Share

G30SPKI: Ini Sejarah Singkat PKI, Awal Berdiri, Pemberontakan hingga Jadi Partai Terlarang

Ajeng Wirachmi, Litbang Okezone · Jum'at 30 September 2022 06:04 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 29 337 2677544 sejarah-singkat-pki-awal-berdiri-pemberontakan-hingga-jadi-partai-terlarang-30ySETwaTB.jpg Tuntutan agar PKI dibubarkan. (Foto: Dok Ist)

PARTAI Komunis Indonesia (PKI) pernah jadi partai besar dan eksis di dunia politik Indonesia. PKI menjadi salah satu dari lima partai yang paling banyak mendapatkan suara pada pemilu 1955.

Melansir buku bertajuk ‘Lahirnja PKI dan Perkembannja’, PKI merupakan sintesis dari gerakan buruh di Indonesia dan resmi berdiri pada tanggal 23 Mei 1920. Kehadiran PKI tidak lepas dari sejarah berdirinya ISDV (Indische Sociaal Democratische Partij) pada tahun 1913.

Tokoh yang pertama kali memperkenalkan komunisme di Indonesia adalah intelektual marxist asal Belanda, Josephus Fransiscus Marie Sneevliet. Ia datang ke Hindia Belanda pada 1913 dan langsung mendirikan ISDV. Sebelumnya, Sneevliet adalah petinggi persatuan buruh kereta api dan trem di Belanda tahun 1909.

Melalui ISDV, Sneevliet berhasil mempengaruhi kader-kader partai Sarekat Islam atau SI. Hal tersebut menyebabkan SI terpecah menjadi 2 kubu, yakni SI Merah dan SI Putih. 5 tahun setelah tiba di Hindia Belanda, pemerintah kolonial mengusir Sneevliet dan iapun terpaksa kembali ke negerinya.

Lantas, apakah kepergian Sneevliet menjadi pertanda komunis juga hengkang dari Tanah Air? Jawabannya adalah tidak. Kader terbaik ISDV seperti Dharsono dan Semaun langsung mengambil alih ISDV. Partai ini berganti nama menjadi Perserikatan Komunis Hindia Timur, baru kemudian menjadi PKI.

Baca juga: Jejak Komunis di Malang Sebelum Peristiwa Berdarah G30SPKI

PKI menjadi partai terlarang usai melakukan pemberontakan tahun 1926-1937 di Banten dan Silungkang. Para anggota PKI menyasar kediaman Asisten Wedana, Mas Wiriadikoesomo dan melumpuhkan polisi pengawalnya. Sementara, Mas Wiriadikoesomo beserta keluarganya dibawa ke Caringin.

Pihak lain yang juga diincar oleh para pemberontak adalah Mohammed Dahlan, seorang pegawai pemerintahan yang membocorkan rencana pemberontakan itu. Benyamis yang merupakan pegawai kereta api juga menjadi korbannya. Bahkan, jasad Benyamis dimutilasi dan dibuang.

Namun demikian, PKI bangkit lagi pasca kemerdekaan Indonesia. Sebab, pemerintah menerapkan pola multipartai per Oktober 1945, yang artinya partai politik diizinkan berdiri dan berlandaskan pada ideologi masing-masing.

Pemberontakan kedua PKI terjadi di Madiun pada 1945. Kali ini, PKI mendeklarasikan terbentuknya Republik Soviet Indonesia. TNI kala itu langsung bergerak cepat untuk menghentikan langkah PKI. Salah satu tokoh pentingnya, Muso akhirnya berhasil diringkus dan ditembak mati.

Baca Juga: Saatnya Anak Muda Bangkit Bersama untuk Indonesia Bersama Astra

Meskipun demikian, PKI tetap diizinkan berdiri di Indonesia. Puncaknya adalah, pemberontakan G30S atau gerakan 30 September pada 1965 yang menewaskan perwira dan para jenderal petinggi TNI AD. Usai peristiwa itu, seluruh petinggi dan anggota PKI, serta seluruh pihak yang terlibat pemberontakan diburu TNI. Para petingginya, seperti DN Aidit, Njoto dan MH Lukman dieksekusi mati. Pemerintah juga berhasil membubarkan PKI dan melarang partai itu berdiri lagi.

Melansir laman Hukum Online, pelarangan PKI tertuju pada konsiderans TAP MPRS XXV/MPRS/1996, yang berisi bahwa paham komunisme atau marxisme-leninisme bertentangan dengan Pancasila. Mereka yang memiliki paham komunisme/marxisme-leninisme, terutama PKI telah terbukti merobohkan kekuasaan pemerintah Indonesia yang sah dengan jalan kekerasan.

Maka dari itu, TAP MRS XXV/MPRS/1966 menetapkan bahwa PKI adalah organisasi terlarang di seluruh wilayah Indonesia. Setiap kegiatan di Tanah Air yang mengembangkan paham komunisme/marxisme-leninisme dalam segala bentuk, sangat dilarang untuk dilakukan.

*diolah dari berbagai sumber

Ajeng Wirachmi-Litbang MPI

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini