Share

Tragedi Berdarah Kanjuruhan, Ini 6 Malapetaka Dalam Stadion Paling Tragis di Seluruh Dunia

Agregasi BBC Indonesia, · Selasa 04 Oktober 2022 18:45 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 04 337 2680642 tragedi-berdarah-kanjuruhan-ini-6-malapetaka-dalam-stadion-paling-tragis-di-seluruh-dunia-JR8xIREFOd.jpg Foto: Antara

JAKARTA – Tragedi Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur merupakan sejarah kelam sepak bola Indonesia. Peristiwa berdarah tersebut menewaskan 131 orang termasuk 2 orang polisi.

Pemerintah pun membentuk Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) untuk tragedi Kanjuruhan. Tim ini berisikan sepuluh anggota yang dibentuk pemerintah.

(Baca juga: Daftar 10 Anggota Polri yang Dicopot Usai Tragedi Berdarah di Kanjuruhan)

Kejadian Stadion Kanjuruhan ternyata memiliki banyak kesamaan dengan tragedi-tragedi sebelumnya, tidak hanya soal jumlah korbannya yang besar. Persoalan umum dalam bencana di stadion adalah kegagalan tindakan pengendalian massa untuk melindungi penonton.

Melansir BBC Indonesia, ini 6 peristiwa berdarah lainnya dalam dunia sepak bola.

1. Estadio Nacional, Peru (1964)

Sebanyak 300 orang lebih tewas ketika pertandingan antara Timnas Peru melawan Argentina ricuh setelah gol tim tuan rumah dianulir.

Suporter Peru menyerbu lapangan dalam pertandingan kualifikasi untuk Olimpiade Tokyo 1964 itu, dan polisi meresponsnya dengan menembakkan gas air mata ke kerumunan di Estadio Nacional Lima.

Data resmi korban yang tewas adalah 328, namun jumlah korban secara keseluruhan mungkin lebih tinggi karena angka resmi itu tidak termasuk korban yang tewas tertembak dalam bentrok antara suporter dan aparat keamanan di luar stadion. Jorge Azambuja, komandan polisi yang memerintahkan penembakan gas air mata dijatuhi hukuman 30 bulan penjara.

2. Stadion Olahraga Accra, Ghana (2001)

Satu pertandingan derby antara dua tim yang sangat populer Hearts of Oak dan Asante Kotoko, berujung ricuh pada Mei 2001 setelah suporter Kotoko meluapkan kekecewaan karena tim mereka menelan kekalahan.

Polisi menembakkan gas air mata dan para suporter bergegas ke pintu keluar yang ternyata terkunci. Setidaknya 126 orang tewas dalam insiden tersebut, yang menjadi tragedi sepak bola terburuk di Afrika sampai saat ini.

3. Hillsborough, Inggris (1989)

Tragedi ini adalah salah satu bencana sepak bola terburuk dan paling kontroversial di dunia. Pengelolaan massa yang buruk menjelang pertandingan semifinal Piala FA antara Liverpool dan Nottingham Forest berujung kematian 96 pendukung Liverpool di Stadion Hillsborough yang dipagari ketat.

Andrew Devine mengalami cidera serius yang mengubah hidupnya dan meninggal pada usia 55 tahun pada 2021. Dia menjadi korban ke-97 dari tragedi itu.

Polisi dan media Inggris mulanya menyalahkan suporter atas insiden itu, menuduh mereka mabuk dan tidak tertib. Namun tuduhan itu dibantah oleh serangkaian penyelidikan selama tiga dekade berikutnya.

 

Baca Juga: Ketahui Kerugian Membeli Mobil Bekas Banjir

Follow Berita Okezone di Google News

4. Stadion Dasharath, Nepal (1988)

Badai es yang terjadi tiba-tiba menyebabkan kepanikan para suporter yang menonton pertandingan di ibu kota Nepal pada Maret 1988.

Orang-orang bergegas mencari perlindungan ke satu-satunya bagian stadion yang beratap, namun mereka didorong kembali oleh polisi. Sementara itu, penonton mencoba keluar stadion menemukan bahwa pintu gerbang terkunci.

Situasi itu mengakibatkan puluhan orang meninggal. Data kematian resmi yang tercatat adalah 70, namun media-media Nepal memperkirakan bahwa korban meninggal mencapai 93 orang.

5. Stadion Port Said, Mesir (2012)

Pertandingan liga antara klub Mesir Al Masry dan Al Ahly di Kota Port Said pada Februari 2012 berujung duka.

Setelah timnya menang 3-1, penggemar Al Masry menyerbu suporter Al Ahly yang terjebak karena aparat menolak membuka gerbang stadion. Kerusuhan besar-besaran itu mengakibatkan 74 orang tewas dan 500 orang luka-luka.

Lebih dari 70 orang, termasuk sembilan polisi, didakwa dengan 47 hukuman, termasuk hukuman mati. Salah satu kelompok pendukung al-Ahly yang dikenal sebagai "ultras" berperan penting dalam aksi protes terhadap Presiden Hosni Mubarak yang digulingkan pada 2011.

Para suporter menuduh pendukung Mubarak menghasut kericuhan di Port Said sebagai aksi balas dendam, namun polisi tidak berbuat banyak untuk mencegahnya.

6. Stadion Luzhniki, Rusia (1982)

Stadion Moskow, Rusia, yang menjadi tuan rumah final Piala Dunia 2018 juga pernah menjadi lokasi tragedi sepak bola besar yang ditutupi selama bertahun-tahun.

Hampir 40 tahun sebelumnya, pada era Uni Soviet, serbuan di akhir pertandingan antara Spartak Moscow dan klub Belanda, HFC Haarlem, berujung kematian banyak suporter tuan rumah.

Data resmi kematian, sebanyak 66 jiwa, baru diungkapkan pada 1989 setelah sebelumnya tragedi itu hanya disebut sebagai "sebuah insiden".

Para saksi mata melaporkan bahwa mayoritas suporter berdesakan di satu bagian stadion karena jumlah penonton hanya sedikit dan cuaca sangat dingin.

1
3
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis Okezone.com tidak terlibat dalam materi konten ini.

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini