Share

Tujuan Kudeta Berdarah di Balik Pemberontakan G30SPKI

Tim Litbang MPI, MNC Portal · Jum'at 30 September 2022 07:01 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 29 337 2677448 tujuan-kudeta-berdarah-di-balik-pemberontakan-g30spki-U53QDLGkXz.jpg Tangkapan layar film G30SPKI (Foto: Tangkapan layar)

JAKARTA - Peristiwa Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30SPKI) adalah bagian dari sejarah kelam Indonesia. Meskipun hampir 57 tahun berlalu, tragedi berdarah itu masih lekat dalam ingatan masyarakat Indonesia.

Pemberontakan yang terjadi pada 30 September 1965 tersebut telah menewaskan 7 perwira Angkatan Darat. Banyak teori bermunculan mengenai siapa tokoh utama dalam peristiwa ini, namun sejarah mencatat bahwa PKI-lah yang bertanggung jawab atas gerakan tersebut.

Eksistensi PKI sendiri sudah berlangsung cukup lama. Masa kejayaannya adalah ketika PKI berada di bawah kepemimpinan DN Aidit. Partai berhaluan kiri ini bahkan mampu mengambil hati rakyat Indonesia dan menjadi lima besar pada Pemilu 1955.

Lantas, apa yang membuat PKI melancarkan aksi pemberontakan G30SPKI?

Tujuan Gerakan 30 September 1965 

Usai pemberontakan di Madiun pada tahun 1948, PKI tidak kehilangan eksistensinya. Ambisi partai untuk menjadikan Indonesia sebagai negara komunis tetap berlanjut.

Adapun tujuan utama dari pemberontakan PKI adalah untuk merebut kekuasaan dari pemerintahan yang sah dan mengganti falsafah Pancasila dengan paham komunis.

Mengutip dari buku Sejarah Hukum Indonesia karya Sutan Remy Sjahdeini, dilansir oleh iNews, Gerakan 30 September yang dilakukan PKI bertujuan menggantikan ideologi Indonesia dan menjadikan Tanah Air sebagai negara komunis.

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

Sesuai dengan cita-cita partai, PKI berusaha menggulingkan pemerintahan Soekarno dalam rangka membentuk pemerintah komunis sebagai bentuk upaya dalam perwujudan masyarakat komunis.

Adapun pembunuhan 7 jenderal Angkatan Darat (AD) didasarkan atas konflik antara PKI dengan TNI AD. Permusuhan saat PKI mengusulkan pembentukan angkatan kelima selain TNI -AD, TNI-AU, TNI-AL, dan Polisi pada tahun 1965.

Usul ini tentunya ditolak oleh pihak militer, terutama TNI AD yang semakin memperkeruh hubungan keduanya. Oleh karena itu, untuk mengamankan posisi partai dalam pemerintahan, para simpatisan PKI berusaha menyingkirkan para petinggi Angkatan Darat dengan menculik dan membunuhnya.

Kronologi G30SPKI 

Tercatat, PKI setidaknya sudah melakukan 3 kali pemberontakan di Indonesia. Pemberontakan pertama dilakukan pada tahun 1926-1937, di mana para anggota PKI melakukan serangan di wilayah Banten dan Silungkang. Namun, pemberontakan ini dianggap sebagai salah satu upaya bangsa Indonesia dalam melawan kolonialisme Belanda.

Pemberontakan kedua dikenal sebagai Pemberontakan Madiun yang terjadi pada 1948. PKI yang saat itu dipimpin oleh Muso bercita-cita mendirikan Republik Soviet Indonesia, namun pemberontakan ini berhasil ditangani oleh Pemerintah Indonesia.

Usai tragedi berdarah tersebut, PKI kembali muncul pada 1950 dan menghimpun suara masyarakat Indonesia. Pengaruh PKI dalam kehidupan masyarakat terus meluas di kalangan buruh, petani, seniman, intelektual, hingga TNI. Konsep demokrasi terpimpin dan doktrin Nasakom yang diusung Soekarno membuat kekuatan PKI semakin besar. Hal ini dimanfaatkan oleh DN Aidit untuk menguasai catur politik Indonesia. 

Perebutan posisi dalam kekuasaan semakin memanas, terlebih lagi dengan tumbangnya Soekarno di tahun 1965. Soekarno yang jatuh sakit membuat Indonesia berada dalam kekosongan kekuasaan. 

Oleh karena itu, setiap golongan politik mempersiapkan segala upaya untuk tetap mempertahankan posisinya dalam ranah kekuasaan, tidak terkecuali PKI. Maka dari itu, PKI melakukan aksi pemberontakan untuk menyingkirkan musuh-musuh mereka dalam ranah politik.

Pemberontakan dimulai dengan aksi penculikan dan pembunuhan tujuh perwira AD yaitu Letjen Ahmad Yani, Letjen R Soeprapto, Mayjen MT Haryono, Mayjen S Parman, Brigjen DI Panjaitan, Brigjen Soetoyo Siswomiharjo, dan Lettu Pierre Andries Tendean. Pada 1 Oktober 1965, PKI juga berhasil menguasai studio RRI dan Kantor Pusat Telekomunikasi.

Melalui sebuah siaran, petinggi PKI Letkol Untung mengumumkan PKI ingin melakukan kudeta kepada pemerintahan Soekarno.

Menanggapi pemberontakan tersebut, pasukan TNI yang dipimpin oleh Mayor Jenderal Soeharto segera melakukan penumpasan kepada simpatisan dan petinggi PKI. Operasi penumpasan diawali dengan perebutan kembali Gedung RRI dan Kantor Pusat Telekomunikasi.

Sang Ketua PKI DN Aidit berhasil ditangkap pada 22 November 1965 di Solo, Jawa Tengah dan dieksekusi di Boyolali. Sementara itu, rekan-rekan lainnya yang terlibat dalam gerakan ditangkap dan ditahan. Beberapa bahkan dibuang ke Pulau Nusakambangan atau Pulau Buru.

Akhirnya, partai yang telah melewati sejarah panjang ini secara resmi dibubarkan pada masa pemerintahan Presiden Soeharto dengan pengeluaran Keputusan Presiden Nomor 1/3/1966 tentang pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI).

Mirsya Anandari Utami-Litbang MPI

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini