Share

Selisik Aplikasi Penerimaan Mahasiswa Baru Terkait Suap Rektor Unila, KPK Periksa Dua Saksi

Arie Dwi Satrio, Okezone · Senin 14 November 2022 13:36 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 14 337 2707075 selisik-aplikasi-penerimaan-mahasiswa-baru-terkait-suap-rektor-unila-kpk-periksa-dua-saksi-uCXGTI0FRM.jpg Ilustrasi (Foto: Okezone)

JAKARTA - Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) rampung memeriksa dua saksi kasus dugaan suap terkait penerimaan calon mahasiswa baru Universitas Lampung (Unila). Kedua saksi tersebut yakni, pihak swasta, Radityo Prasetianto Wibowo S.Kom dan Dosen Teknik Informatika ITS, Dr. Eng. Darlis Herumurti, S.Kom., M.Kom.

Penyidik mendalami keterangan dua saksi tersebut ihwal sistem program aplikasi yang digunakan dalam penerimaan mahasiswa baru. Di mana, penerimaan calon mahasiswa baru di Unila menjadi bancakan sejumlah pihak, salah satunya, Rektor nonaktif Karomani (KRM).

"Kedua saksi hadir dan didalami pengetahuannya antara lain terkait dengan sistem program aplikasi yang digunakan dalam penerimaan mahasiswa baru," kata Kabag Pemberitaan KPK, Ali Fikri melalui pesan singkatnya, Senin (14/11/2022).

Sejauh ini, KPK baru menetapkan empat orang sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait penerimaan calon mahasiswa baru di Universitas Lampung (Unila) tahun 2022. Keempat tersangka tersebut yakni, Rektor nonaktif Unila, Karomani (KRM).

Baca juga: Pasang Tarif hingga Rp350 Juta, Rektor Unila Diduga Terima Suap dari Banyak Pihak

Kemudian, Wakil Rektor (Warek) 1 Bidang Akademik Unila, Heryandi (HY); Ketua Senat Unila, M Basri (MB); serta pihak swasta, Andi Desfiandi (AD). Karomani, Heryandi, dan Basri, ditetapkan sebagai tersangka penerima suap. Sedangkan Andi Desfiandi, tersangka pemberi suap.

Baca juga: KPK Bakal Bongkar Percaloan Masuk Kampus Negeri di Sidang Penyuap Rektor Unila

Dalam perkara ini, Karomani diduga mematok atau memasang tarif Rp100 juta hingga Rp350 juta bagi para orang tua yang menginginkan anaknya masuk di Unila. Karomani diduga telah berhasil mengumpulkan Rp5 miliar dari tarif yang ditentukan tersebut.

Follow Berita Okezone di Google News

Adapun, uang dugaan suap itu diterima Karomani melalui sejumlah pihak perantara, di antaranya, Heryandi dan M Basri. Salah satu pihak swasta yang menyuap Karomani yakni, Andi Desfiandi.

Atas perbuatannya, Andi selaku pemberi suap disangkakan melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a atau huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001.

Sedangkan Karomani, Heryandi, dan M Basri, selaku penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 199 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 Jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini