Share

Pernikahan Politik Satukan 2 Dinasti Berbeda di Masa Mataram Kuno

Avirista Midaada, Okezone · Senin 17 Oktober 2022 05:32 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 17 337 2688300 pernikahan-politik-satukan-2-dinasti-berbeda-di-masa-mataram-kuno-7tXktUtoKk.jpg Pernikahan politik menyatukan dua dinasti di kerajaan mataram kuno. (Ilustrasi/Ist)

PERNIKAHAN politik menyatukan dua kekuatan yang berkuasa telah ada sejak zaman era Kerajaan Mataram Kuno. Sosok Pramodawardhani perempuan dari Dinasti Sailendra dan Rakai Pikatan atau Mpu Manuku dari Dinasti Sanjaya, merupakan aktornya.

Kisah cinta kedua insan beda dinasti tapi memiliki cerita menarik yang diulas. Kisah cinta yang hadir tak hanya murni dilandasi faktor suka sama suka, melainkan juga mempertimbangkan tujuan politis, sehingga perkawinan sepasang manusia yang berpijak pada tujuan politis.

Dikutip dari buku "Perempuan - Perempuan Tangguh Penguasa Tanah Jawa" tulisan Krishna Bayu Adji dan Sri Wintala Achmad, Pramodawardhani dsn Mpu Manuku adalah gambaran perkawinan politik yang merekayasa cinta sepasang manusia denah dua kepercayaan berbeda.

Pramodawardhani merupakan seseorang beragama Buddha, sedangkan Mpu Manuku atau Rakai Pikatan adalah seorang beragama Hindu Siwa. Sehingga kesan yang muncul perkawinan Pramodawardhani dan Mpu Manuku untuk menciptakan dua kekuatan besar dan sekaligus menciptakan kedamaian antar umat beragama.

Perkawinan antara kedua orang ini juga disinyalir kuat berlandaskan politik. Pasalnya, usia keduanya yang terpaut sangat jauh. Pendapat ini berpijak kepada Prasasti Munduan yang menyebutkan Mpu Manuku sudah menjabat sebagai Rakai Patapan pada tahun 807 Masehi. Sementara Pramodawardhani masih menjadi pada tahun 824. Dengan demikian usia Mpu Manuku sebaya dengan mertuanya yaitu Samaratungga.

Perkawinan antara Pramodawardhani dan Mpu Manuku menandai berakhirnya kekuasaan Dinasti Sailendra terhadap negeri Mataram Kuno, yang beribukota di Medang. Sebab sang raja memindahkan ibukota kerajaan ke Mamrati, serta bangkitnya Dinasti Sanjaya yang berpengaruh terhadap perkembangan agama Hindu di Jawa.

Follow Berita Okezone di Google News

Pernikahan politik Pramodawardhani dan Rakai Pikatan memiliki dua putra yakni Rakai Gurunwangi Dyah Saladu atau Dyah Badra dan Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala. Kelak Dyah Lokapala inilah yang berhasil menjadi Raja Medang sesudah berhasil menumpas pemberontakan Rakai Walang Mpu Kombhayoni, yang berpusat di Bukit Baka.

Sementara Dyah Saladu, kelak melakukan pemberontakan terhadap Dyah Lokapala karena cemburu tidak dinobatkan sebagai raja Medang oleh ayahnya Mpu Manuku. Mengacu pada perselisihan kekuasaan antara Dyah Saladu dan Dyah Lokapala, maka perkawinan Pramodawardhani dan Mpu Manuku dapat dianggap sebagai ambang perang saudara raja-raja Medang pasca bersatunya Dinasti Sailendra dan Sanjaya. Perang saudara ini berakhir pada tahun 928 bertepatan dengan meletusnya Gunung Merapi.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini