Share

KPK Periksa Dokter hingga Wiraswasta soal Informasi Masuk Unila Tanpa Seleksi

Arie Dwi Satrio, Okezone · Senin 24 Oktober 2022 13:52 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 24 337 2693349 kpk-periksa-dokter-hingga-wiraswasta-soal-informasi-masuk-unila-tanpa-seleksi-azGE61AVR1.jpg Ilustrasi (Foto: Okezone)

JAKARTA - Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengantongi keterangan saksi seorang Dokter, Zam Zanariah dan Wiraswasta atau pengusaha, Hanafiah Hamidi terkait kasus dugaan suap penerimaan calon mahasiswa baru (Maba) di Universitas Lampung (Unila) tahun 2022.

Dari keterangan keduanya, penyidik mengantongi soal informasi calon maba masuk Unila tanpa seleksi atau prosedur yang berlaku. Keduanya diduga mengetahui adanya informasi penitipan calon maba untuk masuk Unila tanpa seleksi lewat orang kepercayaan Rektor Karomani (KRM).

"Hanafiah Hamidi (Wiraswasta) dan Dr Zam Zanariah (Dokter), kedua saksi hadir dan didalami pengetahuannya antara lain terkait dengan dugaan adanya informasi melalui orang kepercayaan tersangka KRM yang dapat meluluskan peserta seleksi maba tanpa melalui prosedur yang semestinya," kata Plt Juru Bicara KPK, Ipi Maryati Kuding melalui pesan singkatnya, Senin (24/10/2022).

Selain itu, penyidik juga mengantongi keterangan dari dua saksi lainnya yakni, Koordinator TIK Panitia SMMPTN Barat, Anis Fuad dan Humas Penerimaan Mahasiswa Baru Unila 2022, M Komarudin. Keduanya didalami soal mekanisme seleksi maba Unila.

Baca juga: Dewas KPK Persilakan Firli Bahuri Cek Kesehatan Lukas Enembe di Papua

"Kedua saksi ini hadir dan didalami pengetahuannya antara lain terkait dengan mekanisme seleksi penerimaan maba Unila," terangnya.

Baca juga: KPK Periksa Kepala Sekolah hingga Ajudan Bupati Pemalang

Sekadar informasi, KPK telah menetapkan empat orang tersangka kasus dugaan suap terkait penerimaan calon mahasiswa baru di Universitas Lampung (Unila) tahun 2022. Keempat tersangka tersebut yakni, Rektor Unila, Karomani (KRM).

Kemudian, Wakil Rektor (Warek) 1 Bidang Akademik Unila, Heryandi (HY); Ketua Senat Unila, M Basri (MB); serta pihak swasta, Andi Desfiandi (AD). Karomani, Heryandi, dan Basri, ditetapkan sebagai tersangka penerima suap. Sedangkan Andi Desfiandi, tersangka pemberi suap.

Follow Berita Okezone di Google News

Saat ini, KPK baru merampungkan berkas penyidikan untuk tersangka Andi Desfiandi. Andi Desfiandi akan segera disidang di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Tanjung Karang Lampung.

Dalam perkara ini, Karomani diduga mematok atau memasang tarif Rp100 juta hingga Rp350 juta bagi para orang tua yang menginginkan anaknya masuk di Unila. Karomani diduga telah berhasil mengumpulkan Rp5 miliar dari tarif yang ditentukan tersebut.

Adapun, uang dugaan suap itu diterima Karomani melalui sejumlah pihak perantara, di antaranya, Heryandi dan M Basri. Salah satu pihak swasta yang menyuap Karomani yakni, Andi Desfiandi.

Atas perbuatannya, Andi selaku pemberi suap disangkakan melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a atau huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001.

Sedangkan Karomani, Heryandi, dan M Basri, selaku penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 199 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 Jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini