Share

Hari Kesaktian Pancasila: Ini 5 Peristiwa Mencekam yang Pernah Mengancam Pancasila

Tim Litbang MPI, MNC Portal · Sabtu 01 Oktober 2022 06:05 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 30 337 2678550 hari-kesaktian-pancasila-ini-5-peristiwa-mencekam-yang-pernah-mengancam-pancasila-YmNvxepBlc.jpg Foto: Okezone

JAKARTA - Pancasila lahir sebagai bentuk ideologi bangsa yang mencerminkan nilai-nilai luhur Indonesia. Keberadaannya menjadi dasar bagi kehidupan masyarakat Indonesia dalam berbangsa dan bernegara.

Namun, ada beberapa kelompok yang ingin mengganti ideologi negara. Para pemberontak ingin menggantikan posisi Pancasila dengan ideologi andalan mereka. Sejarah telah mencatat sejumlah peristiwa yang pernah mengancam Pancasila. Berikut peristiwa-peristiwa di Indonesia yang pernah mengancam keberadaan Pancasila.

(Baca juga: Cerita Istri Jenderal Ahmad Yani Beri Makan Tahanan PKI saat Bersihkan Rumput)

1. Pemberontakan PKI di Madiun

Pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) tidak lepas dari perjalanan panjang sejarah Indonesia. Pemberontakan PKI Madiun diawali dengan jatuhnya kabinet Amir Syarifudin yang gagal dalam Perjanjian Renville. Kejatuhan Amir membuat dirinya kecewa dan memberontak. Dia membentuk Front Demokrasi Rakyat (FDR) yang kemudian bekerja sama dengan organisasi-organisasi berhaluan kiri seperti PKI, Partai Sosialis Indonesia (PSI), dan Partai Buruh Indonesia (PBI).

Pemberontakan yang dikepalai Muso ini berencana untuk merebut kekuasaan pusat dan menjadikan Indonesia sebagai negara berhaluan kiri. Propaganda anti-pemerintah mulai diluncurkan. Pembunuhan terhadap sejumlah tokoh negara seperti dr. Moewardi dan Ario Soerjo juga dilakukan. Puncaknya adalah pada 18 September 1948 d imana Madiun berhasil diduduki dan Muso mendeklarasikan Republik Soviet Indonesia.

Operasi penumpasan PKI pun dikerahkan dengan menurunkan Kolonel Gatot Subroto di Jawa Tengah dan Kolonel Sungkono di Jawa Timur. Muso akhirnya berhasil ditembak mati pada 31 Oktober 1948. Begitu pula dengan Amir Syarifudin yang berhasil diringkus dan dieksekusi mati.

2. Gerakan 30 September PKI

Peristiwa pemberontakan PKI di Madiun tidak membuat partai ini kehilangan eksistensinya. Pada pemilu pertama di Indonesia tahun 1955, PKI mendapatkan 6 juta suara dan masuk ke dalam salah satu deretan partai besar Indonesia. Partai ini semakin kuat dengan adanya dukungan dari Presiden Soekarno saat itu. Terlebih lagi, dengan adanya Demokrasi Terpimpin yang diterapkan Soekarno, memperkuat posisi PKI dalam pemerintahan.

Konsep Nasakom (Nasionalisme, Agama, dan Komunisme) menjadi bukti dari kuatnya pengaruh PKI saat itu. Pengaruh PKI yang besar dalam pemerintahan pun semakin menguntungkan PKI.

Puncaknya adalah pada 30 September 1965 di mana pasukan PKI menculik dan membunuh para jenderal. PKI berusaha untuk menggulingkan pemerintahan dan menjadikan Indonesia sebagai negara komunis. Serangkaian kudeta pada pemerintahan Soekarno dilakukan PKI untuk mengganti ideologi Pancasila menjadi ideologi komunis.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

3. Pemberontakan DI/TII

Darul Islam (DI) adalah sebuah gerakan politik yang bertujuan untuk mejadikan Indonesia sebagai negara Islam. Gerakan ini didukung dengan adanya pasukan Tentara Islam Indonesia (TII). Pemberontakan ini dilatarbelakangi kekecewaan pasukan Hizbullah dan Fisabilillah terhadap hasil Perundingan Renville. Kartosoewiryo yang memang ingin mendirikan negara Islam pun melakukan pemberontakan di Jawa Barat. Pemberontakan tersebut menjadi pemberontakan pertama yang dilakukan DI/TII.

Pemberontakan DI/TII tidak hanya terjadi di satu daerah. Pemberontakan ini terjadi di beberapa wilayah lain di Indonesia, seperti Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Sumatera. Maka tidak heran jika DI/TII menjadi pemberontakan yang paling sulit ditumpas. Kartosoewiryo bahkan memproklamirkan negara Islam Indonesia pada 7 Agustus 1949.

Penumpasan DI/TII dilakukan dengan berbagai cara, yaitu diplomasi hingga perang. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk menumpas DI/TII adalah dengan melancarkan operasi militer yang dinamakan Operasi Merdeka. Operasi ini berhasil meredakan pemberontakan DI/TII di Jawa Barat dengan tertangkapnya Kartosoewiryo di Majalaya. Kartosoewiryo, pelopor DI/TII, akhirnya dihukum mati pada 12 September 1962.

4. Sistem Parlementer Indonesia

Sejak UUDS 1950 diterapkan, Indonesia menggunakan sistem parlementer untuk menjalankan pemerintahan. Sistem ini menjadikan sistem pemerintahan Indonesia dijalani oleh seorang perdana menteri, sementara presiden hanya menjadi kepala negara. Indonesia menganut sistem pemerintahan ini selama 9 tahun, mulai dari Kabinet Natsir di tahun 1950 hingga Kabinet Djuanda di tahun 1959.

Demokrasi Parlementer dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai yang ada pada bangsa Indonesia. Terlebih lagi, Dewan Konstituante gagal dalam membuat undang-undang baru yang dapat menggantikan UUDS 1950. Kesepakatan ini tidak tercapai karena Dewan Konstituante terbagi dalam dua kubu, yaitu kubu Pancasila sebagai ideologi negara dan kubu yang menginginkan Indonesia sebagai negara Islam. Hal ini membuat Indonesia berada dalam posisi yang tidak stabil. Kegagalan parlementer diakhiri dengan dibubarkannya Dewan Konstituante dan diterapkannya Demokrasi Terpimpin, serta berlakunya kembali UUD 1945.

5. Pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS)

Butir ketiga Pancasila adalah Persatuan Indonesia, namun tetap saja ada yang menolak persatuan itu. Pemberontakan RMS dilatabelakangi oleh penolakan bergabungnya Maluku ke NKRI. Di bawah kepemimpinan Soumokil, RMS menuntut untuk menjadi negara yang merdeka dengan sistem pemerintahan berdaulat.

Pemberontakan RMS diatasi dengan berbagai cara, dari persuasi hingga peperangan. Sayangnya, cara persuasi tidak efektif dalam mengatasi pemberontakan ini sehingga dibentuklah operasi militer yang dipimpin oleh Kolonel A.E. Kawilarang. Pemberontakan RMS diakhiri dengan didudukinya Kota Ambon pada November 1950. Sang pemimpin, Soumokil, tertangkap pada 12 Desember 1963 dan dijatuhi hukuman mati pada 1966.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini