Share

Alkisah Jenderal Baret Merah Kopassus Keturunan Tionghoa Penumpas Teroris

Fahmi Firdaus , Okezone · Kamis 20 Oktober 2022 17:43 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 20 337 2691269 alkisah-jenderal-baret-merah-kopassus-keturunan-tionghoa-penumpas-teroris-wlE6s3T4zv.jpg Pesawat Garuda yang Dibajak/Tangkapan Layar Media Sosial

JAKARTA – Aksi terorisme yang dilakukan kelompok Komando Jihad yang nekat membajak pesawat komersial milik negara, Garuda Indonesia atau dikenal dengan Peristiwa Woyla pada 28 Maret 1981 pada 41 tahun silam membuat nama Korps Baret Merah Kopassus semakin dikenal di mancanegara.

(Baca juga: 40 Tahun Operasi Woyla: Puja-puji Dunia untuk Pasukan Baret Merah)

Salah satu anggota Kopassus yang ikut dalam Operasi Woyla adalah Letjen TNI (Purn) Kuntara. Lahir dari orangtua keturunan Tionghoa, Kuntara merupakan Arbituren Akademi Militer Nasional (AMN) tahun 1963.

Presiden Suharto saat itu memanggil Kapusintelstrat, L.B. Murdani ke Cendana. L.B. Murdani memerintahkan Asisten Operasi Kopassandha, Letkol Sintong Pandjaitan untuk membuat rencana operasi pembebasan dengan 35 personel.

Sayangnya, beberapa perwira berpengalaman seperti A.M. Hendropriyono, Luhut Binsar Pandjaitan dan Prabowo Subianto sedang tidak ada di tempat. Hendropriyono sedang mengikuti latihan gabungan ABRI di Maluku. Sementara Luhut Pandjaitan dan Prabowo sedang menjalani pendidikan di Jerman Barat bersama GSG-9 (pasukan khusus Jerman).

(Baca juga: Kisah Menegangkan Benny Moerdani Lumpuhkan Pembajak Pesawat Garuda)

Tinggallah Sintong Pandjaitan di asrama, lantaran kakinya tengah cedera usai latihan Mobile Training Team (MTT) dari Pasukan Khusus Amerika Serikat di Cijantung, pada awal tahun 1981.

Dalam buku “Sintong Pandjaitan: Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando”, dia pun akhirnya dipercaya merencanakan operasi, kendati kakinya masih harus di-gips.

Satu pesawat berjenis sama, Douglas DC-9, dipinjam untuk latihan singkat di hangar Garuda, sebelum berangkat ke Thailand.

Singkat cerita, pada 31 Maret 1981, sinyal hijau diberikan untuk menjalankan operasi pada hari keempat penyanderan. Grup-1 Para Komando (cikal bakal Detasemen-81 Gultor Kopassus) membuat tiga tim yang akan menerobos pintu samping dengan memanjat sayap pesawat, sementara satu tim lainnya lewat pintu belakang.

Dalam waktu singkat, tiga tim Kopassandha mendobrak pintu samping serta belakang. Mereka melumpuhkan para anggota Komando Jihad yang menyandera di dalam pesawat.

Follow Berita Okezone di Google News

Aksi pasukan baret merah ini pun langsung mendapat pengakuan dunia internasional. Bahkan, Kopassandha disejajarkan dengan pasukan elite dunia seperti GSG 9 (Jerman) dan Mossad (Israel).

Setelah mengikuti Operasi Woyla, karier Kuntara pun melesat. Sebelum menjadi Danjen Kopassus, Letjen TNI Purn Kuntara menjabat Wadanjen Kopassus pada tahun 1986-1987.

Kuntara juga pernah menjabat Wadanjen Kopassandha pada tahun 1983-1986. Pascapensiun dari TNI, Kuntara yang fasih berbahasa Mandarin ini, kemudian dipercaya untuk menjabat Duta Besar (Dubes) China pada 1997 sampai 2001.

Letjen TNI (Purn) Kuntara meninggal dunia di usia 82 tahun karena sakit pada Sabtu 21 Agustus 2021. Kuntara meninggal di Rumah Sakit Gatot Soebroto Jakarta, sekitar pukul 06.10 WIB pagi.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini