Share

Soekarno Murka Belanda Ingin Dirikan Negara Boneka, Baret Jingga pun Diterjunkan Kibarkan Merah Putih di Papua

Fahmi Firdaus , Okezone · Rabu 19 Oktober 2022 07:30 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 18 337 2689746 soekarno-murka-belanda-ingin-dirikan-negara-boneka-baret-jingga-pun-diterjunkan-kibarkan-merah-putih-di-papua-6vrAnrnu59.jpg Kopasgat/Foto: Okezone

JAKARTA - Komando Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat) TNI Angkatan Udara, pada 17 Oktober kemarin memasuki hari jadinya yang ke-75 tahun.

Korps Baret Jingga ini merupakan pasukan (khusus) yang berkemampuan tiga matra, yaitu udara, laut, darat.

(Baca juga: Tak Kalah Ganas dari Kopassus, Ini Kisah Baret Jingga Nyaris Hancurkan Pasukan Elite Australia)

Setiap prajurit Pasgat diharuskan minimal memiliki kualifikasi para-komando (Parako) untuk dapat melaksanakan tugas secara profesional, kemudian ditambahkan kemampuan khusus kematraudaraan sesuai dengan spesialisasinya.

Satuan yang memiliki semboyan Karmanye Vadikaraste Mafalesu Kadatjana, yang artinya melaksanakan tugas atau bekerja tanpa menghitung untung dan rugi ini mempunyai sejarah panjang di berbagai palagan. Salah satunya saat di Irian Barat (Papua).

Saat itu, pada 21 Mei 1962, adalah kali pertama sang saka Merah Putih berkibar di wilayah paling timur Indonesia tersebut.

Presiden Soekarno sejak 1961 sudah mulai curiga bahwa Belanda berencana membuat negara boneka yang bisa mereka setir. Tujuannya tentu mencegah Papua menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Soekarno pun memerintahkan Adam Malik, untuk bertemu perwakilan Belanda terkait hal itu.

“Dam, saya mau berikan opdracht (perintah) supaya kami bertemu wakil Belanda. Saya ingin tahu apa Belanda benar mempunyai keinginan untuk menyelesaikan masalah Irian Barat,” ujar Soekarno dilansir buku ‘Maria van Engels’.

Awal Desember pada tahun yang sama di Bonn (Jerman Barat), perundingan pun berlangsung dan sayangnya “dicederai” penyampaian resolusi kepada Dewan Keamanan (DK) PBB dari Menteri Luar Negeri Belanda, Joseph Luns, yang berniat memisahkan Irian Barat dari Indonesia.

Mendengar hal itu, Soekarno melantangkan seruan, “Gagalkan usaha Belanda mendirikan Negara Papua!”. Soekarno pun menegaskan bahwa sebelum ayam jantan berkokok pada 1 Januari 1963, Irian Barat sudah harus dibebaskan dari Belanda!

Tri Komando Rakyat (Trikora) pun digagas dengan merancang Komando Mandala. Sejumlah operasi pun digelar, termasuk penerjunan 54 anggota Pasukan Gerak Tjepat (PGT), (cikal bakal Kopasgat) di Teminabuan pada 19 Mei 1962.

Mereka terjun di atas tangsi Belanda dan langsung terjadi kontak senjata. Kendati dua prajurit gugur, yakni Kopral Udara II Alex Sangido dan Wangko, pasukan Belanda yang terkejut memilih mundur ke wilayah Kota Teminabuan.

Setelah konsolidasi segenap pasukan penerjun dilakukan dengan mengumpulkan 40 personel di Kampung Wersar, Sersan Udara II Mengko melahirkan inisiatif untuk para pasukannya menebang pohon untuk dijadikan tiang kayu. Bendera merah putih pun dikeluarkan dari ranselnya untuk kemudian dikibarkan.

Follow Berita Okezone di Google News

Hal itu jadi momen perdana bendera merah putih berkibar di tanah Papua, meski sedianya mereka masih belum lepas dari aksi pertempuran dengan Belanda. Tak berapa lama, pasukan Belanda mulai dibantu kekuatan udara mereka.

Pesawat pembom Lockheed Neptune dan pesawat pemburu Fairey Firefly merongrong posisi pasukan Mengko, hingga terpencar jadi beberapa grup kecil. Beberapa personel PGT tertawan, di antaranya Prajurit Udara I Kardi, Kopral Udara II Ngatijan, Kopral Udara II Hadi Suprapto, Kopral Udara I Radar dan Kopral Udara II Basri.

Sementara itu sisa personel PGT mengundurkan diri dan terus mendapat serangan dari Belanda hingga ikut tertawan pada 22 Juni 1962. Mereka baru dibebaskan pada September 1962 lewat sebuah perjanjian dua negara yang bersengketa itu.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini