Share

Cerita Orangtua Korban Tragedi Kanjuruhan, Pinjam Uang untuk Rawat Anaknya di Rumah

Avirista Midaada, Okezone · Kamis 06 Oktober 2022 15:22 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 06 337 2681922 cerita-orang-tua-korban-tragedi-kanjuruhan-pinjam-uang-untuk-rawat-anaknya-di-rumah-Kx8mUlbhzH.jpg Korban luka tragedi Kanjuruhan, Nur Saguwanto (foto: MPI/Avirista)

MALANG - Nur Saguwanto bersyukur nyawanya masih bisa selamat, meski pergelangan kaki kirinya patah pasca Tragedi Stadion Kanjuruhan Malang. Remaja berusia berusia 19 tahun ini mengalami luka cukup banyak di sekujur tubuhnya, kendati sudah berada di rumah.

Warga Jalan Karsidi RT 2 RW 3 Desa Tegalsari, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang ini salah satu dari ratusan korban luka di Tragedi Kanjuruhan. Meski selamat, kondisinya cukup memprihatinkan.

Pantauan di rumahnya, kedua matanya kini bengkak, bagian wajahnya juga melepuh seperti ada sisa gas air mata. Bahkan ia mengaku masih sesak dan berat saat bernapas hingga kini.

"Saat kejadian saya ada di tribun 11. Ketika itu sudah ada yang turun ke lapangan usai pertandingan bubar. Tiba tiba ada tembakan gas air mata di tempat saya duduk. Setelah itu saya nggak ingat lagi," kata Saguwanto, Kamis (6/10/2022).

 BACA JUGA:Polri Segera Umumkan Tersangka Tragedi di Stadion Kanjuruhan

Saguwanto mengaku datang melihat pertandingan Arema melawan Persebaya dengan kawannya yang selamat. Dirinya diceritakan teman dalam keadaan pingsan dan baru sadar ketika Minggu pagi (2/10/2022) di RSUD Kanjuruhan Kepanjen.

"Saya baru sadar ketika hari Minggu (2/12022) pagi. Tahu - tahu saya sudah ada di RSUD Kanjuruhan, Kepanjen. Saya sempat nelpon keluarga, tapi nggak bisa melihat hape karena pandangan mata kabur. Pusing," tuturnya.

 BACA JUGA:Wajah Jenazah Korban Tragedi Berdarah Kanjuruhan Berubah Biru, Diduga Kehabisan Oksigen

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Dalam kondisi sendirian tergeletak dirumah sakit, Saguwanto hanya bisa menangis. Ia melihat bagaimana banyak orang-orang hilir mudik, banyak orang tak bernyawa tergeletak, sedangkan beberapa orang yang luka termasuk dirinya hanya tergeletak di lantai karena minimnya kasur perawatan.

"Suasana di rumah sakit ketika itu penuh korban luka. Saya cuma menangis saja, baru berhenti menangis ketika bertemu keluarganya," ungkap, remaja yang baru saja lulus sekolah di SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi,

 BACA JUGA:Mensos Risma Sebut Anggaran untuk Santunan Korban Tragedi Kanjuruhan Akan Ditambah

Di sisi lain Dewi Fitri ibu kandung Saguwanto, mengaku sempat panik saat menerima kabar pertandingan Arema FC vs Persebaya Surabaya banyak menelan korban. Ia pun lantas bergegas ke sejumlah rumah sakit mencari anaknya.

"Kami semua panik, karena anak saya dicari ke semua rumah sakit tidak ada. Baru Minggu pagi anak saya ketemu," kata Dewi Fitri (38).

 BACA JUGA:Kebenaran Video Gate 13 Terkunci saat Tragedi Kanjuruhan Terungkap, Ternyata Beda Pintu

Meski kondisinya cukup parah, setelah mendapatkan perawatan, Saguwanto akhirnya dipulangkan ke rumah oleh pihak rumah sakit. Hal itu dikarenakan ruangan tempat perawatan penuh sesak.

"Akhirnya anak saya dipulangkan. Saya bawa ke rumah, manggil bidan desa untuk membantu memasangkan infus dan merawat langsung," beber Dewi.

Ia memutuskan untuk mencari pinjaman guna merawat anaknya sendiri di rumah. Tetapi ia memastikan selama berada di rumah sakit, biaya perawatan anaknya memang digratiskan.

"Kalau biaya waktu perawatan di rumah sakit gratis. Karena dipulangkan, ya mau nggak mau saya cari hutangan sendiri. Sudah habis Rp 750 ribu hari ini. Ayahnya juga masih mencari hutangan lagi," papar Dewi.

Keluarga Saguwanto adalah keluarga Pra Sejahtera. Punya kartu berobat KIS. Sebagai buruh tani kecil, ayah Saguwanto, Mahfud berharap anaknya bisa kembali sembuh pasca menjadi korban tragedi Kanjuruhan.

"Kalau bantuan sampai hari ini belum dapat bantuan. Kita rawat anak kami semampunya di rumah, waktu pertama kejadian kondisinya mengenaskan mas, matanya bengkak merah, lebah dan melepuh," ucap Mahfud, ayah kandungnya.

Kini, Saguwanto berharap bisa kembali sehat. Saguwanto mengaku, trauma atas kejadian yang menimpanya. Ia tak menyangka di Malang pertandingan itu, dirinya turut menjadi korban.

"Suasana malam itu mencekam. Gas air mata membuat saya sulit bernafas dan pingsan," pungkasnya

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini