Share

Ketua Muda MA Diperiksa Terkait Kasus Suap Seret Hakim Agung Sudrajad

Martin Ronaldo, MNC Portal · Jum'at 30 September 2022 11:18 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 30 337 2677964 ketua-muda-ma-diperiksa-terkait-kasus-suap-seret-hakim-agung-sudrajad-FIk9twglpv.jpg Mahkamah Agung. (Foto: Dok Okezone)

JAKARTA - Mahkamah Agung memeriksa Ketua Muda MA bidang Perdata, Agung Sumantha terkait kasus dugaan suap yang terjadi di Mahkamah Agung melibatkan Hakim Agung, Sudrajad Dimyati beberapa waktu lalu.

"Iya diperiksa kemarin sebenarnya, memang ada pemeriksaan terhadap atasan langsung SD," ujar Jubir MA, Andi Samsan Nganro kepada wartawan, Jumat (30/9/2022).

Pemeriksaan kali ini merupakan pemeriksaan pertama kalinya. Kendati demikian, pihaknya belum dapat memberikan hasil dari pemeriksaan tersebut.

"Pemeriksaan tersebut dilakukan berdasarkan Perma Nomor 8/2016 guna memastikan ada atau tidaknya pembinaan yang dilakukan oleh atasan tersebut. Pemeriksaan dilakukan oleh Tim yang ditunjuk oleh Ketua MA," katanya.

 Baca juga: 5 Fakta Hakim Agung Sudrajad Dimyati Diberhentikan Sementara, MA Juga Lakukan Rotasi

Diketahui sebelumnya, KPK sempat mengamankan uang tunai senilai 205 ribu Dolar Singapura saat menggelar Operasi Tangkap Tangan (OTT) di Semarang dan Jakarta pada Rabu, 21 September 2022. Uang itu diamankan dari kediaman PNS pada Kepaniteraan Mahkamah Agung (MA), Desy Yustria (DY).

Uang senilai 205 ribu dolar Singapua atau setara Rp2,17 miliar tersebut diduga merupakan suap terkait pengurusan upaya kasasi di MA atas putusan pailit Koperasi Simpan Pinjam Intidana. Uang 205 ribu dolar Singapura itu disinyalir disimpan oleh Desy dalam 'kotak ajaib' bertuliskan The New English Dictionary.

Setelah dilakukan gelar perkara, KPK kemudian menetapkan 10 orang sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait pengurusan perkara di Mahkamah Agung (MA). 10 orang tersebut yakni, Hakim Agung, Sudrajad Dimyati (SD); Hakim Yustisial sekaligus Panitera Pengganti MA, Elly Tri Pangestu (ETP).

Kemudian, empat PNS MA, Desy Yustria (DS), Muhajir Habibie (MH), Nurmanto Akmal (NA), dan Albasri (AB). Selanjutnya, dua Pengacara Yosep Parera (YP) dan Eko Suparno (ES). Terakhir, dua Debitur Koperasi Simpan Pinjam Intidana, Heryanto Tanaka (HT) dan Ivan Dwi Kusuma Sujanto (IDKS).

Baca Juga: Saatnya Anak Muda Bangkit Bersama untuk Indonesia Bersama Astra

Dalam kasus ini, Sudrajad, Elly, Desy Yustria, Muhajir Habibie, Nurmanto Akmal, dan Albasri diduga telah menerima sejumlah uang dari Heryanto Tanaka serta Ivan Dwi Kusuma Sujanto. Uang itu diserahkan Heryanto dan Ivan melalui Pengacaranya, Yosep dan Eko Suparno.

Sejumlah uang tersebut diduga terkait pengurusan upaya kasasi di MA atas putusan pailit Koperasi Simpan Pinjam Intidana. Adapun, total uang tunai yang diserahkan oleh Yosep Parera dan Eko Suparno terkait pengurusan perkara tersebut yakni sekira 202 ribu dolar Singapura atau setara Rp2,2 miliar.

Uang tersebut kemudian dibagi-bagi kepada hakim serta pegawai MA. Rinciannya, Desy Yustria mendapatkan jatah sebesar Rp250 juta; Muhajir Habibie sebesar Rp850 juta; Elly Tri Pangestu sebesar Rp100 juta; dan Sudrajad Dimyati sebesar Rp800 juta.

Sebagai pemberi suap, Heryanto, Yosep, Eko, dan Ivan Dwi disangkakan melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a atau b atau Pasal 13 atau Pasal 6 huruf a Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU Tipikor) Jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.

Sedangkan Sudrajad, Desy, Elly, Muhajir, Nurmanto Akmal, dan Albasri yang merupakan pihak penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 huruf c atau Pasal 12 huruf a atau b Jo Pasal 11 UU Tipikor Jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini