Share

Kisah Massa PKI Membabat Habis Hutan Adat Wonosadi yang Terkenal Angker

Erfan Erlin, iNews · Kamis 29 September 2022 17:09 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 29 337 2677529 kisah-massa-pki-membabat-habis-hutan-adat-wonosadi-yang-terkenal-angker-Mol6Idm4Yr.jpg Foto: MNC Portal

GUNUNGKIDUL- Hutan Adat Wonosadi di Ngawen Gunungkidul oleh masyarakat setempat terkenal angker. Karena adat setempat yang menganggap angker, membuat warga tidak ada yang berani menebang bahkan mengambil pohon yang telah mati di hutan ini.

Ketua Jagawana Hutan Adat Wonosadi Sri Hartini (52) mengatakan, hutan Wonosadi terletak di Dusun Duren dan Dusun Sidorejo Desa Beji Kecamatan Ngawen. Hutan ini terletak di perbukitan yang berbatu hitam, tanahnya merah kehitaman.

(Baca juga: Kisah DN Aidit Sebelum Dieksekusi: Kopi, Rokok dan Teriakan 'Hidup PKI')

Saat ini Hutan Wonosadi berstatus Hutan Adat, sebab di dalam hutan itu setiap setahun sekali diadakan Upacara Tradisional Sadranan. Upacara Sadranan itu dilaksanakan oleh masyarakat Desa Beji sudah beratus-ratus tahun dan belum pernah lowong.

Sekalipun pandemi Covid-19 mereka tetap melaksanakannya meski dengan skala lebih sederhana. "Sebelum tahun 1964, hutan Wonosadi lebat sekali," ujar dia beberapa waktu lalu.

Akibat ulah manusia, tahun 1964 sampai dengan 1966 hutan Wonosadi rusak kayu-kayu habis ditebang. Hanya menyisakan 4 pohon asem yang berada di tengah. Konon apa yang dilakukan oleh masyarakat yang tidak bertanggung jawab tersebut karena anjuran PKI. Sebab waktu itu Desa Beji dikuasai Pamong yang berpaham komunis.

"Nah tahun 1964 dan tahun 1966 disekitar Wonosadi terjadi banjir kerikil dan erosi. Sumber mata air mati, masyarakat bingung karena kekurangan air. Padahal ada musim kemarau atau ketigo. Sawah sawah rusak tertimbun kerikil. Petani pada musim kemarau tidak bisa menanam tanaman lagi," tandasnya.

Dalam dokumen yang ada di sekretariat Hutan Wonosadi, sempat dituliskan kerusakan akibat ulah PKI tersebut. Hutan seluas ada 23 ha. Macam tumbuh-tumbuhan kebanyakan tumbuhan langka, yang jarang terdapat di dusun-dusun.

Dokumen tersebut menyebutkan terjadinya sejak zaman dahulu, tetapi akibat olah politik PKI tehun 1965 hutan itu gundul kayunya habis ditebangi orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Dibiarkan saja oleh pemerintah waktu itu, sebab yang berkuasa pemerintah desa orang-orang PKI.

Setelah PKI hancur tahun 1965 perangkat Desa beji diganti total, tetapi Hutan Wonosadi sudah terlanjur gundul tinggal 4 batang kayu yang masih ada. Pada tahun 1966 Hutan Wonosadi dhijaukan kembali oleh masyarakat se Desa Beji dipimpin oleh Sudiyo selaku wakil dari tokoh masyarakat.

Kerjasama antara masyarakat dan pamong Desa akhirnya Hutan Wonosadi pulih kembali menjadi hutan lebat yang ditumbuhi bermacam-macam kayu. Sampai sekarang keamanan dan pelestariannya ditugaskan oleh Pemerintah Desa Beji kepada sekelompok Pemuda yang diketuai oleh Sudiyo.

Informasi yang dihimpun, saat terjadi pemberontakan PKI yang berhasil ditumpas oleh negara dan berujung dibubarkannya Partai Komunis Indonesia dan menjadi partai terlarang. Pamong Desa Beji diganti semua kecuali yang tidak berfaham komunis.

Namun asa bagi masyarakat Beji karena Hutan Wonosadi sudah terlanjur rusak berat di mana mana terjadi erosi tanah longsor, banjir kerikil, mata air mati, masyarakat menderita pertanian merosot total. Untuk memulihkan keadaan masyarakat hutan Wonosadi dan sekitarnya harus dipulihkan.

Follow Berita Okezone di Google News

Lurah yang baru mengadakan rapat desa dengan keputusan dan 1966 hutan Wonosadi harus pulihkan menjadi hutan kembali. Sudiyo ditunjuk oleh Lurah Desa supaya mengkordinir masyarakat Beji untuk membuat hutan kembali. Lalu dibuat panitia yang diketuai Sudiyo.

Kini hutan Wonosadi telah kembali lestari. Luas Hutan Wonosadi menjadi 23 Ha di mana hutan inti ada 18 ha dan hutan penjaga ada 5 hektare. Berbagai tumbuh-tumbuhan ada di hutan ini dan kebanyakan tumbuhan langka ada di hutan inti.

Lurah Beji Ngawen, Sri Idayanti ketika dikonfirmasi mengaku tidak mengetahui kebenaran cerita PKI pernah merusak hutan Wonosadi tersebut termasuk juga narasi yang ada dalam buku di sekretariat Hutan Adat Wonosadi. Ia beralasan baru menjabat lurah sekitar 3 tahun.

"Pas peristiwa G30S/PKI itu saya belum ada. Saya lahir 1977, jadi kalau ditanya cerita itu termasuk semua pamong diganti karena tersangkut peristiwa tersebut, saya tidak tahu. Saya malah baru tahu sekarang ini,"kata dia, Kamis (29/9/2022).

Sumarna, warga Dusun Duren yang mengetik naskah buku tersebut juga mengaku tidak mengetahui kebenaran cerita tentang PKI di wilayahnya termasuk pergantian seluruh pamong ketika jaman penumpasan PKI tahun 1965. Ia mengakui jika memang yang mengetik narasi tersebut adalah dia, namun berdasarkan cerita dan inisiasi dari Sudoyo waktu itu.

"Dulu kan saya ketua Karang Taruna terus sekolah di SMEA. Nah yang bisa mengetik manual itu hanya saya, jadi saya yang disuruh mengetik narasi itu berdasarkan cerita Mbah Sadiyo,"ujar dia.

Meski mengetiknya, namun Sumarno juga mengaku tidak mengetahui kepastiannya termasuk penggantian semua pamong Kalurahan karena tersangkut PKI.

Apalagi menurutnya, saat menyusun itu tidak ada konfirmasi siapa yang diberhentikan dan siapa yang menggantikannya. Sehingga saat ini ia sendiri menganggap tulisan tersebut adalah hoax.

Kendati demikian, sepanjang sepengetahuannya, ketika jaman geger PKI tahun 1965, di Kalurahan Beji pernah terjadi pergantian lurah sebanyak dua kali. Dan masing-masing hanya menjabat selama beberapa bulan saja. Ia tidak mengetahui apakah pergantian tersebut karena sangkut paut dengan PKI atau hanya mengisi kekosongan jabatan.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini