongsong mereka.

Kekalahan ini menyebabkan sisa pasukan kembali melarikan diri untuk berkumpul di Daha. Pasukan Ike Mese, Kau Hsing, dan Raden Wijaya melakukan pengejaran dan berhasil memasuki Daha beberapa hari kemudian.

Pada hari ke-19 terjadi peperangan yang sangat menentukan bagi Kerajaan Kediri. Total lebih dari 10.000 pasukan Kediri dan kerajaan di bawahnya dikerahkan. Raja Jayakatwang berusaha memenangkan pertempuran mulai dari pagi hingga siang hari. Pada peperangan ini, pasukan Mongol menggunakan meriam yang masih tergolong langka di dunia pada zaman itu.

Tiga kali pertempuran besar antara kedua kekuatan yang berseteru di empat arah kota membuat ibu kota Kediri hancur berantakan. Kemenangan berhasil diraih para penyerbu gabungan dari tentara Mongol dan Majapahit.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Sementara pasukan Kediri, terpecah dua bagian sebagian menuju sungai dan tenggelam di sana karena dihadang oleh tentara - tentara Mongol, sedangkan sebagian yang lain, kurang lebih 5.000 pasukan yang dalam keadaan panik akhirnya terbunuh setelah bertempur dengan tentara gabungan Mongol-Majapahit.

Ardharaja anak Jayakatwang yang berkhianat melarikan diri ke perbukitan di sekitar ibu kota, namun dapat ditangkap dan ditawan oleh pasukan Kau Hsing yang berkekuatan seribu orang. Di akhir pertempuran akhirnya Jayakatwang menyadari kekalahannya dan melihat korban di pihaknya yang sudah terlalu banyak akhirnya mundur dan bertahan di dalam kota yang dikelilingi benteng.

Pada sore harinya, ia memutuskan keluar dan menyerah karena tidak melihat kemungkinan untuk mampu bertahan. Pertempuran lanjutan hanya akan membuat pasukannya tereleminasi total. Jayakatwang akhirnya menyerah dan ditawan oleh pasukan Tartar.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini