Share

Sosok Ade Irma Suryani Tameng Pelindung Jenderal Nasution saat G30SPKI

Putra Tangguh Salsabil, Okezone · Kamis 29 September 2022 15:57 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 29 337 2677512 sosok-ade-irma-suryani-tameng-pelindung-jenderal-nasution-saat-g30spki-FyRC7HIGgw.jpg Ade Irma Suryani dan Jenderal Nasution. (Foto: Youtube)

ADE Irma Suryani mengalami kejadian mencekam saat usianya baru 5 tahun. Putri bungsu Jenderal A.H. Nasution itu menjadi salah satu korban penembakan saat peristiwa G30SPKI.

Jenderal Nasution dan keluarganya saat itu berada di Menteng Jakarta Pusat pada 30 September 1965. Pasukan Cakrabirawa menyerbu dan akan menghabisi Jenderal Nasution.

Saat peristiwa itu terjadi, Ade Irma sedang tidur berrsama ayah dan ibunya, Jenderal Nasution dan Johana Soenarti.

Jenderal Nasution dan istrinya mendengar pergerakan di dalam rumah mereka. Johana meminta suaminya untuk kabur melalui dinding belakang dan dirinya membuka perlahan pintu agar tidak ketahuan pasukan yang sedang menyerbu.

Adik Jenderal Nasution, Mardiah segera menggendong Ade Irma untuk menyelamatkannya ke kamar lain. Sayangnya Mardiah salah membuka pintu dan mereka pun tertembak.

Baca juga: Kisah Tragis Brigjen Katamso dan Kolonel Sugiyono, Dikhianati Anak Buah hingga Tewas Dihantam Kunci Mortir

Tiga peluru pun bersarang di punggung Ade Irma. Johana langsung mengambil alih tubuh putrinya dan membawanya kepada sang suami.

Setelah itu, mereka melarikan Ade Irma ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto untuk mendapatkan pertolongan. Sesampainya di rumah sakit, Ade masih sadar dan disarankan oleh dokter untuk segera dioperasi.

Ade Irma menjalani perawatan selama 5 hari di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Pada dini hari tanggal 6 Oktober, Ade Irma Suryani meninggal dunia dan dimakamkan pada 7 Oktober 1965.

Baca Juga: Saatnya Anak Muda Bangkit Bersama untuk Indonesia Bersama Astra

Dirinya menjadi korban termuda pada saat peristiwa Gerakan 30 September. Karena hal itu pula Ade Irma diabadikan menjadi sebuah Tugu Monumen yang terletak di Kantor Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan dan menjadi nama sebuah jalan di beberapa tempat seperti Pekanbaru dan Riau.

Suasana yang terjadi pada saat itu tergambarkan dengan jelas pada diorama yang berada di Museum AH Nasution. Museum tersebut adalah saksi bisu peristiwa penyerangan yang menewaskan putri Jenderal Nasution.

Bentuk pengabdian ini dilakukan agar kita bisa melihat betapa kelamnya kejadian yang terjadi pada 30 September 1965 dan sosok anak Jenderal Nasution, Ade Irma Suryani yang menjadi korban penembakan.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini