Share

5 Fakta Sidang Kasus Pembunuhan Brigadir J, Ini Kesaksian Mantan Kasat Reskrim Polres Jaksel

Tim Okezone, Okezone · Selasa 22 November 2022 05:30 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 21 337 2711998 5-fakta-sidang-kasus-pembunuhan-brigadir-j-ini-kesaksian-mantan-kasat-reskrim-polres-jaksel-xOH5jIEJvO.jpg Sidang kasus pembunuhan Brigadir J PN Jaksel (Foto: MNC Portal)

JAKARTA - Mantan Kasat Reskrim Polres Metro Jaksel AKBP Ridwan Soplanit menjadi saksi di persidangan pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin 21 November 2022. Ia bersaksi untuk terdakwa Bharada Richard Eliezer. 

Berikut fakta-fakta kesaksiannya:

1. Ridwan Diminta Ferdy Sambo Jangan Gaduh karena Aib Keluarga 

Ridwan menceritakan dirinya diminta ke rumah dinas Ferdy Sambo yang saat itu menjabat Kadiv Propam Polri. Saat masuk di dalam rumah, ia terkejut sudah ada jasad Brigadir J yang tergeletak di samping tangga.

Lalu, saat AKBP Ridwan hendak meninggalkan TKP dan keluar rumah, Ferdy Sambo memberikan perintah agar insiden kematian Brigadir J tidak gaduh di publik.

"Pak FS sempat sampaikan bahwa 'ini kamu untuk kejadian ini jangan ramai-ramai. Jangan dulu ngomong ke mana-mana, karena ini terkait dengan aib keluarga, masalah pelecehan istri saya'. Itu yang sempat ditekankan ke saya dengan nada yang sangat tegas yang mulia," tutur Ridwan.

2. Cerita Istrinya Dilecehkan, Ferdy Sambo Pukul Tembok dan Matanya Berkaca-kaca 

Mantan Kasat Reskrim Polres Metro Jaksel AKBP Ridwan Soplanit mengungkapkan mantan Kadiv Propam Polri Ferdy Sambo terlihat menepuk tembok rumah setelah menceritakan peristiwa penembakan Brigadir J.

"Saya mengikuti FS kemudian FS menyampaikan ini tadi saya baru dapat info ada tembak-menembak, itu sambil berjalan kemudian dia menunjukkan tembak-menembak di atas tangga, peristiwa ini tembak-menembak itu yang terlentang itu Yosua dia melecehkan istri saya, ujar Ridwan.

Dia terkejut karena Ferdy Sambo terlihat memukul tembok sambil menggelengkan kepala. Tak hanya memukul tembok dan menggelengkan kepala. Mata Sambo, dalam kesaksian AKBP Ridwan disebutkan matanya berkaca-kaca.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Ferdy Sambo menyampaikan telah terjadi pelecehan terhadap istrinya Putri Candrawathi di Magelang dengan mata yang berkaca-kaca.

"Kemudian dia (Ferdy Sambo) menepuk tembok saya sempat kaget kemudian kepalanya tunduk ke tembok geleng-geleng kepala. Ini kejadian pelecehan ini sebelumnya terjadi di Magelang," kata Ridwan.

4. Brigadir J Ditembak Bharada E dan Ferdy Sambo 

Mantan Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan AKBP Ridwan Soplanit, mengakui jika Brigadir J tewas ditembak Bharada Richard Eliezer (Bharada E) dan Ferdy Sambo.

Pertama, hakim anggota bertanya kepada Ridwan, terkait apa didapat saat melakukan penyelidikan awal kasus ini melalui Ferdy Sambo.

"Disuguhi juga seperti yang kamu ceritakan bahwa terjadi tembak menembak antara Eliezer dengan Yosua seperti yang kamu lakukan tadi. Sampai berapa lama cerita itu ada dibenakmu," tanya Hakim.

"Sampai dengan perjalanan proses pemeriksaan itu sampai di Polda Metro juga masih sama, sampai di Bareskrim masih sama," jelas Ridwan.

Setelah itu, Ridwan mengakui kejadian terkait tembak menembak antara Bharada E dan Brigadir J tidak sesuai fakta. "Yang benar yang mana menurut kamu?" tanya Hakim kembali.

"Yang kami ikuti saat ini, yang masih kami ikuti, bahwa memang terjadi ada bukannya terjadi peristiwa tembak menembak tapi peristiwa," jelas Ridwan.

"Nggak usah sungkan," jawab Hakim.

"Peristiwa menembak, Yosua ditembak. Seperti itu," jelas Ridwan.

"Oleh siapa?" ungkap Hakim.

"Oleh Bharada E dan FS" tutur Ridwan.

5. Ferdy Sambo Bikin Gemetar AKBP Ridwan saat Olah TKP

Ia mengakui, pada saat ingin olah TKP pada 8 Juli 2022, tak banyak yang dilakukan. Ia merasa terintevensi dengan keadaan di rumah dinas Ferdy Sambo.

"Saya dibebani dengan tanggung jawab sebagai manajerial, menghadapi permasalahan yang saat itu saya dengar korbannya adalah seorang jenderal bintang dua, yang mana dia punya kualifikasi lebih dari pada jenderal bintang dua jajaran lain," ujar Ridwan.

Ia merasa dirinya tak bisa melaksanakan tugas dengan lepas. Apalagi, olah TKP dilakukan di rumah dinas Ferdy Sambo, seorang jenderal bintang dua kepolisian.

"Satu sisi, hal-hal yang sifatnya faktual, hal-hal yang naluri kita bisa seharusnya kita kedepankan, itu tak bisa berjalan baik. Karena bagaimana emosi itu sudah bermain, mulai dari kita ada penegasan juga ada satu sifat familiar masalah penegasan, kemudian setelah itu ditimpa dengan masalah emosional dan tangisan atau kesedihan, jadi secara psikologis, maskudnya secara perasaan saya, sederhana saja, terombang-ambing, saya blank," kata Ridwan.

"Semua berjalan dengan baik. Nah saat itu juga, bukan saja jenderal satu orang di situ kan tiga orang jenderal. Maksud saya, bukan satu pimpinan tetapi dua. Jadi sangat riskan sekali kalau misalnya saya harus berbicara sebelum saya berjalan. Jadi terlepas dari itu saya juga merasakan itu yang harus pertimbangan saya," imbuh Ridwan.

1
4

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini